Pada sebuah pertemuan di kelas menulis KEPO, saya disodorkan sebuah tugas: tuliskan benda yang paling kau suka atau benda yan...

Perihal Kamu dan Kisah Benda-Benda Kesukaan yang Bikin Bingung




Pada sebuah pertemuan di kelas menulis KEPO, saya disodorkan sebuah tugas: tuliskan benda yang paling kau suka atau benda yang paling kau benci. Kemudian, yang muncul pertama kali dibenak saya adalah benda yang saya suka. Satu-persatu benda kesukaan muncul di kepala saya, siap menjadi bahan tulisan. Awalnya saya berpikir ini akan berjalan mudah sebab ada beberapa opsi benda yang tersedia dan apa susahnya memilih satu diantara mereka
 Tapi semakin kesini, tugas ini seakan menjelma menjadi pertanyaan-pertanyaan filsafat: Siapa kamu? Dari mana datangnya dunia? Apakah manusia itu? Aduh, pertanyaan-pertanyaan semacam ini membikin puyeng. Terlihat mudah memang untuk dijawab, tapi nyatanya butuh waktu untuk berpikir keras agar mendapatkan jawabannya. Hal inilah yang  terjadi kepada saya ditugas menulis kali ini, dan itu artinya saya harus berpikir sedikit lebih keras. Sungguh perkara yang  menguras energi. Mungkin akan memakan lebih banyak kilokalori.
Pada tugas menulis kali ini, pertanyaan “apa benda yang paling saya suka”, tidak mendapatkan jawaban konkrit di kepala saya. Bahkan pertanyaan itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan lain: Apa itu suka? Apa bedanya suka dengan mau? Apakah benda yang kau suka sama dengan benda yang kau mau? Omegad, tambah ribet bukan! Sialnya lagi, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Saya kemudian mencoba mendefinisikan pengertian “benda paling disuka” ini, yaitu sebuah benda yang derajat kesukaannya paling tinggi diantara benda-benda lain. Sudah benar kan? Mohon dikoreksi jika salah. Lantas apakah setelah itu saya kemudian mendapatkan benda yang paling saya suka? Tidak. Tidak sama sekali.
Setelah menimbang-nimbang, saya kemudian mendapatkan beberapa benda kesukaan. Pertama saya memasukkan buku dalam list karena memang saya suka baca buku beberapa tahun belakangan ini. Saya juga suka HP dan dompet saya. Kedua benda selalu ada ketika saya keluar rumah. Sebuah selimut, jaket, motor, laptop dan masih ada beberapa benda lainnya termasuk juga kamu, iyaaa kaaamuuu. Dan kemudian setelah ini saya yakin kamu pasti akan marah karena  disamakan dengan benda? Iya kan? Iya kan? Ehh kenapa jadi kesana yah? Sudah sudah, lupakan saja! Kembali ke TKP, jadi yang mana diantara benda-benda di atas yang menjadi benda paling saya suka? Entahlah, saya tidak tahu. Saya bingung.
Mengenai benda kesukaan ini, sebetulnya saya percaya bahwa hal ini terkait dengan sesuatu yang ada dibalik benda tersebut. Kita menyukai sebuah benda sebab ada semacam cerita atau peristiwa, atau hal-hal lain yang menimbulkan kesan tersendiri pada benda itu. Adanya kesan itulah yang membuat kita jadi menyukainya dan kesan terbaiklah yang membuat benda itu berada di puncak kesukaan kita. Inilah yang nanti kita sebut sebagai benda yang paling kita suka. Iya kan?
Setelah kembali menimbang-nimbang, memutuskan dan menetapkan, saya akhirnya memperoleh beberapa benda yang cukup berkesan tersebut. Pertama adalah dompet saya. Dompet ini adalah salah satu benda yang hampir tak pernah saya lupa ketika bepergian selain HP. Dompet panjang itu adalah pemberian Atta (baca: Ibu) saya sebagai oleh-oleh ketika ia bepergian keluar kota beberapa tahun lalu, mungkin sekitar tujuh tahun yang lalu sewaktu saya masih SMA. Isinya, tentunya adalah uang – kalau saya sedang tidak kere, kartu-kartu identitas, kertas-kertas bukti transfer, bukti pembayaran SPP, dan berbagai kertas semacam itu menumpuk di dompet saya. Ada juga sebuah foto kedua orang tua saya yang berukuran kecil terselip di dalamnya. Sebagai anak rantau, foto itu menjadi salah satu penyemangat selama berada perantauan. Jika ada yang pernah menonton film Bollywood, Three Idiots, ide meletakkan foto di dompet tersebut, terinspirasi dari film itu. Pernah suatu waktu, dalam perantauan singkat saya di pulau Jawa, dompet itu terjatuh. Untungnya, warga yang memungutnya dengan baik hati mengembalikan dompet itu. Dompet itu akhirnya  masih menemani saya sampai hari ini.  
Pertanyaannya kemudian, apakah dengan kisah tersebut membuat dompet menjadi benda yang paling berkesan? Menjadi benda yang paling saya suka? Entahlah. Saya tidak tahu. Saya bingung.
Kalau begitu kita beralih ke benda berkesan berikutnya, yaitu buku. Seperti yang saya cerita di atas, beberapa tahun belakangan ini, saya memang suka membaca buku. Hal ini mungkin adalah akibat dari minat saya dalam menulis. Bukankah kedua hal itu memang berkorelasi? Dalam beberapa seminar kepenulisan yang pernah saya ikuti, pematerinya sudah sangat sering menyebut betapa pentingnya membaca. Dalam diskusi-dsikusi juga, saya sudah sangat sering mendapat wejangan untuk terus membaca. Bahkan Andaeng (baca: Ayah) saya sangat sering juga memberikan nasihat soal membaca ini, “bacalah apapun, karena pasti akan ada yang tertinggal walau hanya sedikit”. Seperti itulah kura-kura nasihatnya.
Saya pun akhirnya berusaha menjadi pembaca meskipun masih jauh dari kategori baik, Tapi  saya selalu berusaha terus membaca dan terus memperbaharui bacaan. Setidak-tidaknya akan selalu ada koleksi buku baru tiap satu atau dua bulan. Hingga akhir-akhir ini saya pun menyadari bahwa ternyata pakaian-pakaian saya, sendal saya, sepatu saya, tidak pernah lebih baru dari buku-buku itu. Buku-buku saya terus ter-upgrade, sendangkan benda yang membantu dalam penampilan, tetap begitu-begitu saja. Jadi jangan heran jika pakaian saya itu-itu saja, sepatu saya itu-itu saja, atau sendal saya pun itu-itu saja. Bukannya saya tidak punya uang, hanya saja subsidi yang saya peroleh dari orangtua, saya pilih untuk mengalokasikannya sedikit untuk belanja buku ketimbang belanja barang-barang itu.
Ada satu buku yang paling berkesan menurut saya. Buku itu judulnya Bumi Manusia yang ditulis oleh Pram. Seingat saya, buku itu adalah bacaan tebal keempat yang pernah saya selesaikan setelah kitab suci Al-Qur’an dan dua buku pemberian Andaeng saya, yaitu “Kisah 25 Nabi dan Rasul” dan “Panggil Aku King”. Buku Bumi Manusia itu sedikit banyak memberi saya semangat dalam hal baca-tulis. Kalau ada yang pernah membacanya, pasti tahu bahwa tokoh Mingke dalam kisah itu adalah seorang penulis. Pun demikian dengan Nyai Ontosoroh, yang meskipun dia adalah seorang gundik, tapi dia bisa dibilang pembaca buku yang akut. Dari kisah-kisah itulah saya mendapatkan semangat untuk terus menulis dan terus membaca. Kemudian setelahnya saya jadi tertarik membaca buku-buku Pram dan akhirnya menjadikannya sebagai penulis favorite saya.
Pertanyaannya lagi, apakah dengan kisah tersebut membuat buku menjadi benda yang paling berkesan? Menjadi benda yang paling saya suka? Entahlah. Saya masih tidak tahu. Saya masih bingung.
Jika demikian, kita beralih lagi. Benda berikutnya adalah Laptop saya. Komputer jinjing tersebut diberikan kepada saya semasa awal-awal saya masuk SMA. Bukannya saya gunakan untuk beajar, laptop itu justru saya pakai untuk bermain bermacam video game pada awalnya. Game bola macam PES, game perang macam Counter Strike, atau game strategy macam Stronghold, sudah pernah bersemayam dalam perangkat saya itu. Pernah juga suatu ketika saya dan teman saya membolos mata pelajaran dan menghabiskan waktu hanya untuk bermain game bola di laptop saya – yang ini jangan ditiru. Tapi seiring berjalannya waktu, kebiasaan bermain game itu perlahan berkurang. Fungsi laptop saya itu lebih banyak untuk mengerjakan berbagai macam tugas terlebih lagi pada saat saat menyandang status mahasiswa. Meskipun saat ini spare part-nya sudah banyak yang kalah, namun harus saya akui, bahwa laptop tersebut begitu berjasa menemani saya berproses hingga hari ini, termasuk dalam dunia kepenulisan.
Terus, apakah dengan kisah tersebut membuat Laptop menjadi benda yang paling berkesan? Menjadi benda yang paling saya suka? Entahlah. Saya tetap tidak tahu. Saya tetap bingung.
Ya sudah, kita ke benda terakhir: selimut. Ya, sebuah selimut yang mendekam di lemari pakaian saya. Selimut tersebut sebetulnya jarang saya gunakan. Sejujurnya saya lebih suka sarung ketimbang selimut. Satu-satunya selimut yang sering saya pakai adalah selimut bus-bus malam kelas eksekutif  kalau saya berangkat dari Mamuju ke Makassar ataupun sebaliknya. Alasannya? Apa lagi kalau bukan karena dingin. Makanya, selimut yang saya maksud tadi, sangat jarang saya gunakan. Seingat saya, selimut itu saya gunakan pada awal-awal saja saya mendapatkan selimut itu. Setelahnya, ia lebih banyak bersemayam di dalam lemari pakaian. Tapi yang bikin ia berkesan sebab selimut itu pemberian seorang yang begitu spesial. Tapi saya tak ingin berpanjang lebar soal ini, saya cuma mau pertegas kalau selimut itu memang berkesan. Itu saja. Titik!
Jadi, apakah dengan begitu membuat Selimut menjadi benda yang paling berkesan? Menjadi benda yang paling saya suka? Entahlah. Saya masih tidak tahu. Saya tetap masih bingung.

***

Kebingungan saya dalam memilih keempat benda di atas sebetulnya disebabkan karena saya merasa kesemuanya memiliki kesan yang layak untuk saya letakkan sebagai benda yang paling saya sukai. Ketika saya meletakkan salah satu benda di posisi teratas, saya merasa telah mendzolimi benda-benda yang lainnya itu, dan begitu seterusnya terhadap benda lainnya. Menurut saya, kadar kesukaan saya terhadap benda-benda itu, kadar kesan yang saya dapatkan dari benda-benda itu semuanya setara. Sampai hari ini, keempat benda itulah: dompet, buku, laptop dan selimut, yang merupakan benda paling berkesan, benda yang paling saya suka. Makanya ketika menghadapi pertanyaan benda apa yang paling saya suka, saya jadi bingung memilih salah satunya diantara mereka.
Dalam situasi kebingungan macam ini, sebetulnya menimbulkan pertanyaan lain di kepala saya: apakah situasi kebingungan seperti itu hanya saja saya yang rasakan atau juga dirasakan oleh orang lain? Entah kenapa kemudian  saya merasa yakin bahwa ada segelintir dari populasi umat manusia yang merasakan hal yang sama dengan saya. Seumpama saya bertemu mereka, saya berencana membuat perkumpulan yang akan saya namai Komunitas Manusia Bingung Memilih Benda yang Paling Ia Suka atau yang disingkat Kambing Manis. Kambing Manis nantinya akan sering kopdar dan saling membincangkan kebingungan soal benda yang paling disuka. Kemudian setelah perkumpulan ini besar, saya membayangkan kami akan diundang ke media-media seperti televisi untuk wawancara. Dan ketika ditanya soal benda yang paling saya suka, saya tak ragu akan menjawab: saya tidak tahu, saya bingung. Simple bukan?
Ketika terdapat anggota Kambing Manis yang telah menemukan benda yang paling ia suka, ya sudah mereka akan di tempatkan pada Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Kambing Manis. Mereka bisa menjadi pembicara mengenai kiat-kiat memilih benda yang paling disuka atau mereka dapat membuat buku mengenai 10 cara memilih benda yang paling disuka. Luar biasa bukan! Luar biasa ngawurnya! Hahaha.
Tapi terlepas dari kebingungan-kebingungan itu, yang membuat saya berpikir layaknya filsuf, yang membuat saya menciptakan kengawuran, yang membuat saya memiliki khayalan tingkat tinggi, satu hal yang tetap tidak membuat saya bingung, satu hal yang masih pasti: saya tetap masih suka kamu, meskipun saya tahu kamu suka orang lain.

Sudah itu saja!


~hym~
Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: