Kurang lebih seminggu yang lalu saya baru berkunjung ke Barru, tepatnya di Desa Kalompi. Desa ini lumayan jauh dari pusat Kota. Jika kita d...

Cerita dari Barru

Kurang lebih seminggu yang lalu saya baru berkunjung ke Barru, tepatnya di Desa Kalompi. Desa ini lumayan jauh dari pusat Kota. Jika kita datang dari arah Makassar, maka untuk mencapainya,  harus menempuh beberapa kilometer ke arah timur. Desa ini berada persis di bawah kaki pegunungan.  Aktivitas utama warganya, kebanyakan dihabiskan untuk berkebun, bertani maupun beternak. Itu terlihat dari banyaknya ladang sawah, perkebunan, dan juga hewan ternak.
Menurut cerita, penamaan Desa ini berasal dari sebuah pohon, namanya Kalompi. Dahulunya, desa ini berada di daerah yang lebih pelosok lagi. Lebih dekat ke daerah pegunungan. Di sana banyak terdapat pohon Kalompi. Karena alasan itulah, Kalompi dijadikan nama desa. Singkat cerita, karena sesuatu hal, warga kemudian berpindah agak menjauh dari daerah pegunungan. Disana mereka mendirikan  desa baru dan tetap menggunakan Kalompi  sebagai nama desa. Desa itulah yang menjadi tempat menetap saya beberapa hari di sana. Ciri-ciri pohon Kalompi sendiri saya tak tahu. Pohonnya juga sudah tidak ada karena telah punah.
Kunjugan saya ke Barru karena alasan berlibur. Saya dan beberapa teman kuliah memutuskan jalan-jalan ke sana karena memang, kami banyak waktu kosong akibat liburan semester. Dipilihnya Barru karena di sana terdapat rumah teman yang lain. Berlibur di rumah teman memang lebih ekonomis. Nyaman, aman,  dan yang terpenting hemat Budget. Hahaha.
 Ada beberapa catatan saya tentang Kota ini. Disimak yah ….

Ingin Hiburan “Plus-plus”? Datang Ke Barru
Malam setelah tiba, saya dan beberapa teman diajak oleh Sukman si tuan rumah untuk berkunjung ke salah satu tempat hiburan di sana. Kami bergerak jauh ke kota, menyusur jalan yang gelap menuju pantai. Setiba di sana, saya melihat beberapa kios yang berjejer dekat tanggul. Terlihat banyak kendaraan yang terparkir. Di depannya, banyak wanita-wanita cantik. Dan dari dalam kios-kios itu terdengar suara-suara nyanyian. Awalnya saya berfikir ini adalah tempat prostitusi atau semacamnya. Kami bahkan sempat menghindar. Akan tetapi, setelah dibujuk, kami akhirnya masuk juga.
Dugaan saya ternyata salah.  Tempat itu hanyalah sebuah warung biasa yang menyediakan makanan dan minuman. Wanita-wanita cantik tadi ternyata hanya pelayan. Bedanya, disini menyediakan hiburan karaoke gratis. Televisi layar datar dan sound system yang menggelora menjadi alat pembeda. Karaoke inilah yang menjadi daya tariknya. Cukup memesan minuman atau makanan, dan kita pun puas bernyanyi bersama kawan-kawan. Tapi sayangnya kita harus rela berbagi dengan pelanggan lain yang juga ingin bernyanyi. Tak hanya itu, kitapun harus rela berbagi kebisingan dengan pelanggan kios sebelah. Jarak antar kios yang sangat berdekatan, membuat suara nyayian sangat jelas terdengar. Tapi di sanalah letak keunikannya. Tempat semacam ini sangat sulit dan bahkan tidak ada di perkotaan semisal Makassar. Tempat hiburan seperti ini bisa dibilang adalah paket “murah meriah”. Cukup dengan memesan makanan atau minuman dan kita pun bisa mendapatkan plus-plusnnya. Plus Karaoke gratis, plus pahala  ikhlas karena rela berbagi, dan plus pahala sabar karena berbagi kebisingan. Hahaha.

Barru, Tempatnya Wisata Air Terjun
Ada tiga lokasi air terjun yang saya kunjungi selama disana. Pertama, air terjun Wae Sai. Air terjun ini berada lingkungan Wai Sae, Kecamatan Soppeng Riaja. Untuk bisa mencapinya, kita perlu menempuh jalur pegunungan yang menuju ke Kabupaten Soppeng.  Lokasinya lumayan jauh dari pusat kota dan medan berbatu harus dilewati agar bisa tiba disana. Untuk mencapai titik air, harus menempuh beberapa menit berjalan kaki. Melewati pemukiman hingga pematang sawah. Ketinggian air terjun ini mencapi puluhan meter.
Air Terjun kedua adalah Tanjung Asap. Lokasi air terjun ini berada di Desa Palakka. Untuk mencapai titik air kita harus melewati sungai, sawah dan semak belukar. Air terjunnya tidak lebih tinggi dari Wae Sai tadi. Hanya saja, disini lebih ramai pengunjung. Kemudian yang terakhir adalah air terjun To Magellie. Air terjun inilah yang tertinggi diantara kedua air terjun sebelumnya. Sekitar 50an Meter. Untuk mencapai kesana, harus melewati jalan menanjak. Untuk mencapai titik air, kita perlu berjalan kaki sekitar 10 menit menuruni bukit yang terjal dan licin.
Jika dilihat dari daerah geografisnya – berupa pegunungan, tak mengherankan memang kalau di sini banyak terdapat sungai dan air terjun.  Bisa dibilang menjadi surganya para pecinta air terjun. Ketiga air terjun diatas hanya sebagian kecil dari sekian banyak yang ada di Barru. Sayangnya, pengeloalaan kawasan wisata tersebut masih jauh dari kata maksimal. Banyak fasilitas yang sudah rusak bahkan tidak ada fasilitas sama sekali.

Kalompi, Nama dan Panggilan Unik
Di kampungnya, Sukman dipanggil Emmang, adiknya Fatimah dipanggil emmah, atau tetangganya Salmah dipanggil Salle. Dari cerita yang saya dapat, orang bugis memang seperti itu, memberikan panggilan-panggilan unik yang tak jauh dari nama aslinya . Misal nama kita Nurselah, maka bisa jadi kita dipanggil Nure atau Ellah. Mariani jadi Mare, Yuliana jadi Yule, Hasna jadi Hase, Marlina jadi Inna, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Selain panggilan, di Kalompi ini juga ada yang benar-benar memiliki nama unik. Disebuah kertas pengunguman pembawa makanan untuk berbuka yang tertempel di Masjidnya, saya membaca nama-nama mereka. Terdapat beberapa nama yang diawali huruf I (i). Imuli, Inuria, Isani, Idira, Imase, Imari, I Tawe, I Mallu, I Rani, I Neri, Imimang, Inape, Idalle, bahkan ada yang namanya Ini. Iya Ini, hanya tiga huruf, I-N-I.
Awalnya saya berpikir bahwa “I” diawal nama itu hanya kata yang dipakai di depan sebuah nama, sama seperti penggunaan “Si”.  Namun menurut Sukman, tidak demikian. Penggunaan “I” adalah karena itu benar-benar nama mereka. Begitulah yang tertera di KTP. Unik juga ini kampung. Hahaha.

Cerita dan Mitos-Mitos dari Kalompi
Beberapa hari di Kalompi, saya mendapatkan cerita-cerita yang sifatnya legenda. Misalnya cerita tentang batu besar yang ada di pegunungan. Di dekat Desa, tepatnya diatas pegunungan terdapat beberapa batu yang ukurannya besar. Kalau tidak tertutup awan, kita bisa melihatnya dengan jelas. Cerita pertama, adalah tentang dua batu besar bernama batu Lorong dan batu Nenek Conan. Dua batu ini saling berbaris membelakangi. Batu Lorong berada di depan dan persis di belakangnya terlihat batu Nenek Conan. Konon, dahulunya batu Lorong lebih tinggi dari batu Nenek Conan. Karena cemburu, batu Nenek Conan marah dan menendang batu Lorong sehingga ukurannya lebih pendek. Ada-ada saja Nenek Conan ini. Sudah nenek-nenek kok masih suka tending baru. Hahaha. Entah apa makna cerita ini, tapi begitulah yang dipercaya warga setempat.
Cerita kedua, kembali tentang batu. Tak seberapa jauh dari batu Lorong dan batu Nenek Conan, terdapat dua batu besar lagi. Batu itu berdampingan seperti pasangan suami-istri.  Nama kedua batu itu adalah batu Lapuncu.  Konon, kedua batu itu memiliki anak, tetapi anak itu sekarang berada di laut.  Saya sempat bertanya, “Kenapa anaknya di laut tetapi orangtuanya di gunung? Sukman bilang, “itu sama saja dengan kenapa saya kuliah di Makassar tetapi orang tua saya di Barru”. Ternyata batu itu simbolisasi tentang perantauan. Sejauh apapun kau merantau, masih ada orang tua yang akan tetap menunggumu di rumah.
Lain Legenda, lain pula mitos.  Ada beberapa mitos yang telah mentradisi di sana. Mitos pertama yang saya dapat, lagi-lagi tentang batu. Dalam perjalanan menuju air terjun To magellie, kami berhenti disebuah tikungan yang menanjak atau tepatnya di batas dusun Tanru Tedong.  Kami harus mengambil sebuah batu yang ada di jalan kemudian meletakkannya kembali disembarang tempat. Jika baru pertama kali berkunjung, maka memindahkan batu seperti tadi harus dilakukan. Namun jika sudah pernah melakukannya dan kembali melewati jalanan tersebut, maka tak harus memindahkan batu lagi, cukup dengan membunyikan klakson kendaraan.
Mitos lainnya adalah ketika Sukman mengajak kami ke tempat pemandian air panas. Nama tempatnya adalah Wae Pallae (air Panas).  Tempatnya cukup jauh, sekitar 30 menit berjalan kaki melewati hutan. Tempat pemandian ini hanya seperti sungai-sungai biasa. Daerah sungainya terdapat banyak batu-batu besar yang dialiri air. Ada satu batu yang bentuknya aneh, batu itu seperti sedang bersujud. Menurut kepercayaan mereka, batu itu tidak boleh diinjak dan tidak boleh mandi di sekitar batu tersebut.  
Di sungai ini terdapat dua jenis aliran air. Air dingin yang daerah alirannya lebar. Sumber airnya pun tak bisa dilihat karena masih jauh ke dalam hutan. Kemudian terdapat juga air panas. Daerah alirannya kecil tetapi sumber mata airnya dapat dilihat langsung. Warga setempat meletakkan sebuah bambu besar dari sumber mata air ini agar airnya dapat ditadah.  Kedua aliran air ini betemu beberapa meter dari sumber mata air tadi. Di sekitar sungai juga terdapat beberapa gubuk yang tak berpenghuni. Ada satu tempat semacam gubuk  kecil dekat sumber air panas. Di sepanjang sisinya terdapat daun-daun kelapa kering yang tergantung. Tempat tersebut layaknya sebuah lokasi sesembahan atau semacamnya.
Uniknya, mandi disungai ini, harus melewati tahapan-tahapan. Pertama, harus mandi di air panas terlebih dahulu, kemudian pindah ke air dingin. Kemudian ke air panas dan pindah lagi ke air dingin. Begitu seterusya, selang-seling hingga  tiga kali. Tiga kali mandi di air panas dan tiga kali mandi di air dingin. Ingat, harus selang-seling. Jadi, selama sesuai tahapannya, kita bisa puas mandi di sini. Unik kan.
Begitulah kepercayaan mereka. Meskipun disana mayoritas muslim, namun kepercayaan leluhur tetap dipelihara hingga saat ini. Sesampai di rumah, saya baru tahu dari orangtua Sukman bahwa tempat itu, Wae Pallae, adalah tempat yang di keramatkan.  Setiap tahunnya, sekitar bulan Agustus kalau tidak salah, di tempat itu diadakan acara mappadendang, acara panen raya. Katanya, ayam dan kambing dilepas cuma-cuma untuk kemudian ditangkap. Gubuk kecil tadi, seperti dugaan saya, memanglah sebuah tempat sesembahan.
Benak saya sebenarnya dipenuhi pertanyaan dengan mitos-mitos seperti di atas. Pertanyaan “Tujuannya  apa?” pasti muncul pertama kali.  Memindahkan batu tujuannya apa?, mandi dengan tahapan selang-seling tujuannya apa? Namun, meskipun tak dapat jawaban yang pasti, saya akan tetap melakukannya. Prinsip “Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung” harus tetap dipegang. Dimanapun kita berada, selama tidak bertentangan dengan keyakinan kita, maka budaya warga setempat harus tetap kita hormati.
-Sekian-

~hym~

*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis.

Ini dia nih tempat Karaokenya



Air Terjun Wae Sai
Air Terjun Tanjung Asap





Air Terjun Tomagellie



Perhatikan baik-baik. Banyak nama yang diawali huruf "I"





0 komentar: