Dalam sebuah sajaknya Chairil Anwar menyebut dirinya si binatang jalang. Pengakuan yang pada saat itu sebetulnya menggebrak arus mainstre...

Belajar dari Chairil Anwar

Dalam sebuah sajaknya Chairil Anwar menyebut dirinya si binatang jalang. Pengakuan yang pada saat itu sebetulnya menggebrak arus mainstream dunia kepenyairan. Ketika kebanyakan penyair Indonesia menghadirkan kekitaan, Chairil justru datang menghembuskan tenaga keakuan. Rosihan Anwar bahkan mengatakan pernyataan itu sangat memalukan dan tidak ada yang mau menulis hal seperti itu (hal. 128). Tapi itulah Chairil, membawa kekuatan baru dalam dunia  kesusastraan Indonesia: Individualisme.
Kejalangan Charil sendiri memang tercermin dari gaya hidupnya yang bohemian. Tiba-tiba saja ia bisa datang ke tempat rekannya, menumpang makan, kemudian keluyuran lagi entah kemana. Terkadang juga menginap satu malam, lalu menghilang dimalam-malam berikutnya. Bahkan diakhir-akhir hidupnya, ia tak memiliki alamat tempat tinggal.
Jika seorang seniman identik dengan kebebasan, maka Chairil adalah potret seniman yang merepresentasikan hidup bebas yang sesungguhnya. Sapardi Djoko Damono bahkan menilai Chairil Anwar-lah yang memiliki seperangkat ciri seniman: tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan.
Gaya hidup seperti itu, bahkan tetap ia pertahankan ketika berumah tangga. Dengan kemampuan kepenyairannya, ia bisa saja berkarya untuk uang demi menafkahi anak-bininya. Tapi ia tak mau, ia tak bisa dipaksa mengarang untuk cari duit katanya. Kalaupun kemudian ada honor dari puisinya, justru ia gunakan membeli buku, bukannya beras (hal. 231). Hal inilah salah satu yang membawa kehidupan rumah tangganya remuk redam.
***
Begitulah sedikit gambaran hidup Chairil Anwar yang diramu dengan apik oleh Hasan Aspahani dalam buku  berjudul Chairil. Buku setebal 315 halaman tersebut membawa kita ke ruang-ruang kehidupan Chairil dari bocah hingga kekematiannya. Sebuah biografi yang menghadirkan cerita dibalik lahirnya sajak-sajak Chairil Anwar. Terasa memang, hidup Chairil sangatlah “liar”. Akan tetapi, harus diakui, jika bukan karena cara hidup demikian, kita mungkin tak akan pernah mengenal siapa Chairil Anwar hari ini: seorang penyair besar Indonesia, pelopor angkatan 45.
Terlepas dari kejalangannya, ada banyak hal yang sebetulnya bisa kita petik dari kehidupan Chairil Anwar. Chairil adalah seorang pembaca buku yang akut. Bacaan-bacaan penulis luar dilahapnya dan buku-buku filsafat tak pernah lepas dari hari-harinya (hal. xix). Bahkan demi menunjang kekutubukuaanya, ia tak segan untuk mencuri buku. Dikisahkan bahwa Chairil sering mengambil buku dari rak toko buku, menyembunyikan dibalik pakaiannya, kemudian melenggang bebas. Ia punya pembenaran sendiri soal ini; tak apa mencuri di toko milik Belanda sebab mereka pun  mencuri kekayaan dari negeri kita (hal. 146). Terdengar buruk memang dan tak patut dicontoh, akan tetapi kita bisa kesampingkan soal itu dan melihat dari sudut pandang lain bahwa Chairil rela melakukan apa saja demi melampiaskan hasrat membacanya yang tinggi.
Ditengah kenyataan bahwa minat baca Indonesia sangatlah rendah, sosok Chairil Anwar sangat pantas dijadikan representasi betapa pentingnya kebiasaan membaca. Kita tentunya sudah akrab dengan ungkapan “buku adalah jendela dunia”. Ungkapan yang sebetulnya memiliki makna bahwa dengan membaca buku maka dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Bahwa dengan membaca buku maka dapat memperluas cakrawala ilmu. Hal inilah yang terejawantahkan dalam diri seorang Chairil Anwar. Kekutubukuan Chairil Anwar patut ditiru oleh segala elemen masyarakat Indonesia.
Chairil juga adalah seorang penulis, penulis puisi tepatnya. Kemampuannya dalam meramu puisi diakui oleh banyak pihak. Lihat saja penggalan dari “Sajak Putih” ini: di hitam matamu kembang mawar dan melati/harum rambutmu mengalun bergelut senda.  Sebuah pengulangan bunyi konsonan M hingga delapan kali. Kata Hasan Aspahani, ini mungkin aliterasi, yang terpanjang dan terindah dalam sejarah puisi Indonesia (hal. 168). Bahkan dibagian lain, A.Teeuw, seorang ahli sastra Indonesia mengatakan sajak “kawanku dan aku” adalah masterpiece Chairil Anwar, sajak yang sungguh-sungguh sebuah karya seni (hal. 102). Kecerdasannya dalam menulis puisi ini, tentunya tidak hadir begitu saja. Chairil tentunya melewati lika-liku proses kepenulisan yang panjang. Seperti yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma, “engkau hanya bisa jadi penulis, setelah bisa jadi pembaca”, Chairil Anwar bisa dibilang telah menjadi seorang pembaca sehingga ia bisa menjadi seorang penulis yang andal.
Dalam diri seorang Chairil, juga tergambar banyak fragmen-fragmen hidup baik yang negative maupuun yang positif. Kita dituntut untuk bersikap bijak jika ingin mengambil pelajaran dari kehidupannya. Salah satu pelajaran yang bisa kita serap adalah bagaimana ia membaca dan menulis tersebut. Kemelekan literasi inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jika gemar membaca dan menulis dapat dijadikan budaya, maka niscaya kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia akan meningkat  pula.
Sayangnya takdir berkata lain, Chairil meninggal di usia 27 tahun. Dia bisa saja mencipta karya yang lebih besar dan lebih indah jika  berumur panjang. Tapi kematiannya adalah cerminan keberuntungan nasib yang ia dapatkan. Setidak-tidaknya itu menurut Soe Hok Gie: “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua”. Dan Chairil Anwar mati muda. Bukankah dia mendapat nasib kedua terbaik? Terima kasih penyair, namamu akan tetap hidup hingga seribu tahun lagi.


(Tulisan ini terbit pada kolom apresiasi Fajar edisi 18, Desember 2016)
~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: