Kepada kau yang terjerat; angin menghantam tali jiwamu disebuah persimpangan jalan. Ia tertiup tapi tak punah. Juga tersapu, tapi tak hilan...

Kepada yang Terjerat dan yang Tersimpan

Kepada kau yang terjerat; angin menghantam tali jiwamu disebuah persimpangan jalan. Ia tertiup tapi tak punah. Juga tersapu, tapi tak hilang. Kemudian perjumpaanmu dengan sang tunggal belum menyelamatkanmu dari pertanyaan. Begitupun tali jerat, jua belum menampakkan ujungnya.
Sementara itu, waktu memanggil-manggil akan kelamnya patahan. Nyala cahaya kembang kempis. Dan ruang-ruang, sedikit menampakkan celah. Atau bahkan tidak?
Katanya, kau ingin melihat lengkung mekar pada simpulnya, atau cekung pada kulit wajahnya. Tapi pertemuan dengan kepalamu menyisakan kusut. Terlebih pertemuan dengan potret, menyisakan takut.
Kau beresemayam tertutup, menjeratkan muka pada sang waktu, lalu kemudian menatap dan  meribah.
***
Kepada kau yang tersimpan; ingat ketika kemarin sebelum kemuning tertelan, bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu menyerang permukaan. Gelap-terang kemudian  mendayu, bercengkerama dengan waktu, hingga menyisakan beban-beban.
Kau bilang membenci huruf yang terhenti ketika menjatuhi jalanmu, atau putih yang menghitam ketika benderang. Itu kelam yang menghantu, bertunas-tunas menuju kegelapan. Ketakutan.
Kau kemudian menyimpan kenang. Kenang-kenangan seperti bunga menyimpan wangi sehabis masa. Atau juga rindu yang terus berjalan ke ujung jalan. Berisi dugaan. Kau pun  menyimpan pertanyaan. Seperti waktu itu, kau datang kemudian menghilang.
Dan Suatu waktu kalimat hadir dengan harapan tapi diwaktu lain sirna membawa rahasia yang tak berikan jawaban. Kau terdiam.
***
Kepada kau yang terjerat, sampai kapan kau kan tahan?
Dan kepada kau yang tersimpan, sampai kapan kau kan bungkam?


Gowa-Makassar,  Mei-Juli 2016


~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis


0 komentar: