Judul Buku : Arus Balik. Penulis : Pramoedya Ananta Toer. Penerbit : Hasta Mitra. Tahun Terbit : Tahun 2002, Cetakan ke-V. Jumlah H...

Laut dan Integritas Bangsa

Judul Buku : Arus Balik.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer.
Penerbit : Hasta Mitra.
Tahun Terbit : Tahun 2002, Cetakan ke-V.
Jumlah Halaman : 760 hlm.
ISBN : 979-8659-04-X
Kategori : Fiksi Sejarah. 

Pramoedya Ananta Toer adalah adalah salah seorang penulis favorit saya. Sewaktu menamatkan tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca), saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa blio penulis yang luar biasa. Cara bercerita tentang sejarah, itu yang saya suka, ringan dan mudah  dicerna. Ia memaparkan fakta-fakta sejarah bukan lewat sebuah karya ilmiah, akan tetapi meramunya menjadi sebuah novel sejarah.  Sangat berbeda dengan textbook yang ada di sekolah-sekolah, berat dan sedikit membuat puyeng. Pram – sapaan akrabnya, juga membumbui karya-karyanya dengan berbagai imajinasi-imajinasi cerita dan bahasa sastra yang menyetuh. Caranya tersebut, mengindikasikan bahwa Pram berusaha masuk ke semua kalangan agar pesan dapat sampai kepada semua segmen pembaca.
Tak berbeda dengan buku-buku blio yang telah saya baca sebelumnya, Arus Balik juga hadir dengan membawa cerita sejarah Nusantara. Di depan sampulnya tertulis bahwa novel ini adalah sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16. Memang, novel ini adalah sebuah hikayat tentang sejarah Nusantara setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Hal yang membuat saya kagum, dikatakan pada pengantar buku ini, Pram menulis Arus Balik selama ditahan di Pulau Buru (1969-1979) tanpa membawa sedikitpun catatan. Untuk buku setebal 760 halaman, ini adalah hal luar biasa lainnya yang Pram lakukan. Buku ini pun bisa dibilang menjadi salah satu masterpiece hasil dari kerja kerasnya.   

Arus Balik: Arus yang Membalik
Arus Balik adalah sebuah epos. Sebuah riwayat yang menceritakan perjuangan seorang pahlawan di awal abad ke 16 setelah kejayaan Majapahit. Sebuah cerita yang menggambarkan terjadinya disintergrasi antara berbagai wilayah di Nusantara, utamanya di Jawa. Pada saat itu Nusantara terpecah menjadi beberapa kerjaan-kerajaan kecil. Pada saat yang bersamaan, masuklah Portugis. Direbutnya Malaka yang menjadi urat nadi tranportasi laut. Mereka membentuk pangkalan dan menjadikan Malaka sebagai pusat kekuatan mereka. Tak adanya persatuan antar kerajaan, megakibatkan Portugis dapat mempertahankan diri diwilayah Bumi Pertiwi. Peperangan demi peperangan untuk merebut dan memperluas kekuasaan wilayah antara penguasa pribumi Jawa, mengakibatkan perpecahan di antara mereka. Inilah salah satu sebab Portugis dengan mudahnya menggerogoti wilayah Nusantara pada saat itu.
Wiranggaleng menjadi tokoh utama dalam epos ini. Dari seorang anak desa, yang tak setetes pun darah bangsawan mengalir dalam dirinya, ia kemudian menjelma menjadi salah satu prajurit yang paling ditakuti. Awalnya ia ditunjuk menjadi pemimpin pasukan laut, kemudian ia menasbihkan diri menjadi panglima perang. Kemenangan demi kemenangan pun akhirnya dapat diraih oleh Tuban. Berkat kepemimpinannya, Tuban berhasil menghalau para pemberontak dan juga berhasil mengusir Portugis yang menginjakkan kaki di Tanah Tuban.
Meskipun begitu, terdapat penyesalan yang amat sangat dalam dirinya, ia tidak mampu mempersatukan Nusantara untuk mengusir Portugis. Dua kali Wiranggaleng ikut dalam penyerangan Portugis di Malaka, dua kali itu juga ia gagal. Pengkhianatan menjadi penyebab kegagalan serangan aliansi kerajaan Nusantara tersebut. Pertama karena Tuban, rajanya sendiri yang berkhianat, kemudian penyerangan yang kedua Demaklah yang berkhianat. Penyerangan gagal dan Portugis mampu mempertahankan diri.
Meskipun menjadi salah satu tokoh penting yang ada pada saat itu, namun kegagalan tersebut, menjadi penyesalannya seumur hidup.  “Majapahit telah memberikan jawaban pada kalian: kesatuan Nusantara. Singosari telah memberikan jawaban : kesatuan Nusantara. Bukankah Singosari telah memberikan jawaban terhadap ancaman kaisar dari utara dulu: kesatuan Nusantara! Dan dikirimkan Raden Wijaya untuk usaha penyatuan itu? Memang pernah dulu ada seorang Gajah Mada yang dapat melaksanakan cita-cita Sri Baginda Kretanegara dari Singosari dan Raden Wijaya dari Majapahit….” Itulah salah satu ungakapan Wiranggaleng untuk mengingatkan pasukanannya. Persatuan Nusantara, itulah cita-citanya. Namun ia gagal. Wiranggaleng menyerah dan kembali menjadi anak desa, menjadi petani.
Arus Balik juga bercerita tentang betapa pentingnya kekuatan maritim. Dahulu, Majaphit adalah penguasa yang tak hanya di darat namun juga di lautan. Berkat kapal yang besar dan armada laut yang tangguh, membuat mereka berhasil melakukan ekspansi dan berhasil menyatukan Nusantara ini. Kemudian setelah Majapahit runtuh, penguasa-penguasa setelahnya tak peduli akan hal itu. Kapal-kapalnya semakin kecil dan semakin kecil. Pasukan lautnya juga semakin lemah. Akibatnya, arus hegemoni dari utara terus mendorong menuju pedalaman dan terus ke pedalaman.
Arus Balik adalah arus yang membalik. Arus dominasi kekuasaan berbalik dari utara ke selatan. Dahulu arus bergerak dari selatan ke utara. Segala yang berasal dari selatan, dari Nusantara, bebas bergerak menuju utara. Namun kemudian, keadaan berubah, arus berbalik. Utara berkuasa atas selatan. Dengan berbagai teknologi kelautannya, negeri atas angin bergerak ke selatan membawa segalanya termasuk penindasan dan kekerasan kepada orang-orang pribumi.

Arus Balik dalam Konteks Indonesia Kekinian
Indonesia seharusnya belajar dari sejarah-sejarahnya. Arus Balik memberikan pembelajaran yang sangat relevan dengan kondisi kekinian bangsa Indonesia. Dalam buku ini ada dua hal penting yang patut digarisbawahi. Pertama, Arus Balik mengingatkan kita akan betapa pentingya sebuah persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia pada saat ini banyak diterpa isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Agama ini memusuhi agama yang lain lah, suku ini memerangi suku yang lain lah, kelompok ini menyerang kelompok yang lain lah, dan lain sebagainya. Hal ini mengakibatkan terjadinya berbagai gesekan di antara masyarkat yang tentunya akan melemahkan integritas bangsa. Indikasinya sebenarnya sudah terlihat saat ini, masuknya organisasi dan paham radikal mengendurkan bahkan menghilangkan nasionalisme penganutnya. Kemudian terdapat juga gerakan bersenjata yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Berbagai ancaman perpecahan tersebut bukanlah datang dari luar akan tetapi dari dalam negeri sendiri. Persatuan dan kesatuan bangsa harus tetap kita jaga dan salah satunya lewat arus balik-lah kita harus membaca.
Kemudian yang kedua, Arus Balik memperingati kita akan pentingnya wilayah laut. Indonesia adalah negara maritim, sekitar duapertiga wilayahnya adalah perairan. Ada satu kutipan dari buku ini yang mengatakan “ Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barangsiapa kehilangan laut, dia kehilangan darat”. Hal tersebut menyiratkan betapa pentingnya wilayah laut, wilayah maritim. Dari Sriwijaya hingga Majapahit, kekuatan laut menjadi perhatian nomor satu bagi kedua kerajaan besar tersebut. Indonesia haruslah betul-betul belajar dari sejarahnya.
Di tahun 2015 kemarin, Indonesia dihebohkan dengan perintah penenggelaman kapal yang melanggar perbatasan Indonesia. Beberapa nelayan tetangga yang tertangkap menangkap ikan diwilayah Indonesia, akhirnya harus rela melihat kapalnya hancur berkeping dan tenggelam didasar lautan. Hal tersebut tentunya akan berdampak positif bagi Indonesia karena  hasil laut sepenuhnya akan menjadi milik Indonesia dan tidak ada pihak-pihak yang tidak berhak lagi akan mendapatkannya. Dengan penguasaan dan pengelolaan wilayah laut yang baik, bukan tidak mungkin beberapa tahun yang akan datang  Indonesia akan menjadi negara maju. Bukan menjadi hal yang mustahil pula jika suatu saat arus kembali akan berbalik dari Indonesia  menuju dunia.

Buku ini sangatlah layak untuk dibaca karena memberikan pemahaman terhadap salah satu fase sejarah bangsa ini. Salah satu tahapan yang bisa dibilang menjadi bagian dari lika-liku perjalanan Indonesia. Sudah sejak awal semenjak ditulisnya buku ini, terlihat Pram berusaha mengigatkan secara khusus kepada pemerintah Indonesia maupun kepada masyarakat Indonesia secara umum, bahwa betapa pentingnya kedua hal diatas. Lewat sebuah lakon sejarah, ia memberikan sebuah pembelajaran kepada pembacanya. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa Pengalaman adalah Guru yang tebaik. Dan Sejarah adalah sebuah pengalaman. Lantas kenapa kita masih sulit belajar dari pengalaman tersebut? Tentunya, tidak ada manusia yang ingin jatuh kepada lubang yang sama. Dalam salah satu bukunya, Pram pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan ia mengabadikan semua agar kita bisa belajar dan tak jatuh dilubang yang sama itu.


~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis 

0 komentar: