Rabu, 3 februari 2016 , seorang wanita menyambut kami di depan teras setibanya di Bulukumba sore itu. Dia mempersilakan segera masuk ke rum...

Liburan Paket Combo

Rabu, 3 februari 2016, seorang wanita menyambut kami di depan teras setibanya di Bulukumba sore itu. Dia mempersilakan segera masuk ke rumah. Seyumnya ramah dan tutur katanya lembut. Itu adalah salah satu sisi lain orang Bugis-Makassar. Jika ada yang bilang karakter mereka itu keras dan kasar maka saya yakin ia belum mendalami kehidupan orang Bugis-Makassar. Terlalu banyak orang yang memandang sesuatu dari satu sisi – termasuk saya kadang-kadang, sehingga mengakibatkan kesalahan nalar dalam menarik kesimpulan. Padahal, dalam melihat suatu hal ataupun permasalahan, seharusnya kita memandang secara komprehensif (menyeluruh) agar tidak membuat kita menggeneralisakan sesuatu. Karakter orang Sulawesi saat ini, diciptakan oleh media. Media mencitrakan negatif orang-orang Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Padahal tidak semua, hanya bebrapa oknum, yang bisa jadi bukan orang asli Sulawesi Selatan bahkan bisa jadi orang luar Sulawesi. Cara pandang seperti inilah yang seharusnya bisa kita singkirkan.
Kami kemudian masuk ke rumah, duduk melingkar di atas karpet. Hidangan barongko dan teh hangat yang tersaji di ruang tengah, sudah cukup menghilangkan sedikit lelah setelah perjalanan sekitar tiga jam dari Makassar. Wanita itu mempersilakan menyantap makanan yang tersedia.
Wanita itu adalah Ibunya Fikri, tuan rumah tempat saya menetap beberapa hari di Bulukumba. Sementara Fikri, ia temanku, teman kuliah di Makassar. Orangnya absurd dan humoris. Ia pernah ikut audisi Stand Up Comedy tetapi gagal ditahap pertama. Saya terkadang berdiskusi dengannya, tapi kebanyakan habis dengan tertawa. Setelah saya amati dari photo keluarga yang dipajang di dinding rumahnya dan juga bertemu secara langsung dengan orangtuanya, ia lebih mirip bapaknya – dari aspek warna kulit. Agak gelap. Sementara adiknya yang perempuan, lebih mirip ibunya. Kulitnya kecokelatan. Tapi entah dari segi sifat, saya tak tahu ibunya, pun bapaknya.
Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Bulukumba. Saya berangkat dari Makassar bersama beberapa teman kuliah yang lain termasuk si empunya rumah, Fikri. Kami berangkat mengunakan empat sepeda motor. Saya boncengan dengan Zul, orang asli Banteang. Ari yang asli Kolaka boncengan dengan Ayubi yang menetap di Makassar. Kemudian Ical, orang Polman boncengan dengan Fajar yang mengakunya orang Bulukumba tapi tinggal dan menetap di Makassar. Fikri sendiri, berboncengan dengan Sukman, orang Barru tulen.  Semuanya adalah teman kelas saya di kampus. Mahasiswa yang kerjanya membuat laporan keungan, yang kerjanya menghitung uang milyaran. Meskipun uang itu tidak pernah dimililki bahkan disentuh. Orang-orang yang mengakunya anak akuntansi tapi sukanya jalan-jalan.
Bulukumba adalah destinasi perjalanan kami yang berulang kali tertunda. Telinga saya sudah sangat gatal mendengar cerita-cerita orang yang datang berkunjung ditempat-tempat wisata yang ada di Bulukumba. Bahkan sudah sejak semester-semester awal kami merencanakan ini, akan tetapi baru kali ini bisa kesampaian.
Saya lupa nama desanya Fikri ini, tapi depan rumahnya adalah jalan yang untuk menuju ke Pantai Bira salah satu destinasi wisata yang terkenal di Bulukumba. Rumahnya sangat dekat dengan bibir pantai. Kita bisa melihat laut lepas di belakang rumah Fikri. Dari arah belakang rumah ke pantai, jaraknya mungkin sekitar setengah lapangan bola. Tepat dibelakang rumahnya terdapat lapangan dan sebuah galangan kapal yang baru dibangun. Bulukumba memang terkenal dengan perkapalannya. Disana terdapat lokasi pembuatan kapal Pinisi, kapal raksasa yang harganya milyaran itu. Namun, galangan kapal yang berada dibelakang rumah Fikri ini, masih terlalu kecil untuk ukuran kapal Pinisi. Mungkin hanya untuk pembutan kapal yang ukurannya sedang.
Sore itu, saya menyempatkan untuk melihat pantai belakang rumah Fikri. Saya  berjalan melewati galangan kapal, dan berdiri tepat dipinggir pantai yang pasirnya hitam. Saya bisa melihat sebuah pulau yang memotong garis cakrawala. Saya duduk disebuah kapal kecil mengahadap ke pulau itu, disebelah kanan, tampak cahaya keemasan matahari tenggelam. Tetapi saya tak dapat melihat sunset, sebab terhalang oleh pepohonan. Senja itu berakhir dengan suara panggilan dari Masjid.
Malam hari, makanan kembali tersaji diruang tengah. Kali ini tak kalah nikmat, Nasi kuning plus Ikan bakar. Salah satu yang saya suka dari liburan di rumah teman, kita tak perlu memikirkan soal perut. Makanan seperti tersaji otomatis ketika kita butuh.  Ibunya Fikri ini sepertinya mengerti betul apa yang kami butuhkan. Makan. Tetapi bukan hanya di rumah teman sebetulnya, di dareah Sulawesi Selatan-Barat, ketika kita berkunjung baik di suku Makassar, Bugis, Toraja ataupun Mandar, maka kita pasti akan diistimewakan, diberikan layanan yang baik sehingga merasa nyaman sebagai tamu.
Mengenai pengistimewaan tamu, saya sudah beberapa kali merasakannya baik sebagai tamu maupun sebagai tuan rumah. Menjadi tamu, adalah menjadi “raja” dirumah orang dan menjadi tuan rumah artinya memberikan pelayanan yang baik agar si tamu merasa nyaman. Atta (baca:ibu)  saya, ketika ada tamu yang datang kerumah, paling tidak, harus sajikan minuman dan kue-kue untuk tamu yang kunjugannya hanya sebentar. Tapi jika ada tamu yang akan menginap, pasti repotnya minta ampun. Harus siapkan makanan besar. bakar ikan, masak nasi yang banyak, terkadang juga saya disuruh beli sate yang ada dekat rumah. Siapkan kamar, ganti sprey dan lain sebagainya. Tamu ini menjadi sangat istimewa. Tapi ada makna dibaliknya, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi, budaya meghargai tamu sepertinya telah menjadi kewajiban. Menyajikan makanan atau minuman adalah salah satu bentuk penghargaan mereka.  Inipun sebenarnya salah satu sisi lain dari orang Sulawesi.
Selepas makan malam, kami bergerak ke kota. Disepanjang jalan saya melihat terdapat banyak Pertamini di kiri-kanan. Pertamini adalah Sebuah SPBU mini seukuran lemari baju yang dicat merah. Pertamini ini menggunakan mesin khusus sebagai alat pengisian BBM.  Di sisi depannya terdapat tulisan “PERTAMINI” dengan ukuran besar berwarna putih. Saya pernah membaca soal pertamini ini, statusnya tidak diakui oleh Pemerintah. Pertamini ini sama seperti pedagang BBM eceran biasa, hanya saja dikemas lebih menarik. Saya mendapat cerita, dahulunya, di Bulukumba, hanya ada satu pertamini yang beroperasi, namun mungkin karena banyak yang tertarik dan mendapatkan untung yang lumayan, maka sekarang pertamini seperti menjamur dikota Bulukumba ini.  
Kami kemudian tiba disebuah bundaran. Di atas bundaran itu terdapat sebuah replika kapal pinisi. Disekeliling bundaran, terdapat banyak meja dan kursi tempat nongkrong. Kata Fikri, bundaran ini menjadi tempat ngumpulnya anak-anak muda Bulukumba. Kami memesan makanan dan minuman, melewati malam dengan bercengkerama, ketawa dan mengabadikan gambar meskipun kantuk melanda.  Sebelum tengah malam, kami bergegas kembali ke rumah, istirahat dan mempersiapkan perjalanan esok harinya.
***
Kamis, 4 februari 2016, pagi itu rintik hujan membasahi jalanan Bulukumba. Kami bekemas, motor disiapkan, jas hujan di bagasi motor diperiksa. Kami harus memastikan keberadaan jas hujan, bulan Februari seperti ini, daerah Sulawesi Selatan, sedang  puncak-puncaknya musim penghujan. Tak lupa, pakaian ganti dibawa, kami akan mengunjungi beberapa destinasi wisata pantai dan mandi di laut menjadi salah satu rencana yang tak bisa dipisahkan.
Pagi selepas sarapan, kami berangkat. Hari ini ada tambahan personel, namanya Ato’, sepupu laki-laki Fikri. Ia menjadi salah seorang penunjuk jalan. Kami bergerak ke arah Timur di jalan poros menuju Bira. Naik turun tanjakan, melewati beberapa percabangan jalan, hingga tiba di rumah Ikbar. Fikri kemudian mengajak dia ikut. Ikbar adalah teman kampus saya  juga. Satu jurusan namun beda kelas. Fikri dan Ikbar sudah berteman sejak lama. Katanya, Ikbar harus diajak, dia menguasai bahasa daerah setempat, kalau tidak salah bahasa Konjo namanya. Ikbar akan sangat membantu untuk urusan komunikasi ini. Perjalanan berlanjut, Ato’ dan Ikbar kemudian berboncengan sebagai penunjuk jalan.
Kami  tiba disebuah turunan di jalan menuju Pantai Samboang, pantai pertama yang akan kami kunjungi. Kami berhenti sejenak, mencoba menghubungi teman lainnya, namanya Darma. Rumahnya dekat sini, tapi kami tak tahu persisnya. Namun karena telepon tak kunjung masuk, kami memutuskan untuk menghubunginya kembali setelah tiba di pantai. Kami naik ke motor, mesin tak kami nyalakan. Kami meluncur turun dengan turunan yang lumayan panjang. Sensasinya seperti sedang menaiki roller coaster. Tepat dipertigaan diujung jalan, turunan habis. Mesin sepeda motor dinyalakan dan kami berbelok ke kiri. Tak lama kemudian, gerbang menuju Pantai Samboang terlihat. Ditengah gerbang, ada sebuah loket. Ini berarti pantai ini sudah dikelola untuk kepentingan pariwisata. Kami melewatinya, tak ada penjaga loket disana – mungkin karena bukan weekend, kami bebas masuk kawasan pantai ini. Tak ada pegunjung lain, hanya kami. Ada beberapa Bungalo, tapi sepertinya tak berisi.
Pantai Samboang ini memiliki garis pantai yang cukup panjang dan melengkung. Di kiri-kananya terdapat sebuah bukit yang agak menjorok ke laut, sehingga mengakibatkan garis pantainya terputus.  Pantai ini memiliki pasir yang putih, bukan karena kering diakibatkan matahari, tetapi benar-benar putih. Pasirnya putih. Tak ayal, ini menjadi objek fotografi yang ideal. Kami pun mengambil beberapa gambar dan ber-groufie ria. Setelah puas, kami kemudian meninggalkan pantai ini dan menuju rumah Darma.
Di rumah Darma, kami disuguhkan makanan dan minuman. Cukuplah untuk melepas penat. Perjalanan baru dimulai, tetapi cukup menguras tenaga. Sehari sebelumnya kami memang berencana menginap di rumah Darma ini, akan tetapi karena sesuatu dan lain hal, rencana itu kemudian batal. Kami kemudian bertanya soal Pantai Ujung dan ternyata letaknya tak jauh dari pantai Samboang. Hanya beberapa ratus meter arah kiri Pantai Samboang tadi.
Selepas dari sana, kami bergerak menuju Pantai Ujung. Kami kembali meluncur turun dan melewati jalan masuk pantai Samboang. Beberapa ratus meter kemudian tampak sebuah papan penunjuk yang tertempel di pohon. Kami berbelok ke kanan dan menyusur jalan berbatu gunung yang tajam. Setibanya disana, tampak sebuah gubuk dengan atap rumbia. Setelah saya amati, gubuk itu adalah sebuah warung yang menjual makanan-makanan ringan. Tampak pula dua sepeda motor terparkir. Itu pasti pengunjung. Kawasan ini berupa tebing yang langsung bertemu dengan air laut. Beberapa meter dari arah tebing menuju laut, terdapat sebuah batu besar. Kemungkinan itu adalah pecahan besar dari tebing sehingga menyerupai pulau kecil.  Tebing dan batu itu terhubung oleh sebuah jembatan kayu.
Setelah sepeda motor kami parkir, kami kemudian berjalan turun. Namun belum sempat jauh, seorang nenek dari dalam gubuk keluar dan meminta  untuk membayar uang parkir. Fikri dan Ikbar kemudian bernegosiasi. Hasilnya, kami harus membayar Rp 5.000 per motor. Fikri bilang, tadinya dia minta Rp 10.000 tapi dengan sedikit tawar-menawar biaya parkirnya bisa diminimalkan. Tepat disini muncul pertanyaan dibenak saya, uang parkir ini resmi atau tidak? Apakah nenek itu hanya mengambil kesempatan saja untuk menarik pungutan? Saya teringat, di Makassar, banyak pungutan-pungutan yang sifatnya illegal. Uang parkir Indomaret dan Alfamart itu ilegal, pak Ogah yang meminta pungutan diperputaran jalan juga ilegal. Apakah pungutan yag diminta nenek ini juga ilegal? Entah. Tapi saya tak mau memperpanjang masalah. Persoalan itu kemudian saya buang jauh-jauh.
Kami turun melewati beberapa anak tangga dan melewati jembatan kayu. Di bawahnya air laut nampak sangat jernih. Batu karang dan ikan-ikan yang sedang berenang dapat terlihat dengan mata telanjang. Setelah melewati jembatan kayu itu, kami menginjakkan kaki di batu besar tadi. Kami mengabadikan beberapa gambar sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Matahari mulai bergerak menuju ubun-ubun. Dua tempat telah kami kunjungi. Beruntung hari ini hujan berhenti. Hanya tadi pagi hujan turun, itupun rintik. Namun setelahnya, cuaca berawan sepanjang perjalanan. Kami kemudian tiba di Pantai Mandala Ria, setelah melewati jalanan yang meliuk-liuk. Jalanan yang rusak dan berkelok harus dilewati agar bisa sampai kesini. Disini pantainya hampir sama dengan Pantai Samboang. Pasirnya putih dan garis pantainya panjang melengkung. Hanya saja ada yang berbeda, disini terdapat lokasi pembuatan kapal Pinisi. Saat kami disana, ada beberapa kapal Pinisi yang sedang dalam pengerjaan. Bungalonya juga terisi. Dari jauh, saya bisa mendengar percakapan turis asing dari atas rumah yang menghadap ke pantai itu.
Kami bergegas tak mau mengulur waktu. Masih ada beberapa  tempat yang akan kami datangi. Perjalanan berlanjut menuju salah satu destinasi yang sedang popular akhir-akhir ini. Namanya Apparalang. Letaknya tak jauh, sekitar 20 menit perjalanan arah selatan pantai Mandala Ria. Jalanannya lagi-lagi berbatu. Untung saja jalannya kering, jika becek, ini akan sangat menyulitkan.
Setiba disana, sebuah loket karcis mengehentikan laju sepeda motor. Kami harus membayar Rp 5.000 untuk biaya ini. disepanjang jalan masuk, di sisi kiri dan kanan jalan, banyak pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya. Dari jalan masuk menuju tebing, tampak tulisan besar ‘APPARALANG”.  Kata Fikri dan Fajar yang pernah kesini, setahun yang lalu, tempat ini belum seperti ini. Pengunjung masih bebas masuk. Begitulah mungkin, segala sesuatu yang berpotensi menjadi uang, akan selalu “diserbu” orang-orang. Sebenarnya tak masalah, mau itu pembayaran tiket masuk, pembayaran parkir, atau apalah namanya, asalkan dikelola dengan baik. Jika hanya untuk kepentingan tertentu dan tak ada realisasi, itu yang salah. Namun kata Fajar, disini sudah ada sedikit perkembangan, sekarang tangga kayu sudah tersedia untuk menuruni tebing. Titik-titik curam dan berbahaya juga telah diperkuat untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan.
Apparalang bukanlah tempat wisata berupa pantai. Tempat ini berupa tebing memanjang yang berhadapan langsung dengan lautan. Dari atas, kita bisa melihat dengan jelas batu karang laut yang tajam. Untuk objek snorkeling mungkin sangat pas, namun untuk wisata pemandian keluarga, sangatlah tidak cocok. Yang saya tahu, Apparalang ini hanya dijadikan objek fotografi saja.
Dari atas tebing Apparalang, kita bisa melihat garis Pantai Mandala Ria  di arah Utara. Sejak semula, kami memang terus bergerak ke Selatan. Mulai dari pantai Ujung, arah kanannya adalah pantai Samboang. Kemudian arah kanan pantai Samboang adalah pantai Mandala Ria. Kemudian Apparalang ini berada disebelah kanan pantai Mandala Ria. Pantai-pantai di Bulukumba ini memang saling berdekatan. Semuanya hanya dibatasi oleh tebing-tebing tinggi.
Matahari telah menyerong di atas kepala. Kami melanjutkan perjalanan setelah puas mengabadikan gambar. Kami berencana beristirahat di Pantai Kasuso, tujuan kami selanjutnya. Kami kembali bergerak ke arah Selatan. Jalannya berkelok dan terdapat banyak tikungan tajam. Kontur jalan yang berliku mengingatkan saya kepada kampung halaman, Mamuju. Jika kau berkunjung ke Mamuju dari arah Makassar, maka kau akan melewati jalanan yang berkelok-kelok dan melewati turunan dan tanjakan untuk bisa sampai ke kota. Bedanya, jalanan ke Mamuju, sudah mulus beraspal, sedangkan di Kasuso, meskipun sudah di beton, namun masih banyak lubang di sana-sini.
Pantai Kasuso, sangat dekat dengan pemukiman. Warga disini dapat melihat dengan jelas pantai yang terhampar di belakang rumah mereka. Pantai ini, meskipun juga memiliki pantai pasir putih sama seperti Pantai Samboang dan Mandala Ria, namun ada hal unik yang membedakan dengan dua pantai sebelumnya itu. Ada sebuah batu besar yang seperti tertancap tak jauh dari garis pantai. Inilah ikon pantai ini, namanya Batu Taha. Entah kenapa batu itu bisa berada disana. Mungkin karena sebuah ledakan atau sebab lainnya. Batu itu kemudian menjadi objek fotografi kami. Setelah puas istirahat dan mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu pantai yang terkenal di Bulukumba. Pantai Bira.
Arah menuju Pantai Bira bukan lagi ke Selatan, tetapi ke arah Barat. Saya akan menggambarkan sedikit tentang Pantai Bira ini secara Geogrfis. Di ujung kaki pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan, terdapat sebuah Tanjung, daratan yang menjorok ke laut. Tanjung ini letaknya di Bulukumba. Sebelah Timur Tanjung ini, disitulah letak ke lima tempat yang telah kami kunjungi sebelumnya. Sedangkan Pantai Bira terletak di sebelah Baratnya. Pantai Bira dan kelima pantai sebelumnya bukan lagi bersampingan, tetapi saling membelakangi. Mereka diantarai oleh daerah perbukitan yang lumayan luas. Jarak dari Pantai Kasuso dengan pantai Bira sekitar 40 menit perjalanan.
Jalan menuju pantai Bira tidak sejelek seperti tempat yang telah kami kunjungi sebelumnya. Jalannya beraspal. Kami melewati Pelabuhan hingga tiba di gerbang kawasan wisata pantai Bira. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 35.000. Biaya ini kembali memunculkan pertanyaan dibenak saya. Apakah dengan biaya segitu kualitasnya akan sama dengan tempat-tempat sebelumnya? Entahlah. Setelah masuk, terlihat banyak Bungalo di sana-sini. Tepat saat kami memarkir motor, datanglah seorang bapak menawarkan untuk menyeberang kesebuah pulau. Katanya di pulau itu terdapat tempat penangkaran penyu. Pantai Bira ini memang berhadapan dengan sebuah pulau, namanya Pulau Liukang. Di sanalah tempat penangkaran penyu itu berada. Kami jelas menolak, tujuan kami bukan itu.
Matahari masih jauh dari garis cakrawala sore itu. Jika kau menghadap ke arah matahari, maka di samping kanan kau bisa melihat pantai pasir putih Bira. Tak jauh dari bibir pantai, berjejer tempat-tempat peristirahatan. Di sana juga terdapat sebuah tebing, kalau tidak salah, diatasnya terdapat semacam rumah makan. Pun disebelah kiri, juga terdapat sebuah tebing dan bangunan yang agak mewah berdiri diatasnya. Kami sebetulnya berencana mandi di pantai ini, akan tetapi setelah melihat kondisi pantainya yang kotor, kami jadi urungkan niat. Sampah berserakan disepanjang pinggir pantainya. Ada sandal, botol air mineral, kemasan plastik dan lain sebagainya. Kawasan ini sangat terasa telah dikomersialisasikan hingga hal yang substantif tak diperhatikan lagi. Sebetulnya pantai ini cantik. Pantai pasir putihnya, ombak dan spot sunset menjadi sesuatu yang istimewa. Namun, apalah arti semua itu jika pantainya tak terawat.  Seperti kami, pengunjung lain pasti tak akan merasa nyaman berada disana.
Kami memutuskan untuk berpindah tempat. Di arah utara, terdapat sebuah pantai yang tak jauh dari Pantai Bira, namanya Pantai Bara. Kami harus kembali melewati jalanan berbatu untuk bisa sampai ke sana. Kurang lebih sepuluh menit perjalanan. Di kiri-kanan jalan, banyak terdapat tempat-tempat hiburan semacam karaoke dan minibar. Di depannya sesekali terlihat wanita-wanita seksi yang duduk sambil merokok. Melihat hal ini, saya jadi teringat tokoh Siti di film SITI. Wanita yang menjadi penghibur dikawasan pantai Parangtritis Jogja. Sepertinya di Bara ini, banyak wanita-wanita yang seperti Siti.
Pantai Bara terlihat agak lengang setibanya kami di sana.  Tak seperti dikawasan Pantai Bira, disini agak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat. Sampah dari ranting pohon juga berserak di pantainya. Di atas Bungalonya terlihat turis asing menggunakan pakaian renang. Mereka sedang bersiap untuk turun ke laut. Tak kalah girang, kami mengambil tempat, meletakkan barang bawaan dekat pepohonan dan segera menceburkan diri ke laut. Di sana saya terpikir, Pantai Bira yang selama ini menjadi primadona destinasi wisata di Bulukumba, hanya menang di spot sunset-nya saja. Untuk urusan kebersihan dan kenyamanan, Pantai Bira masih kalah jauh dari Pantai Bara dan kelima tempat yang telah kami kunjungi tadi.
Ada sebuah kecenderungan selama perjalan ini. Apabila akses kesebuah tempat itu jelek, maka kecenderungannya, tempatnya akan memuaskan. Sedangkan apabila aksesenya bagus, maka cenderung tempatanya akan mengecewakan. Faktanya memang begitu, Pantai Bira memiliki akses jalan beraspal tetapi tempatanya kotor, sedangkan enam tempat lainnya, jalannya yang berlubang dan berbatu,  tetapi  bersih dan nyaman. Tetapi kecenderungan ini tak sepenuhnya benar.  Hanya sebuah anekdot yang mengekspresikan kekecewaan saya akan Pantai Bira yang selama ini digembar-gemborkan.  Sore itu kemudian  berakhir dengan basah-basahan di air laut Bara.
Cahaya keemasan sang surya tampak di ufuk Barat. Kami meninggalkan Pantai Bara tanpa berbilas dan kemudian  tiba di rumah salah seorang keluarga Ikbar. Kalau tidak salah, tantenya.  Disana kami membersihkan tubuh dan mengganti pakaian. Lepas dari sana, kami bergegas pulang dan tiba tepat sebelum Isya. Kali ini Ikbar ikut, ia akan menginap di rumah Fikri bersama kami.
Selepas makan malam, kami kembali menuju kota dan akan mengunjungi salah satu tempat lainnya di sana. Saya tak sanggup menolak walau badan sudah sangat kelelahan dan ingin segera beristirahat. Sialnya, kami mendapat masalah. Ban sepeda motor Ari bocor. Cukup lama kami keliling mencari bengkel. Sulit untuk menemukan bengkel di malam hari. Namun beruntung, masih ada yang buka. Jaraknya ada beberapa blok dari titik bocornya ban. Di sana kami memutuskan untuk segera kembali saja. Ayub sudah sangat mengantuk. Dia bahkan tertidur di kursi kayu panjang yang ada pada bengkel itu.  Setibanya di rumah, saya tak kuasa  menahan kantuk yang bercampur lelah. Yang lainnya, sibuk melihat foto hasil jepretan. Suara tawa berbahak mereka mengantar tidur saya malam itu.
***
Jumat, 5 Februari 2016, udara sejuk terasa saat memasuki desa Labbo’ menjelang siang hari itu. Awan tebal terlihat mulai menyelimuti langit desa. Kami memarkir sepeda motor di depan sebuah rumah panggung kayu. Sajian teh hangat dan gorengan, sukses  melepas sedikit lelah.  Tepat saat jumatan, hujan turun. Udara dingin perlahan menusuk kulit. Kawan yang lain mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Makassar. Dan saya, tetap berada di Bantaeng bersama Zul, si tuan rumah.
Kami memang telah meninggalkan Bulukumba hari itu. Kota itu memberikan sedikit catatan perjalanan yang luar biasa. Bagaimana tidak, dalam satu hari kami bisa mengunjungi tujuh tempat wisata sekaligus. Fikri pun mengakui itu, ia yang sejak lama tinggal di Bulukumba, baru kemarin merasakan perjalanan dibanyak tempat wisata dalam sehari. Bak paket combo katanya.  Sebagai kenangan, kami ber-groufie diikon kota. Bundaran Pinisi dan Masjid Dato Tiro.
Pagi itu juga  kami telah berpamitan dengan keluarga Fikri. Beberapa sanak familinya mengantar kami diambang pintu pagi itu.  Ucapan terima kasih harus saya berikan khusus kepada ibunya yang telah “merawat” kami selama disana. Catatan khusus lainnya, sambalnya enak. Terima kasih Tante.
Hujan mengguyur Desa Labbo hingga malam. Udara dingin bergentayangan semalaman. Listrik pun padam. Tak banyak yang bisa saya lakukan selaim bertanya. Hanya itu. Dari sana saya bisa tahu kalau komoditi utama desa ini adalah Cengkeh dan Kopi. Pantas saja pohonnya banyak. Selain itu, disini bunga-bunga dipertukarkan. Setiap rumah hampir semua memiliki bunga-bunga dihalaman rumah mereka. Kata zul, ketika tertarik dengan bunga tetangga lain, cukup dengan menukar dengan bunga yang kita miliki. Sangat unik. Bunga menjadi bahan pertukaran. Hari itu pun berakhir dengan selimut menyelimuti tubuh.
***

Sabtu, 6 Februari 2016, udara dingin masih menusuk. Desa Labbo’ memang berada dikawasan pegunungan. Lompobatang namanya. Berada diketinggian, membuat udaranya sejuk sepanjang hari. Pagi itu, saya menyempatkan berkunjung ke desa yang berada didaerah yang lebih atas. Dari sana, saya bisa melihat kawasan pesisir, mungkin kota Bantaeng. Sepanjang perjalanan juga saya melihat aktivitas-aktivitas masyaraktnya. Wanita-wanita pemetik kopi, kuda-kuda yang sedang dirawat majikannya, anak-anak sekolah yang berjalan ke Sekolah, dan senyum ibu-ibu rumah tangga yang ramah. Kehidupan disini masih jauh dari unsur-unsur modern perkotaan.
Pagi itu juga, saya berpamitan dengan keluarga Zul. Turun ke Desa yang berada di kawasan bawah pegunungan. Menahan angkutan dan bergerak ke Makassar dengan berbagai cerita yang bertumpuk di kepala.

~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis. 


Dokumentasi:
Salah satu sudut Pantai Samboang


Tebing batu Pantai Ujung



Pasir Putih Mandala Ria



Apparalang


Pantai Kasuso dengan Batu Tahanya

Indahkan. Tapi saayang, Sampah bertumpuk di Pinggir Pantai Bira ini



Pantai Bara


0 komentar: