Mappatammaq di Mandar Mandar sebagai salah satu etnis yang ada di Sulawesi, banyak menyimpan tradisi yang tetap di pertahankan hingga sa...

Sayyang Pattuqduq, Manifestasi Islam Ramah Dari Tanah Mandar

Mappatammaq di Mandar
Mandar sebagai salah satu etnis yang ada di Sulawesi, banyak menyimpan tradisi yang tetap di pertahankan hingga saat ini. Tradisi-tradisi tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, diantaranya kelautan, keagamaan, serta sosial dan kemasyarakatan. Salah satu yang masih eksis hingga sekarang adalah tradisi khatam Al-Quran, atau dalam istilah lokal, orang Mandar biasa menyebutnya Mappatammaq.
Mappatammaq adalah perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Mandar terhadap putera-puteri mereka yang telah tamat mengaji. Anak-anak perempuan akan didandan cantik menggunakan pakaian muslimah sementara anak lelaki akan didandani dengan busana Arab. Kemudian mereka akan diarak dan diperontontonkan di hadapan warga kampung. Perayaan ini biasanya dilakukan pada bulan kelahiran Rasulullah, yakni Rabiul Awal.
Sepintas mungkin terdengar sama dengan perayaan serupa dibeberapa daerah lain di Indonesia, namun di tanah Mandar, perayaan khatam Al-Quran dikemas unik dan sedikit berbeda. Jika ditempat lain biasanya arak-arakan hanya dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan seperti becak, maka di Mandar, arak-arakan dilakukan dengan menggunakan Kuda. Hewan berkaki empat itu, didandani dengan aksesoris mencolok dan kemudian anak-anak yang telah khatam Al-Quran, dinaikkan ke kuda dan dibawa berkeliling.
Sedikit gambaran, pada umunya yang duduk di kuda dalam tradisi ini adalah anak yang baru tamat Al-Quran atau biasa disebut To Tammaq (orang tamat). Baik anak perempuan maupun anak laki-laki akan berada di kudanya masing-masing. Bedanya, untuk anak perempuan akan didampingi oleh wanita dewasa berparas cantik yang biasanya berasal dari kerabat To Tammaq sendiri. Wanita itu kemudian akan didandan dengan pakaian adat Mandar dan duduk tepat berada didepan To Tammaq. Dia jugalah yang menjadi objek Kalindaqdaq (pantun khas Mandar) yang dibacakan oleh Pakkalindaqdaq (pembaca Kalindaqdaq). Sedangkan untuk To Tammaq laki-laki, biasanya hanya seorang diri berada di kuda atau paling tidak ditemani To Tammaq laki-laki lainnya. Sementara itu, terdapat juga Pesarung, pengawal yang biasanya berjumlah empat orang lelaki yang berada di sisi kiri dan kanan kuda. Mereka inilah yang akan menjaga keseimbangan para penunggang kuda. Ada juga Parrawana (pemain rebana) yang memainkan rebananya dengan energik sehingga mampu menghidupkan suasana. Kesemuanya merupakan unsur-unsur pendukung dari prosesi Mappatammaq di Mandar.
Namun ada satu yang membuat special tradisi ini, kuda yang digunakan adalah kuda yang memiliki kemampuan untuk menari. Kuda tersebut dapat berjingkrak-jingkrak sepanjang perjalanan. Dengan tabuhan dari Parrawana, kuda itu kemudian dapat memain-mainkan kakinya dan mengangguk-anggukkan kepalanya bak seorang penari yang mengikuti iringan musik. Inilah yang disebut sebagai Sayyang Pattuqduq, sang kuda menari dari tanah Mandar.

Sayyang Pattuqduq: Relasi Antara Islam dan Budaya
Asal kata Sayyang Pattuqduq sendiri terdiri dari dua, yakni Sayyang yang berarti kuda dan Pattuqduq yang bermakna menari. Jadi secara harfiah, Sayyang Pattuqduq bermakna kuda yang menari-nari. Menari yang dimaksud disini adalah kuda tersebut dapat mengangkat-angkat kaki depannya secara bergantian serta mampu menaik-turunkan kepalanya. Inilah hal unik, beda dan sekaligus membuat menarik dalam setiap pergelaran Mappatammaq.
Sayyang pattuqduq menjadi  salah satu bagian terpenting dalam prosesi khatam Al-Quran di Mandar. Meskipun banyak unsur pendukung lainnya, seperti Parrawana dan Pakkalindaqdaq, namun kehadiran Sayyang Pattuqduq bisa dibilang menjadi ikon dalam perayaan tersebut. Tak salah memang jika Sayyang Pattuqduq sering di perkenalkan ke ranah nasional karena keunikannya itu. Bahkan Sayyang Pattuqduq ini pernah menjadi yang terbaik dalam pawai budaya nusantara mewakili Sulawesi Barat.
Tak ada yang tahu persis sebenarnya sejak kapan tradisi Arak-arakan dengan menggunakan Sayyang Pattuqduq ini di mulai di Mandar. Ada banyak versi cerita mengenai hal tersebut. Versi pertama, ada yang mengatakan bahwa tradisi ini bermula pada masa raja Balanipa ke-IV Mandar. Saat itu, Maraqdia (raja), yakni Kanna Patta Daetta Tommuane pergi bersama isteri dan puterinya menunggangi kuda. Kuda itu kemudian menari saat mendengar kandangnya dipukul. Saat itu juga, sang Maraqdia melantunkan Kalindaqdaq. Setelah kejadian tersebut, Maraqdia berkata kepada puterinya “Belajarlah mengaji nak, kalau engkau tamat mengaji, saya akan naikkan kamu ke atas kuda Pattuqduq, dan saya akan membawamu keliling kampung”.
Cerita ini memperlihatkan bahwa tradisi Sayyang Pattuqduq sebenarnyua adalah sebuah bentuk motivasi agar anak-anak mau belajar agama khususnya Al-Quran. Iming-iming untuk menunggangi Sayyang Pattuqduq menjadi dorongan yang menggiurkan bagi sang anak. Belum lagi mereka juga akan diarak keliling kampung, tentunya mereka akan semakin senang. Metode mendidik seperti inilah yang akan membuat anak semakin semangat untuk belajar.
Versi lainnya, kembali pada masa raja Balanipa ke-IV. Pada saat itu islam mulai masuk dan ada sebuah kebiasaan raja yang suka menyambut tamunya dengan mempersembahkan tarian yang dilakukan oleh wanita-wanita cantik Mandar. Kemudian ulama pada saat itu tidak menyukainya karena meganggap kebiasaan tersebut tidak menghargai wanita. Maka dari itu mereka membuat suatu perayaan menunggang kuda agar ada alasan untuk tidak menerima panggilan kerajaan untuk menghibur tamu tersebut. Alasan dipilihnya kuda, karena kuda adalah alat transportaasi utama pada saat itu.
Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa tradisi ini bermula ketika ada sebuah kebiasaan dari kerajaan Balanipa dimana apabila kondisi daerah kerajaan terdapat banyak musibah, maka akan diarak wanita-wanita cantik berbaju merah dengan kuda berkeliling kampung. Ini merupakan tradisi untuk memperingati kedukaan pada saat itu. Kemudian pada saat islam masuk, tradisi tersebut diubah menjadi arak-arakan suka cita. Anak-anak yang tamat mengaji akan diarak menggunakan kuda.
Kedua versi ini menggambarkan bagaimana para ulama terdahulu memanfaatkan Sayyang Pattuqduq sebagai sarana untuk memperkenalkan islam. Mereka berusaha memasukkan nilai-nilai ajaran islam kedalam sebuah tradisi yang sebenarnya tidak islami. Islam kemudian semakin berkembang tetapi tidak menggusur tradisi Mandar, termasuk Sayyang Pattuqduq. Berkat cara dakwah seperti itu, islam diterima dengan sangat baik ditanah mandar.
Namun, terlepas dari  berbagai versi yang melatarbelakangi tradisi Sayyang Pattuqduq, satu hal yang seharusnya dipahami bahwa tradisi ini sangatlah berkaitan dengan penyebaran islam di tanah mandar. Nilai-nilai yang betentangan, disingkirkan dan diganti dengan sesuatu  yang sesuai dengan nilai-nilai islam. Islam kemudian semakin eksis dan Sayyang Pattuqduq tetap bertahan. Asosiasi antara islam dan budaya Mandar ini, akhirnya mengahasilkan sebuah tradisi yang tetap bertahan hingga saat ini.
Kalau kita cermati lebih dalam, ini serupa dengan konsep Islam Nusantara yang belakangan menjadi isu hangat umat islam di Indonesia. Konsep tersebut menyatakan bahwa islam sebagai penyempurna, hadir tanpa menggusur budaya dan tradisi yang ada. Bahwa islam datang untuk mencari titik temu diantara keduanya sehingga tak ada yang hilang dan tak ada yang menghilangkan. Relasi antara islam dan budaya menunjukkan hakikat islam yang sesungguhnya yakni agama yang Rahmatan ‘Lil Alamin.
Konsep Islam Nusantara memang baru popular akhir-akhir ini, tetapi Mandar telah menerapkannya sudah sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Di tanah Mandar, Islam Nusantara bukan lagi terhampar pada tataran konsep, akan tetapi sudah terwujud dalam sebuah tindakan dalam diri Sayyang Pattuqduq.

Sayyang Pattuqduq: Wujud Nyata Islam Ramah dari Tanah Mandar
Islam adalah agama Rahmatan ‘Lil Alamin (rahmat bagi semesta), yang membawa kebaikan bagi seluruh makhluk di alam semesta ini. Namun yang terjadi sekarang, banyak yang tak memahami hakikat islam tersebut. Budaya dan tradisi lokal dicap sesat, sementara individu atau kelompok yang tak sepaham, dilabeli kafir, kemudian darah mereka dihalalkan untuk dibunuh. Metode dakwah seperti inilah yang merangsang munculnya berbagai macam paham-paham radikal. Kemudian, bentuk radikalisme islam tersebut hanya akan mengakibatkan citra negatif terhadap islam dan bahkan membuat islam semakin dibenci. Gusdur pernah berkata bahwa yang sebenarnya kita butuhkan adalah islam ramah bukan islam marah. Agaknya memang betul, islam yang suka marah memang hanya akan membuat kita semakin terpecah. Namun sebaliknya, islam ramah justru akan membentuk persatuaan  yang penuh dengan kebaikan, cinta dan perdamaian.
Jika kita menilik sejarah, penyebaran agama islam di Indonesia dilakukan berbeda dengan apa yang pernah terjadi di Arab, yakni dengan penaklukan dan berbagai peperangan. Di Indonesia, penyebaran islam dilakukan dengan damai. Ulama terdahulu dengan sangat cerdas memahami kondisi nusantara yang terdiri dari banyak suku bangsa. Dengan cara tersebut, pada akhirnya masyarakat lokal, yang taat terhadap tradisi dan budayanya, dengan senang hati menerima ajaran islam. Itulah potret islam yang ramah, dan Sayyang Patttuqduq adalah salah satu wujud nyata islam ramah yang ada di Indonesia.  

~hym~

*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: