Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu tugas wajib yang harus dilaksanakan sebagai seorang mahasiswa. Mereka diwajibkan mengabdi kepad...

Kenapa Mahasiswa Harus Ber-KKN?

Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu tugas wajib yang harus dilaksanakan sebagai seorang mahasiswa. Mereka diwajibkan mengabdi kepada masyarakat, mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiranya hanya untuk berkontribusi dalam masyarakat. KKN menjadi tempat untuk menerapkan ilmu yang telah didapat dari bangku perkuliahan, membagikannya kepada masyarakat sehingga dapat mengembangkan potensi daerah yang bersangkutan. KKN dibebebankan Satuan Kredit Semester (SKS) yang cukup tinggi dan menjadi salah satu syarat penting yang harus dilalui untuk dapat melewati jenjang sarjana. Untuk itulah, mahasiswa harus melaksanakannnya sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi: Pengabdian.
Ini mungkin terdengar formal dan tidak mengasyikkan. Membayangkan harus berada di sebuah desa selama kurang lebih dua bulan, yang bisa jadi tak ada sinyal maupun listrik, dan hanya untuk sebuah nilai yang tertera di sertifikat? Aduh,  mungkin membuat beberapa orang akan berfikir keras. Tapi sabar, KKN sebenarnya tak melulu soal ketidaknyamanan ataupun kepentingan akademik semata, ia menyimpan banyak cerita dan pembelajaran yang tak hanya berguna bagi si mahasiswa di dunia kampus, namun juga  bagi dunia yang sesungguhnya, yakni kehidupan. Berikut beberapa alasan kenapa mahasiswa harus ber-KKN dan berfikir ulang untuk tak melewatkannya. Mari disimak ….
Mengasah Kemampuan Bersosialisasi
Katanya, jika ingin mengetahui KKN itu berhasil atau tidak, lihat pada saat perpisahannya. Jika masyarakatnya mewek-mewek sampai air matanya berlinang-linang, maka berhasillah KKN itu. Tapi kalau tidak ada cucuran air mata sama sekali, itu artinya gatot alias gagal total. Tentunya agak berlebihan, air mata kok dipakai sebagai indikator keberhasilan? Kan Aneh.  Tapi sebetulnya ada benarnya juga, sebab itu menandakan bahwa mahasiswa telah berhasil menjalin ikatan sosial dengan masyarakat.
Sebagai generasi pengontrol, sudah seharusnya mahasiswa mampu untuk bersosialisasi dengan baik. Tidak hanya di dunia kampus, namun juga dalam kehidupan bermasyarakat. KKN menjadi wadah untuk mengasah kemampuan bersosialisasi tersebut. Bayangkan saja, mahasiswa ditempatkan di sebuah desa dan bertempat tinggal di rumah warga atau pejabat desa setempat yang mereka tak kenal sama sekali. Dan mereka harus mengabdi dalam jangka waktu yang cukup lama, yakni  kurang lebih selama dua bulan. Sangat aneh rasanya jika tak terjadi sosialisasi sama sekali. Paling tidak tercipta keakraban dengan sang pemilik rumah karena kebersamaan yang terjalin. Belum lagi dengan berbagai Program Kerja (Proker) yang ada, tentunya menuntut mahasiswa bersinggungan langsung dengan masyarakat. Nah, disinilah kemampuan sosialisasi itu akan terasah karena mahasiswa akan berbaur dan menciptakan keakraban dengan warga setempat.
Memahami Berbagai Karakter
Dibeberapa universitas, KKN dilaksanakan lintas fakultas. Artinya kelompok KKN yang ditempatkan disebuah desa, terdiri dari mahasiswa yang berasal dari fakultas yang berbeda. Ini memungkinkan bertemunya individu-individu yang tak saling mengenal satu sama lain. Ada yang penyabar, cerewet, pendiam ataupun pemarah. Kondisi demikian menuntut mahasiswa untuk mampu beradaptasi dengan berbagai isi kepala.  
Bertemunya berbagai karakter tersebut bisa jadi akan sangat menjengkelkan sebab terkadang menimbulkan konflik. Yang penyabar mungkin tak menyukai yang cerewet atau yang sukanya perintah-perintah mungkin tak disukai sama yang pemalas. Tapi disanalah letak pembelajarannya, mahasiswa dituntut untuk bagaimana berprilaku dan memahami sifat-sifat temannya. Hal inilah yang akan membuat individu semakin matang tak hanya sebagai mahasiswa tetapi juga sebagai manusia.
Memperdalam Kemampuan Berorganisasi
Di kampus, para mahasiwa mungkin sudah sangat sering bergelut dengan dunia organisasi. Membuat berbagai event, rapat-rapat ataupun segala hal menyangkut organisasi kemahasiswaan menjadi hal yang biasa. Namun KKN memberikan sebuah warna berbeda dalam  mengorganisasikan sesuatu. Keterlibatan masyarakat adalah titik pembedanya. Kegiatan-kegiatan seperti kerja bakti, pelatihan-pelatihan, ataupun pembentukan lembaga yang ada didesa, sangatlah membutuhkan keterlibatan nyata dari masyarakat. Karena itulah mahasiswa dituntut untuk mampu berkordinasi baik dengan masyarakat setempat.
Pun proker-proker, memang ditujukan untuk kepentingan masyarakat. Untuk itu, idealnya, keterlibatan langsung mereka dibutuhkan untuk merealisasikan proker tersebut. KKN akan menambah pengalaman mahasiswa dalam hal mengorganisir Sumber Daya Manusia yang ada.
Belajar Tentang Kehidupan
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap waktu adalah pelajaran”. Dan KKN, adalah sekolah tentang kehidupan, guru tentang kehidupan dan pelajaran tentang kehidupan. Sebagian ilmu tentang kehidupan memang ada di KKN. Suatu waktu mahasiswa mungkin akan melihat kakek tua memikul hasil panen dari kebunnya, atau diwaktu yang lain, sedang mengarahkan kerbau perliharannya. Kau mungkin akan merenung betapa sulitnya mencari uang. Belum lagi  jika terjun langsung dalam proses memanen padi atau menanam jagung misalnya, itu akan membuat mahasiswa mengerti betapa melelahkannya bekerja hanya untuk sesuap nasi.
Tempat Mencari Jodoh (Hanya Anekdot)
Desa adalah surganya untuk menemukan wanita-wanita cantik. Cantiknya pun beda Alami tanpa embel-embel. Beda sama yang dikota, terkadang cantiknya dibuat-buat. Mana ada istilah bunga kota? Yang ada itu bunga desa. Iya kan.  Karena alasan itulah KKN menjadi ajang untuk mencari si bunga-bunga desa ini. Kata pepatah, sambil menyelam minum air. Sambil kuliah, sambil lirik-lirik, siapa tau jodoh. Yah kalau bukan bunga desa, paling tidak anak pak Desa. Kan lumayan ….
Untuk alasan ini sebenarnya lebih ditujukan kepada para lelaki karena dialah yang sering lirik sana-sini. Tapi bukan berarti mahasiswi tidak punya tempat, mereka juga memliki ruang gerak yang setara. Kalau pemuda desa tidak bisa didapatkan, yah mentok-mentok teman satu posko dapat dibawa pulang sebagai gebetan.
Mungkin hal diatas terdengar seperti semacam lelucon, tapi banyak fakta telah membuktikannya. Banyak cerita-cerita yang mengatakan bahwa ada beberapa mahasiswa meninggalkan perasaannya di desa tempat dia ber-KKN. Bahkan tak jarang sampai ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. Makanya KKN  sebetulnya bukan hanya soal mengabdi, tapi juga soal mencari. Mencari Jodoh.
***

Itu dia beberapa alasan kenapa mahasiswa seharusnya ber-KKN dan seharusnya menunggu-nunggu momen tersebut. Alasan diatas sangatlah subjektif  tapi terlepas dari hal itu, semoga bisa memberikan gambaran betapa sangat bermanfaatnya ber-KKN. Bagi sebagian mahasiswa, KKN mungkin hanya sebatas formalitas. Tapi bagi sebagian yang lain,  yang menikmati proses ber-KKN nya, pasti tak akan ragu untuk mengatakan bahwa KKN adalah salah satu momen terindah selama perjalanannya menyandang status mahasiswa. Untuk itu, kalian mahasiswa yang belum ber-KKN, persiapkanlah dengan matang menyambut momen terindah kalian.

~hym~
*penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: