Saya bukannya tidak suka kopi. Minuman hitam itu memiliki aroma yang khas. Nikmat. Saya suka. Suatu kali saya meminumnya dan eng ing eng, te...

Belajar Minum Kopi

Saya bukannya tidak suka kopi. Minuman hitam itu memiliki aroma yang khas. Nikmat. Saya suka. Suatu kali saya meminumnya dan eng ing eng, terjadilah hal yang tak diinginkan. Sesuatu yang aneh terjadi pada perut saya. Ingin Buang hajat? Bukan. Rasanya seperti cekut cekut. Cekut cekut. Kayak ditonjokin tison. Dan sejak itu saya jadi trauma meminum minuman itu. Kata banyak orang itu maag. Ahh Moso sih maag? Moso kayak di hajar tison? Saya pikir kayak ditonjokin kamu. Iyaaa kamu... Ehh maap. 

Sejak hari itu saya jadi berpikir dua kali jika ingin meminum kopi. Saat bertamu misalnya, jika yang disuguhkan kopi, saya terkadang tidak meminumnya. Atau diwarko-pwarkop, saya selalu tak memesan kopi meski ingin meminumnya. Kadang-hidup memang seperti itu barangkali, penuh kekhawatiran. Termasuk khawatir kehilanganmu. Ehh lagi. Maap lagi.

Tapi Kata sudjiwotedjo, kekhawatiran itu sebuah sikap yang salah. Ia bisa diposisikan Menghina Tuhan kok bisa? Katanya begini, menghina Tuhan itu tak mesti dengan menginjak-injak kitab sucinya. Khawatir tidak bisa makan besok, itu sudah menghina Tuhan. Khawatir tidak dapat jodoh, itu sudah menghina Tuhan. Khawatir tidak ada rezeki, itu sudah menghina Tuhan. Aduh, jadi saya sudah menghina Tuhan ya dengan kekhawatiran2 saya? Aduh maap Mbah, lain kali saya nda ulang. Makanya ini, saya mau belajar minum kopi. Ampuni hambamu yang hina ini ya Allah ..... 

Sebetulnya saya tidak yakin juga soal maag tadi. Soalnya, kadang-kadang juga tidak terjadi apa-apa ketika saya memimun kopi. Seperti beberapa waktu lalu, saya minum kopi lagi, di warkop tepatnya. Itupun karena terpaksa. Awalnya saya pesan minuman dingin, tapi karena kosong, entah kenapa saya jadi spontan pesan kopi. Dan kopi yang saya minum ini konon bukan sembarang kopi. Kata om saya, kalau meminumnya bisa-bisa susah tidur. Tapi toh yang terjadi malah sebaliknya. Saya malah bisa tidur pulas setelah itu. Dan perut saya? Aman-aman saja. Seingat saya tak ada kopi yang membuat saya sulit tidur kecuali kopimix. Dan itu terjadi bertahun tahun yang lalu sebelum rasa aneh muncul diperut saya. 

Sepertinya saya harus mepelajarinya memang. Minum teratur tiap hari sampai dapat jawaban, masalahnya sebenarnya dimana. Diperut, di teguk, atau di kamu. Ehh maap lagi. Ngomong-ngomong ada yang jual akua? Saya selalu kehilangan konsentrasi ketika membahas dia. Iyaaa diaaa. Itukan, bgitu lagi. Sudah ... Sudah .... Lupakan.  

Selama ini saya terbiasa mengonsumsi susu atau teh. Keduanya adem ayem diperut saya. Padahal untuk sebagian anak muda kedua minuman itu dianggap minumannya anak-anak. Tak befilosofi. Kopi katanya berbeda, memiliki filosofi tinggi. "Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan", itu kata Dee. Keren kan. 

Tapi menurut saya, baik kopi, susu, ataupun teh, semuanya setara. Semuanya memiliki makna, manfaaat dan nilai masing-masing. Meskipun sebenarnya kopi sedikit berbeda soal cara minumnya. Kalau saya minum teh atau susu, biasanya satudua kali teguk, gelasnya langsung jebol. Untuk kopi, mana pernah saya seperti itu. Harus seteguk demi seteguk. Istilah kerennya seruput. Aromanya dihirup, lalu diminum sedikit demi sedikit. Tak heran jika banyak pemikir memilih kopi sebagai kawannya berdialektika. Minuman itu memang pas untuk berfikir. Tapi bukan karena ingin mencari sisi pahit atau ingin jadi pemikir sehingga saya ingin minum kopi. Bukan. Saya cuma mau minum. Bahasa Arabnya, lagi kepengen. Itu saja. Hidup itu kan pilihan, termasuk soal minuman. Asalkan tak melanggar hukum. Kan sederhanyan begitu Dinda. 

Tapi bukannya tanpa pengaruh saya jadi ingin minum kopi. Banyak orangorang yang mempengaruhi saya. Salah satunya dennysiregar. Penulis buku "Tuhan dalam secangkir kopi" ini sedikit banyak menggoda saya dengan tulisan-tulisannya. Pengaruh orangtua pun demikian. Andaeng (bapak) saya sangat sering berkata "macoa tu'u kopi, Pauli" (bagus sebenarnya itu kopi, Obat). Aduh sepertinya kopi memang menjadi minuman istimewa. Sampai suatu ketika saya mendengar Aan Mansyur berkata "Kopi adalah puisi yang dapat diminum". Dan aku terpukau. Aduh sebegitu puitiskah si kopi itu? 

Kalau begitu mari meminum kopi. Meminum obat, meminum puisi. 

~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

2 komentar:

  1. Sebagai seorang penikmat kopi, kopi menjadi wajib dan sebenarnya hal yang menarik dari kopi adalah wangi khasnya, kopi hitam asli yang pekat dengan gula 2 sendok adalah formula dahsyat. Hitam pekatnya, wanginya, dan ketika di seruput, rasanya pun rileks.

    Tak lengkap rasanya jika menulis dan tak ada kopi.

    BalasHapus
  2. Yukk, mari minum kopi ....

    BalasHapus