Ilustrasi: Pixabay.com "Nomor antrian B033, silakan menuju loket tujuh.” “Nomor antrian A006, silakan menuju loket satu.”...

Ruang Tunggu Kantor dan Terima Kasih yang Tidak Terucap

Ilustrasi: Pixabay.com



"Nomor antrian B033, silakan menuju loket tujuh.”
“Nomor antrian A006, silakan menuju loket satu.”
“Nomor antrian D008, silakan menuju loket help desk.”
Suara panggilan dari pengeras suara menyambut saya di sebuah kantor pagi itu. Pengunjung penuh sesak. Ada yang duduk di kursi, ada pula yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat. Mereka menunggu nomor antreannya disebut. Para pengantre terlihat mengalihkan diri dari kejenuhan menunggu; memainkan ponsel, mengecek berkas-berkas yang dibawa, bercakap-cakap dengan pengunjung disebelahnya, atau menonton siaran dari layar TV yang terpasang disalah satu sudut ruangan. Mereka juga sesekali mencocokkan nomor antrean dengan sebuah layar yang terpasang di sudut ruangan lainnya.
Petugas loket selalu terlibat percakapan serius dengan pengunjung yang gilirannya tiba untuk dilayani. Pandangan mereka sering berpindah-pindah, dari layar komputer yang tepat di depannya ke wajah pengunjung yang duduk berurusan dengannya. Begitu berkali-kali. Sesekali juga terdengar suara ketukan keyboard atau suara gerakan catridge print yang sedang bekerja, pertanda petugas loket ini sedang melaksanakan tugasnya. Ketika urusannya telah selesai, pengunjung bergegas meninggalkan loket, dan itu artinya, petugas loket bersiap menghadapi pengunjung dengan nomor antrean berikutnya.
Kantor itu sepertinya memang selalu sibuk disetiap senin pagi. Tapi, jika ada ruangan yang paling sibuk, maka ruang tunggu itulah jawabannya. Sebuah ruang tempat menunggu, yang disalah-satu titik langit-langitnya terdapat papan yang bertuliskan, “SEMUA JENIS PELAYANAN PAJAK TIDAK DIPUNGUT BIAYA.”
***
Fahd Alisman, begitulah nama lengkapnya. Setidaknya itu dengan mudah diketahui dari tulisan yang terbordir di dada sebelah kanan seragamnya. Bajunya yang berwarna  putih dan celana panjangnya yang berwarna biru tua, mungkin akan mengingatkan kita pada seragam SMP. Tapi, tali peluit yang melingkar di bahu kirinya dan sabuk dengan timang berwarna emas yang melingkar di pinggangnya, membuatnya berbeda. Terlebih di dada sebelah kiri seragamnya, tertulis: SATPAM. Jelas sudah, dia adalah salah satu bagian dari Satuan Pengamanan yang ada di ruang tunggu itu.
Dari semua kesibukan ruang tunggu pagi itu, Fahd bisa dibilang salah seorang yang paling sering berdiri, berjalan ataupun berlari. Seperti yang terlihat pagi itu, Fahd  menyambut pengunjung yang baru tiba, menanyakan keperluan mereka dan dengan senang hati menjelaskan berbagai macam prosedur yang ada. Lelaki berambut pendek itu, juga terlihat sering berada di depan sebuah mesin cetak otomatis, menekan salah sebuah tombol pada mesin itu, dan kemudian kertas kecil tercetak berisi nomer antrean. Fahd memberikannya kepada pengunjung, kemudian mempersilakannya menunggu. Kadang juga ada pengunjung yang meminta kursi. Fahd kemudian memenuhi permintaan mereka, mengambil kursi, kadang  diangkat, tapi lebih sering diseret, kemudian menyerahkan kursi itu kepada pengunjung. Kadang lagi, dia terlihat terlihat tegesa. sepertinya memenuhi perintah atasan. Dan semua aktivitas itu tidak bisa dilakukannya tanpa berdiri, berjalan, ataupun berlari kecil. Bisa jadi, satu-satunya kesempatan dia untuk duduk adalah pada waktu istirahat.
Saya yakin Fahd melakukan semua itu bukan hanya karena instruksi atasan, tetapi juga dengan dasar ketulusan hati. Dia mencoba melakukan pelayanan yang maksimal terhadap para pengunjung agar merasa nyaman. Bahkan ketika punya waktu yang agak kosong, dia tidak istirahat. Dia justru mengambil posisi kerja yang lain. Seperti waktu itu, kerjaannya yang tadi, diambil-alih oleh rekannya – Satpam juga tentunya. Fahd kemudian beralih ke pintu kaca–sebuah akses keluar-masuknya pengunjung pada kantor itu. Ketika terdapat pengunjung yang hendak masuk ke kantor, Fahd membukakan pintu sebagai isyarat selamat datang untuk mereka. Setelah masuk, Fahd kemudian menutup pintunya lagi. Begitu seterusnya. Begitu juga dengan pengunjung yang hendak keluar atau yang urusannya telah selesai, Fahd membukakan pintu dan menutupnya lagi ketika pengunjung telah keluar. Begitu juga seterusnya. Tapi sayangnya, ketika Fahd bekerja dengan seperti itu demi kenyamanan para pengunjung, dia justru kadang tak mendapatkan penghargaan, walau hanya sekadar ucapan atau  isyarat dari mimik wajah. Itu terlihat dari banyaknya pengunjung keluar-masuk yang hanya melewatinya, tanpa tersenyum, tanpa ucapan terima kasih.
***
Sadar atau tidak, terkadang kita tak memberikan apresiasi atas bantuan-bantuan kecil yang telah dilakukan orang lain kepada kita. Padahal jika kita balik situasinya, tentunya kita akan merasa bernilai ketika orang lain menghargai perbuatan baik kita. Pertanyannya kemudian, apa sulitnya melakukan hal yang sama itu kepada orang lain?

0 komentar: