Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pa...

Jakarta adalah Jayakarta adalah Fathan Mubina adalah Kemenangan Paripurna




Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pajajaran. Meski kecil, Sunda Kelapa dikenal sebagai pelabuhan yang sibuk. Pelabuhan ini menjadi salah satu tempat barter dengan komoditas dagang saat itu, rempah-rempah. Selama berabad-abad, kota ini menjadi pusat perdagangan yang selalu ramai dikunjungi. Tak heran jika sekarang, Jakarta menjelma menjadi daerah dengan kepadatan penduduk yang luar biasa.

Usia Jakarta 491 tahun. Sebagai sebuah kota yang terbilang tidak muda, Jakarta tentunya memiliki segudang cerita. Salah satunya, ia kerap bergonta-ganti nama. Mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta seperti sekarang.


Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia

Sebelum dinamakan Jakarta, kota ini sendiri beberapa kali mengalami perubahan nama. Pertama, saat penaklukan oleh Fatahillah. Pada 22 Juni 1527 M Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah atau Falatehan bersama mertuanya Sjarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasil menduduki Sunda Kelapa.1 Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian dijadikan dasar ulang tahun kota Jakarta.

Selanjutnya, nama Jayakarta kembali berubah saat zaman penjajahan Belanda. Tahun 1619 M, melalui lembaga dagangnya, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), Belanda berhasil merebut Jayakarta. Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Di tangan Belanda wilayah Batavia menjadi semakin luas. 2

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Saat pendudukan Jepang ini, nama Batavia kembali diganti menjadi Djakarta.3 Hal ini dilakukan Jepang untuk menarik simpati penduduk Indonesia saat itu. Jakarta kemudian tetap digunakan hingga saat ini dan menjadi nama salah-satu kota metropolitan terbesar di dunia. Pada dasarnya, Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia dan Jakarta adalah  sama namun di bawah kekuasaan yang berbeda.


Jakarta  adalah Kemenangan Paripurna

Jakarta adalah kependekan dari Jayakarta. Ia berasal dari dua kata, jaya dan karta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jaya memiliki arti selalu berhasil, sukses, hebat. Sedangkan karta sendiri memiliki arti makmur, maju, ulung, sedang berkembang, sempurna.4 Bisa dibilang Jayakarta adalah keberhasilan yang ulung. Tapi, menurut Hoesein Djajadiningrat Jayakarta artinya kemenangan yang diraih.5 Melihat pengertian-pengertian itu, tak heran jika Jakarta juga sering disebut sebagai kota kemenangan.

Jayakarta atau Jakarta memang diraih dengan sebuah kemenangan. Seperti yang disebut di atas, Fatahillah melancarkan serangan ke Sunda Kelapa yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Setelah berhasil memukul mundur pasukan Pajajaran dari Sunda kelapa, datanglah bangsa Portugis. Kerajaan Pajajaran sebelumnya telah melakukan kerja sama dengan Portugis. Pasukan Portugis di bawah pimpinan Fransisco de Sa berhasil dipukul mundur oleh pasukan Fatahillah. Setelah ditaklukkan, Fatahillah mengumumkan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.6

Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan proses penggantian nama tersebut dalam sebuah paragraf di epos Arus Balik.

Di tengah-tengah pasukannya sendiri Fathillah (Fatahillah) mengugumkan: “Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Pengasih, pada hari ini dengan kekuatan yang dilimpahkan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi (Portugis) dari laut. Insya Allah mereka takkan menginjakkan kaki lagi di bumi kita ini. Sebagai peringatan atas peristiwa ini, aku nyatakan bandar ini berganti nama, dan menjadilah Jayakarta. Jaya pada awal dan kemudiannya, karta untuk selama-lamanya.” 7

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, Jayakarta yang diucapkan Fatahillah diangkat dari Al-Quran Surah Al-Fath ayat pertama, Inna Fatahna laka Fathan Mubina. Ayat itu memiliki arti sesungguhnya telah datang kepadamu kemenangan yang nyata. Sunda Kelapa yang ditaklukkan Fatahillah merupakan hasil kemenangan umat islam waktu itu. Dengan begitu, Jakarta tak lain dan tak bukan  adalah Jayakarta adalah Fathan Mubina adalah kemenangan yang paripurna.8


 Catatan:
1 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. 159.
6, 7 Lihat, Pramoedya Ananta Toer. 2002. Arus Balik. Hasta Mitra. Yogyakarta. Hlm 639-652.
8 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. Viii.

0 komentar: