Tiga sajak saya yang dimuat untuk pertama kali dimedia cetak. Sila dibaca harian fajar edisi 7 Agustus 2016 atau selengkapnya dibawah ini: *...

Minggu Bersejarah

Tiga sajak saya yang dimuat untuk pertama kali dimedia cetak. Sila dibaca harian fajar edisi 7 Agustus 2016 atau selengkapnya dibawah ini:

***

Serumah Semut

Gerombolan semut bersarang dikepalaku.
Pagi, mereka berpencar dan mencumbu kulit-kulitku.
Setelahnya mereka menjalar, menggaruk dan mengigit bulu kudukku.

Gerombolan semut bersarang dikepalaku.
Malam, mereka bersorak dan mengacaukan pikiranku.
Setelahnya mereka menyibak, merasuk dan merusak otakku.

Aku benci serumah semut sebab berdebat di sedihanku.
Aku benci serumah semut sebab menginjak air mataku.
Dan kubenci serumah semut sebab datang menggelitik dan menetap menyisa sakit.

Makassar, Juli 2016

***

Dibalik Jendela Kamar Tidur

Dikamar tidur, aku melihat dibalik jendela.
Aku mengumpat tangan yang merusak akal
padahal bangsat yang keluar adalah buah kotor dari semu yang menetap dikepalaku.
Menjadi pendiam yang menyesal berulang.
Menjadi pendendam yang membenci tangan.

Malam ini, pagi hampir jatuh dan kamar tidur tetap jadi temanku.
Jendelanya membawa dingin tapi aku menangkap angin.
Merasuk nalar.
Kuletakkan dibalik kertas yang berserakan hingga menjadi karunia Tuhan.

Kamar tidur menyimpan gelap.
Kusebut ia kesunyian yang mendekam.
Seringkali aku meracik senyum yang merangkap murung diwajahmu.
Juga membunuh buih hitam yang tumbuh dari kepalaku. Kemudian sunyi menghampa menjadi rindu yang juga benci dari lesung pipimu.

Kamar tidur menyimpan terang yang menyamar dari lampu bohlam.
Seperti senyum dari ibu-ayahku yang melesat dilangit-langit,
menerawang wajah-wajah nirwana.

Dikamar tidur aku gelisah.
Seonggok daging yang menunda-nunda.
Membuang sisa menjadi percuma.
Membuang masa pada tong sampah.
Aku membenci tubuhku yang menenggelamkan kata-kata.

Dan dikamar tidur aku kecewa,
dengan waktu yang menjadi pembeda.
Aku melihat kawanku cepat mencabut duri dengan tangannya.
Sementara aku, bermain dengan akarnya, mencabut tanda tanya.

Tapi, satu hal yang kusuka,
dikamar tidur aku melihat dibalik jendela: disana, aku ada.

Makassar, Juli 2016

***

Di Meja Makan

Di meja makan, serupa taman.
Tapi tak banyak orang.
Banyak kicauan, juga terkadang diam menghanyutkan, karena makanan.

Di meja makan. Serupa pertunjukan.
Banyak bunyi-bunyian. Termasuk masakan yang lebur oleh gigitan.
Di meja makan serupa taman hiburan. Wahana kursi goyang menaik turunkan. Kaki-kaki bersentuhan.

Di meja makan. Serupa pusat perbelanjaan.
Banyak makanan tapi tak semua bisa dimakan. Ada pantangan.

Di meja makan, serupa percintaan.
Banyak tatapan yang mengerling berkilatan.

Di meja makan, serupa lawakan.
Tertawaan yang lepas dan tertahan.

Di meja makan, serupa kenangan yang abadi dalam ingatan.

Dan aku temukan tempat terbaik memulai percakapan: di meja makan.

Makassar, Juli 2016

3 komentar:

  1. Jika berkenan, saya minta izin untuk mengopi tulisan ini untuk dimuat kembali ke blog koranmgp. Tidak lain supaya pembaca puisi Anda bisa lebih banyak dan bisa lebih diarsipkan. Tenang, karena nama penulis dan media yg memuat tulisan ini akan tetap dicantumkan. Saya tunggu konfirmasinya lewat email atau di balasan komentar ini. Terima kasih.

    MgP
    http://koranmgp.blogspot.co.id/2016/08/rubrik-budaya-koran-fajar-makassar.html

    BalasHapus
  2. Saya menulis maka saya ditemukan. Begitu mungkin kalimat untuk menjawab tulisan dari seniorku ini di SMANSA Mamuju dan di UINAM.
    Tabe' bacaki juga ini, http://koranmgp.blogspot.com/2016/11/membaca-budaya-fajar-edisi-7-agustus.html

    BalasHapus