Aku berada di tempat penuh cerita. Kekusutan pagi dan keheningan malam-malam berubah dan berbuah kemuning senja. Begitupun kekeringan yan...

Ada Apa Dengan KKN? : Coretan Pengabdian Seorang Mahasiswa Akuntansi

Aku berada di tempat penuh cerita.
Kekusutan pagi dan keheningan malam-malam berubah dan berbuah kemuning senja. Begitupun kekeringan yang membuncah, menepi dan mengair di kedalaman.

Aku di tempat penuh warna.
Seperti pelangi, ronanya mekar dan membunga di depan mata. Kepahitan di kepala beralih putih disebuah rasa. Juga kegelapan logika, dihimpit dan menghilang dalam cahaya.

Aku menyuka pertemuan dengan petani tua. Lengan kekar yang bergelut di persawahan. Juga tangan-tangan, yang bergotong di rumah-rumah. Begitupun surau, menyajikan suara-suara.
Aku juga menyuka tawa bocah tengik di perjalanan. Juga canda tawa kawan-kawan seperjuangan. Pun Kerasnya kehidupan orang dengan beban-beban. Disana, aku mendapat jawaban.

Aku adalah bocah yang merangkak, jatuh bangun ditopang arus-arus kehidupan. Akupun adalah tunas yang tertanam dipinggir jalan. Jika kemudian aku terlihat berjalan dan bertumbuh, maka kalian adalah yang memupuk persendian.

Aku mendapat nuansa membentuk tali. Dan pada suatu waktu sejengkal mata memang tak saling menyapa. Dan seperti kemarin, aku bertamu dan kita bertemu. Malu-malu.
Kemudian waktu datang memanggil diperaduan. Dan seperti kemarin, kita bergandengan. Ikatan persaudaraan.

Kemudian suatu saat tiba masa. Aku benci perpisahan. Hanya menyisa kenang-kenang.
Dan jika pada suatu waktu kita bersua, atau aku menapak kaki di tanah desa, kita mungkin akan bersapa dan aku akan senang berjumpa.

Sebab aku memiliki kisah dengan Keluarga-Keluarga Nirwana.


 Parangloe Lata, Mei 2016

Sewaktu saya  mengikuti pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Alauddin Makassar (selanjutnya dalam tulisan ini disebut UINAM) Angkatan 51, seorang pembicara mengatakan bahwa ada tiga momen yang sulit dilupakan ketika menjadi seorang mahasiswa. Pertama, saat Mahasiswa Baru (MABA), kedua saat ber-Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan yang ketiga saat di wisuda.  Agaknya memang betul, kesemuanya memberikan ceritanya masing-masing.  Tapi kali ini, saya tak ingin membincang soal MABA, zaman itu adalah zaman “jahiliyah”. Hanya menjadi bahan Eksploitasi dan Pattol oleh para senior. Saya pun tak ingin membincang wisuda, kata itu belum masuk dalam kamus pribadi saya. Saat ini, saya lebih suka membincang KKN. Kuliah Kerja Nyata yang penuh warna, penuh cerita dan penuh makna.
Tetapi sebelumnya, saya ingin meminta maaf sebab saya memulai tulisan (baca: laporan) ini dengan sebuah puisi. Bukan maksud saya menyandingkan diri dengan penyair hebat macam Chairil Anwar, W.S. Rendra, ataupun Aan Mansyur. Bukan. Saya hanya ingin menyampaikan bentuk ekpresi terhadap apa yang saya dapat selama kurang lebih dua bulan ber-KKN. Puisi adalah bentuk keterwakilan perasaan saya.
Sebelumnya juga, izinkan saya berterima kasih kepada Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunianya saya bisa menyelesaikan tulilsan ini. Juga kepada orangtua saya yang dengan ikhlas mengirimkan doa-doanya. Juga kepada  seluruh pihak yang terlibat, terima kasih kepada orangtua posko – Dg. Eppe dan Dg. Inang yang dengan ikhlas meminjamkan rumahnya untuk diacak-acak, juga kepada kedua anaknya – Wulan dan awal, dan juga kepada seluruh keluarganya. Terima kasih untuk Ibu Kepala desa Moncongloe sekeluarga dan juga bapak Sekretaris Desa Moncongloe Sekeluarga. Terima kasih juga untuk seluruh warga desa Moncongloe Kecamatan Manuju. Juga untuk dosen pembimbing dan BP-KKN, terima kasih Bu.  Dan juga kepada seluruh pihak yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Dan terima kasih juga kepada teman-teman posko Parangloe Lata: Fandi, Abhas, Ammar, Yaya, Titi, Eni, Sari, dan Dida. Dan terkhusus teman-teman posko Pannambungan: Sem, Frengky, Ullah, Al, Ifah, Mia dan Itha, terima kasih tentang dua bulan yang luar biasa kawan.
Baik, kita lanjut. tulisan ini sebenarnya saya buat demi kepentingan tugas, Laporan Individu KKN tepatnya. Kata dosen pembimbing, saya harus menarasikan semua proker (Program Kerja) yang telah dijalankan dan hubungannya dengan jurusan kuliah yang diambil. Saya kemudian berfikir keras bagaimana membuatnya, pasalnya semua proker tak ada hubungannya dengan jurusan saya. Akuntansi. Alhasil, jadilah jalan cerita seperti yang kalian baca ini. Mungkin juga kalian masih ragu, kenapa laporan bentuknya seperti seorang anak sedang mengadu kepada emaknya? Atau seorang cewek cabe-cabean sedang curhat kepada cowok terong-terongan? Ahh itumah diary bukan laporan. Tapi tunggu, dengarkan dulu betul-betul corat-coret saya ini.
Saya adalah mahasiswa UINAM semester akhir. Hari minggu, 15 Mei 2016 kemarin, saya dan teman-teman UINAM lainnya baru saja ditarik dari tempat tugas pengabdian kepada masyarakat yakni dari Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Sebagai mahasiswa KKN, ada rasa kebanggaan tersendiri telah mampu melaksanakan salah-satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi ini. KKN bisa dibilang menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa kepada masyarakat. Meskipun terkadang ada yang bilang KKN hanya formalitas, namun manfaat mahasiswa pasti ada, walau terkadang tak banyak-banyak amat.
Selama dua bulan kemarin, saya ditempatkan di Desa Moncongloe Kecamatan Manuju. Sebuah desa yang terdiri dari dua suku kata, Moncong dan Loe. Moncong yang berarti Gunung dan Loe yang berarti banyak. Jadi Moncongloe adalah sebuah desa yang terdiri dari banyak gunung. Namun, terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut, jika dilihat dari wilayah geografisnya, Moncongloe memang sebuah desa yang dikelilingi oleh perbukitan.
Desa ini berjarak sekitar satu jam perjalanan dari ibukota provinsi Sulawesi Selatan, yakni Makassar. Jika kalian tahu letak bendungan bili-bili, desa ini letaknya tak jauh dari sana. Bahkan jika kita berfikir yang buruk-buruk, misalnya bendungan bili-bili jebol, maka dapat dipastikan desa ini menjadi salah-satu yang pertama hancur berkeping. Tapi itu hanya Fiktor (Fikiran Kotor), jangan diambil hati apalagi jantung. Lupakan!
Masyarakat desa Moncongloe, mayoritas berasal dari etnis Makassar dan menggunakan bahasa Makassar dalam komunikasi harian mereka. Disana, budaya teriak-teriak sepertinya telah menjadi kebiasaan. Memanggil satu dengan yang lainnya dengan suara lantang dan bahkan bisa didengar tiga hingga lima rumah disekitarnya menjadi hal biasa. Mungkin sebagian besar etnis yang ada di Sulawesi Selatan akan melihat hal tersebut adalah sebuah bentuk ketidak-sopanan, namun disana, itu sah-sah saja selama tak memakai urat terlebih otot.
Kemudian untuk keagamaan, seluruh masyarakat Desa Moncongloe adalah beragama islam, sehingga tidak menjadi kesulitan besar bagi kami untuk berdakwah. Bentuk dakwah seperti Khutbah Jumat menjadi hal yang sangat dibutuhkan bahkan dinantikan oleh masayarakat disana.
Sementara untuk penghasilan masyarakatnya, kebanyakan berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Hal tersebut terlihat dari banyaknya masayarakat yang memelihara sapi. Juga terhampar luasnya ladang persawahan disana. Saya dan teman-teman lainnya bahkan sempat turun membantu memanen padi, mengangkut gabah dan menanam jagung di sawah. Satu hal yang saya sayangkan, sebab disana tak ada irigasi sehingga panen tak bisa maksimal,  hanya bisa satu  sampai dua kali panen dalam setahun. Padahal sember air sangat dekat, Sungai Jeneberang menjadi batas desa. Pemerintah seharusnya bisa berperan maksimal disini.
Desa Moncongloe terdiri dari empat dusun, yakni Parangloe Lata, Pannambungan, Maccini Dalle, dan Kaballokang. 16 orang mahasiswa KKN UINAM termasuk saya kemudian ditempatakan disana. Kami dibagi menjadi dua kelompok kemudian kedua kelompok tersebut menetap di dusun yang sama, yakni Parangloe Lata namun memiliki tempat tugas yang berbeda. 8 orang pertama bertugas di Parangloe Lata, sementara 8 orang lainnya di Pannambungan, itulah dusun tempat tugas saya. Namun, dalam perjalanannya, kedua kelompok tersebut bersepakat untuk bekerja sama. Kami merumuskan berbagai macam Proker baik dari usulan masyarakat maupun ide sendiri untuk kemudian dikerja bersama-sama.
Singkat cerita, saya dan 15 orang kawan lainnya menjalankan berbagai macam proker yang ada. Mulai dari yang sifatnya mendidik seperti mengajar di sekolah-sekolah, yang sifatnya keagamaan seperti khutbah jumat dan pelatihan penyelenggaraan jenazah, pembuatan peta administrasi desa, hingga yang sifatnya sosial seperti kerja bakti dan lain sebagaianya. Meskipun ketermalasan terkadang datang melanda, namun Alhamdulillah semua proker dapat terlaksana dengan baik. Satu pengalaman yang mungkin tak bisa saya lupakan adalah, berkat KKN inilah, untuk pertama kalinya saya berani khutbah jumat dan untuk pertama kalinya saya memimpin shalat jumat sebagai Imam. Luar biasa.
KKN UINAM angkatan 51 yang ditempatkan di Kecamatan Manuju, sebenarnya mendapat instruksi dari dosen pembimbing menggunakan metode Assets Based Community Development (ABCD) dalam ber-KKN. Sebuah metode untuk memetakan aset yang dimiliki desa seperti Aset Fisik, Aset Sumber Daya Manusia (SDM), Aset budaya, Aset Sosial dan lain-lain. Metode ini bukan mencari apa yang dibutuhkan masyarakat, akan tetapi meggali potensi yang dimiliki masayarakat untuk kemudian dimanfaatkan dan dikembangkan. Metode ini berangkat dari filosofi gelas setengah penuh-setengah kosong. Melihat sesuatu dari apa yang ada bukan dari apa yang tidak ada.
Namun kenyataan yang terjadi dilapangan tak sesuai dengan harapan. Banyak potensi dari Desa Moncongloe tak dapat kami kembangkan. Misalnya saja pada sektor pertanian dan peternakan. Disana banyak teradapat limbah sekam padi dan limbah kotoran sapi yang terbuang percuma. Padahal keduanya berpotensi untuk dijadikan pupuk maupun bahan bakar alternatif. Belum lagi potensi ekonomi, misalnya buah-buahan seperti rambutan dan perikanan seperti ikan nila, masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Pun demikian dari sektor pariwisata, bendungan Bili-Bli yang lumayan ramai didatangi pengunjung, juga belum dikelola maksimal.
Kami sebetulnya melihat semua potensi-potensi tersebut, namun karena keterbatasan ilmu, waktu, tenaga dan finansial, semuanya hanya bisa menjadi wacana. Praktis, kami hanya bisa memanfaatkan dan mengembangkan aset Sumber Daya Manusia (SDM). Itupun juga terbatas hanya anak-anak yang berusia 7-16 tahun. Kami hanya bisa menggali potensi mereka yang sangat antusias dalam belajar.
Saya sebenarnya tak ragu menyimpulkan bahwa KKN yang saya dan teman-teman laksanakan di Desa Moncongloe adalah KKN berbasis edukasi. Kami memanfaatkan semangat belajar anak-anak disana untuk kemudian memberikan pengajaran akan berbagai hal. Mulai dari keterampilan berbahasa asing, Baca Tulis Quran (BTQ), hingga pelatihan bela diri Karate.
Sebagian besar waktu kami memang tercurah pada proses belajar-mengajar ini. Hampir tiap hari kami bergonta-ganti mengajar. Baik di Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan juga di Taman Pengajian Al-quran (TPA). Belum lagi di posko tempat saya menetap, kami harus membuat jadwal untuk mengajar anak-anak disekitar posko. Meskipun tak masuk dalam proker, namun bisa dibilang, kegiatan mengajar disekitar posko inilah yang tetap konsisten dijalankan- juga bersama pelatihan bela diri karate hingga hari penarikan.
Dampaknya kepada anak-anak tidak bisa dibilang buruk. Mereka yang awalnya tak mengenal bahasa asing, akhirnya perlahan mulai akrab dengan bahasa inggris dan juga bahasa Arab. Meskipun belum mampu berkomunikasi dengan kedua bahasa asing tersebut, namun setidaknya mereka telah memiliki bekal ketika nantinya ingin memperdalam kemampuan berbahasa asing mereka. Demikian pula dengan kemampuan bela diri karate, anak-anak desa Moncongloe juga telah mengenal keterampilan bela diri asal jepang tersebut.  Sebuah bentuk kesyukuran bahwa apa yang saya dan teman-teman lainnya berikan telah bermanfaat bagi masyarakat. Ini tentunya menjadi modal yang cukup berharga bagi generari muda Desa Moncongloe.
Kemudian dari sisi Mahasiswa sendiri, berbagai program kerja tersebut juga telah banyak memberikan manfaat khusunya kepada saya pribadi. Saya mendapatkan berbagai macam ilmu dan pelajaran seperti bagaimana cara mengorganisasikan sesuatu, cara bersosialisasi, cara bekerja sama, belajar cara hidup dan masih banyak lainnya. Ini tentunya menjadi bekal ketika telah menamatkan studi. Sebuah pengalaman yang mahal untuk bisa dibeli dan langka untuk bisa didapatkan.
Sampai pada paragraf ini, apa kalian merasa ada yang aneh? Yap betul, persoalan akuntansinya kok tidak ada yah? Katanya, tulisan ini adalah coretan seorang mahasiswa akuntansi, tapi kenapa yang berhubungan dengan akuntansi tidak ada sama sekali?
Baik … baik… saya meminta maaf. Saya baru saja ingin menuliskan hal tersebut. Duduk yang rapi, tangan dilipat dimeja, dan dengarkan baik-baik kelanjutan coretan saya ini.
Seperti yang saya katakan di awal, Proker yang berkaitan dengan akuntansi tak ada sama sekali. Pada saat megajar pun, saya sama sekali tak pernah menyentuh soal logika-logika akuntansi. Bukannya saya tidak mau, persoalannya menurut saya, akuntansi masih terlalu rumit dan tak dibutuhkan oleh anak setingkat SD. Saya juga sempat memikirkan tentang pelatihan akuntansi untuk usaha kecil, namun ide itu tak pernah keluar. Saya takut nanti kerja sendiri. Makanya, jadilah proker-proker seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Tak ada Akuntansinya.
Kemudian sesuatu terjadi dan membuat saya berfikir betapa pentingnya ilmu ini. Kejadiannya terjadi diposko dan tak melibatkan orang luar. Murni masalah internal Rumah Tangga posko kami. Posko Dusun Pannambungan.
Ceritanya begini, sekitar dua minggu sebelum penarikan, kami dilanda masalah keuangan. Kami merasa pengeluaran sangat banyak sedangkan apa yang kami konsumsi tak sebanding. Itulah mungkin kenapa saya jadi tambah kurus. Padahal menurut cerita-cerita, mahasiswa yang habis pulang dari KKN akan gemuk, kenyang makanan. Tapi Faktanya, saya tidak.
Setelah melakukan penelusuran dan analisis yang mendalam, kami akhirnya tahu bahwa bendahara yang mengurus keuangan melakukan kecuragan, tipu-tipu. Dia bahkan gelagapan, tengok kanan-kiri, atas-bawah saat dimintai pertanggungjawaban. Dia tidak mampu menjelaskan kemana arus uang selama ini berlabuh. Singkat cerita, dia akhirnya mengakui semua kesalahannya, meminta maaf dan mengganti apa yang seharusnya tidak menjadi haknya. Masalah selesai dan urusan keuangan kemudian diberikan kepada saya.
Dari titik inilah saya kemudian mencurahkan semua tenaga, waktu, fikiran, dan tentunya ilmu dari bangku kuliah untuk melakukan pencatatan keuangan. Semua trasnsaksi harus dilengkapi nota- ini yang penting. Kemudian saya mencatat secara kronologis dengan menggunakan Double Entry System. Uraiannya pun sangat jelas. Lengkap.
Kalaupun kemudian KAP Deloitte, Ernst & Young, ataupun BPK datang mengaudit, Saya siap. Silahkan. Dan jika itu benar terjadi, saya Cuma ingin betanya kepada mereka, dikasi fee berapa kalian sama Kordes saya? Satu batang Rokok? Ahh Murahan!
Baik … baik … kita teruskan. Dari kejadian tersebut, saya menyimpulkan bahwa akuntansi, jurusan saya ini, sangatlah bermanfaat pada tataran praktik. Akuntansi bukan hanya bermanfaat untuk transaski yang kompleks seperti di perusahaan, akan tetapi juga bermanfaat pada transaksi-transaksi kecil seperti saat ber-KKN ini.
Saya bersyukur ilmu saya mendapatkan tempat untuk pengaplikasiaanya walaupun “dimenit-menit akhir”. Itulah mungkin sedikit manfaat bidang keilmuan yang saya bisa berikan pada saat ber-KKN. Meskipun tak berdampak ke masyarakat, namun setidaknya bisa sedikit berkontribusi dalam raung lingkup posko kami. Andai kata dari awal pengleolaan keuangan dilakukan dengan baik, mungkin kejadian yang cukup jelek tersebut tak akan terjadi. Tapi tak ada gunanya berandai-andai. Nasi sudah menjadi bubur. Dari kejadian tersebut saya harus mengambil pelajaran untuk menjadi lebih baik kedepannya.
KKN memang adalah tempat yang memberikan banyak makna. Bagaimana tidak, kami disatukan dari individu-individu yang berasal dari jurusan berbeda. Kami harus memahami berbagai macam karakter dan isi kepala. Baik-buruknya seseorang harus legowo diterima. Tapi itulah yang menjadi bagian dari suka-duka dan akan menjadi cerita kelak.
Sebelum saya akhiri tulisan ini, izinkan saya mengutip sebuah pantun populer, “Jika ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, Jika ada umur yang panjang boleh kita bertemu lagi. Jika ada jarum yang patah jangan disimpan didalam laci, Jika ada kata yang salah jangan disimpan didalam hati”

Sekian, dan sampai jumpa pada suatu hari.

~hym~
*penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: