Ilustrasi: Pixabay.com Namaku Maran, dan aku telah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang wanita tentunya. Aku sangat y...

Kiran dan Maran


Ilustrasi: Pixabay.com

Namaku Maran, dan aku telah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang wanita tentunya. Aku sangat yakin, sebab tak ada wanita yang membuatku begitu tak waras selain dirinya. Suaranya sering mendengung seperti ia benar-benar tepat berada di sampingku. Juga tatapannya yang malu-malu, pengantar tidur yang buatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Dan di pagi hari, tak ada candu yang lebih kuat selain harapan pesannya tiba-tiba muncul di ponsel menyapaku. Kata orang, yang kualami ini adalah cinta. Aku tak percaya awalnya. Tapi semakin aku mengelak, semakin aku meyakini apa yang orang-orang itu katakan. Namaku memang Maran, dan aku betul-betul telah jatuh cinta.

Namanya Kiran, dan aku  jatuh cinta kepadanya. Ia temanku, teman kuliahku tepatnya. Aku memanggilnya Ran, tapi sejak kutahu ia menyukai warna putih, aku sering mengganti panggilannya dengan warna itu. Ia melarangku sebetulnya. Katanya, panggilan itu justru mengejek dirinya yang hanya sawo matang. Tapi aku percaya ia tak serius, sebab tiap kali kupanggil dengan sebutan itu, tiap itu juga mukanya tiba-tiba memerah. Pun ketika camilan kesukaannya–cokelat–kuganti dengan yang putih, ia tak pernah betul-betul tersindir. Mukanya justru memerah lagi sambil tetap melahap cokelat putihnya. Dari dia, aku tahu bahwa terdapat kecacatan pada dirinya yang begitu indah, yang dititipkan Tuhan di wajahnya: lesung pipi. Namanya memang Kiran dan aku betul-betul jatuh cinta kepadanya.

Aku dan Kiran menjalin hubungan yang entah apa namanya. Hari ini adalah tepat 3 tahun setelah aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Waktu itu aku katakan bahwa aku berharap ia mau menjalin hubungan denganku, dan entah kenapa aku merasa sangat yakin juga bahwa ia adalah tulang rusukku yang hilang. Sayangnya, ia tak memberikan jawaban yang membuatku benar-benar yakin soal itu. “kita jalani saja,” katanya. Jawaban yang menggantung dan begitu membingungkan. Perihal perasaanya saja, aku ingat betul apa yang ia katakan. Katanya, aku berada di angka 7. Itu saja, dan itu perumpamaan yang amat menggelikan menurutku.

Tapi sejak itu, aku dan Kiran justru semakin dekat. Percakapanku dengannya lewat ponsel selalu hingga larut malam dan terkadang intim. Aku tak pernah mau menelepon sebab aku takut suatu waktu ponsel itu bisa meledak di telingaku karena kepanasan. Dari komunikasi seperti itu, aku banyak mengenalnya. Mulai dari makanan kesukaannya, lagu kesukaannya, hingga apa yang tidak ia suka. Aku bahkan semakin sering mengunjungi kontrakannya dan membawakan makanan kesukaannya. Jika aku datang dengan tangan kosong, ia sering menyuguhkan makanan dan minuman yang rasanya tak bisa kudeskripsikan. Aku pun sering membawakannya cokelat yang lebih senang kuberikan dengan cara kusembunyikan di suatu tempat di kamarnya. Sangat menyenangkan rasanya ketika tahu ia begitu bahagia setelah menemukan cokelat itu.  

Aku ingat betul wangi farfumnya. Aku ingat betul letak ranjang, lemari dan meja belajar di kamarnya Aku ingat betul bagaimana ia menyeterika kemejaku. Aku ingat betul ia minta tangannya ditiup ketika kepanasan kena seterika. Aku ingat hadiah ulang tahun yang diberikannya padaku, dan hadiah ulang tahun yang aku berikan kepadanya.  Dan aku pun ingat betul bagaimana tawa dan tepukan yang lembut di pundakku saat mendengar lelucon dariku. Aku juga ingat ketika suatu waktu aku mengajaknya menonton di sebuah bioskop di kota ini. Tangannya berada di kursi tepat di sampingku. Ingin rasanya aku memegannya erat dan berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Hanya saja itu tak pernah terjadi, aku selalu merasa bukan siapa-siapa.

Kiran sedari awal membawaku pada posisi yang dilematis. Aku pernah berkesimpulan bahwa ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi ketika itu aku lakukan, ia selalu hadir dengan membawa perasaan yang membuatku ragu. Dan ketika aku berkesimpulan bahwa ia tak benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku, ia justru hadir dengan membawa perasaan yang begitu membuatku yakin. Aku tak pernah tahu bagaimana persisnya perasannya kepadaku. Ia tak pernah mau mengatakan itu. Yang kulakukan hanya menebak dan itu terkadang sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Hari ini aku mendapat kabar bahwa ia dekat dengan seseorang. Aku memberanikan diri mengirim pesan untuk meminta penjelasan perihal itu kepadanya Tepat setelah 5 jam berlalu ia menjawab: dulu aku memang menyukaimu, tapi tidak lagi. Aku bersama orang lain sekarang. Seketika itu aku merenungi setiap detik-detik perjalanan bersama seorang wanita yang begitu aku cintai. Hari ini, cinta pertama itu berakhir. Dan di suatu tempat bersama kekasih barunya, Kiran akan tetap bahagia, sementara di tempat lain yang tak pernah di ketahuinya, Maran akan terpanggang tinggal rangka.

#15HariMenulis

0 komentar: