Aku ada dimana? Aku bukan dibumi dan juga bukan dilangit. Aku berada diantaranya. Aku bisa melihat dengan jelas manusia-manusia itu dar...

Truk-truk Maut


Aku ada dimana?
Aku bukan dibumi dan juga bukan dilangit. Aku berada diantaranya. Aku bisa melihat dengan jelas manusia-manusia itu dari sini. Aku bisa dengan seketika berada dibelakang manusia-manusia itu. Mendengar ia berbicara meskipun ia tak pernah dengar aku menyapanya. Aku juga bisa dengan sangat cepat pulang ke kampung halaman. Kalau dulu aku membutuhkan waktu beberapa jam, maka kali ini dengan waktu sepersekian detik maka aku seketika berada dirumah, dirumah orangtua. Ini mengasyikkan. Apakah ini yang namanya terbang. Tapi setahuku burung tak terbang secepat ini, meskipun itu burung besi, tapi tak pernah secepat ini. Ahh! Aku sebenarnya ada dimana? Kenapa orang lain tak bisa melihatku sementara aku bisa melihat mereka. Atau mungkin mereka hanya pura-pura tak melihatku. Ahh mereka ini, sukanya becandaan.
Dan disana itu, itulah kampusku. Tempatku menuntut ilmu setahunan ini. aku bisa melihat jelas dari atas sini. Dan didepan gerbangnya. Wow! Banyak mobil yang sedang parkir. Sangat panjang. Sepertinya ada acara besar. Wisudakah? Ahh aku juga ingin diwisuda, tapi entah kapan? Mungkin tiga tahun lagi. Tapi, tapi, setelah aku teliti, tampaknya itu bukan parkiran. Itu jalanan depan kampus. Wow! Macet panjang! Dugaanku, ini akibat pengerjaan perempatan diujung sana atau bisa juga karena truk-truk besar yang tiap hari lewat jalanan ini. Aduh kan kasian teman-temanku, jadi telat kuliah lagi.
“Kami menutut ini ditindak tegas. Kami tak mau kejadian ini akan terulang kembali” Ahh ternyata suara itulah biang kemacetan. Suara pemuda dengan pengeras suara ditanganya sedang berdiri dengan meyuarakan tuntutannya diatas mobil truk. Demonstrasi!
Tapi tunggu, tunggu, bukankah itu kak Nas? Ya betul, ia seniorku dikampus. Ahh kenapa juga dia mesti berdemo. Bukankah ini hanya membuat macet. Kenapa kak Nas? Kenapa? Baru kali ini aku melihatmu begitu. Aku tahu kamu punya jiwa kritis, tapi caramu bukan begini. Apa yang merubahmu? Kan kasian warga sekitar kampus. Tidakkah kamu kasian juga? Ahh sudahlah, ia tak akan bisa mendengarku.
“Betul… betul.. hidup mahasiswa” teriakan-teriakan puluhan mahasiswa lainnya kemudian menyergap keras. Suara-suara klakson silih berganti berbunyi.
“Kami menuntut agar truk-truk maut ini jangan lagi berkeliaran dijam-jam sibuk perkuliahan! Ini membahyakan bagi semua civitas akademika! Membahayakan kawan-kawan kami!” suara Kak Nas kembali menggelora.
Ternyata mereka semua menuntut truk truk itu agar tak lewat dijalan depan kampus. Hmmm, aku setuju juga. Kasian teman-temanku. Kan bahaya bagi mereka. Tapi kak Nas, jangan menutup jalan begini, kan kasian juga pengguna jalan, jadi macet panjang, aktivitas mereka jadi terganggu. Harusnya kak Nas dan teman-teman yang lain ke gedung DPR sana, kan mereka yang buat aturan tentang aktivitas truk-truk ini. Apa kak Nas tidak tahu? Apa kawan-kawan juga tidak tahu?  Aku ingin berbisik tapi aku tahu dia tak bisa dengarkan.
“Hidup mahasiswa! Hidup!” suara kawan-kawan demonstran silih berganti menyuarakan tuntutannya. Asap hitam pekat kemudian menyembul dari ban bekas yang dibakar. Macet semakin menjadi-jadi dan mereka masih belum juga mendengarkan aku.
“Kami tak mau ada Airin-Airin selanjutnya! Kami tak mau ada korban lainnya yang akan digilas truk-truk maut ini!” seru pemuda yang mengganti posisi kak Nas.
Tapi tunggu, kok namaku disebut? Digilas truk? Hah! Ada apa? Apa aku digilas truk? Jadi aku sudah mati? Oiya, aku ingat, kemarin aku memang sudah mati. Ahh aku ini bodoh atau bagaimana, kematian pun aku tak ingat. Tapi,tapi aku kan digilas truk, jadi aku tak ingat. Aku lupa ingatan, jadinya aku tak ingat. Tapi sekarang sudah ingat, untung mereka mengingatkanku. Ahh Kak Nas, ahh kawan-kawan, ternyata kalian menyuarakan tuntutan terhadapku. Terima kasih, aku terharu, tapi kalian masih tak bisa dan tak akan pernah bisa mendengarkanku karena ternyata aku sudah mati. Aku tak bisa wisuda tak akan pernah bisa. Kasihan ibu, kasihan ayah. Aku bingung, aku merenung!
***
Semalaman aku  memikirkan kematian. Memikirkan orangtua, memikirkan teman-teman, memikirkan kak Nas. Hah! Kak Nas? Oiya, aku lupa cerita tentangnya. Kak Nas sebetulnya salah satu pria yang istimewa dihidupku. Semenjak ia menyatakan perasaanya setahun lalu aku tak pernah beri jawaban. Aku bingung. Sebetulnya tidak bingung, akan tetapi aku tak mau pacaran. Bukannya aku tak mau bersamnaya, hanya saja, aku mau fokus dulu, tohh nanti pada waktunya, terus ia datang meminang, aku takkan ragu untuk berkata iya. Aku tak akan ragu memilihnya. Ciee,, cieee,, cieee. Ihh apasih? Aku kan jadi malu. Tapi aku serius, ia lelaki sempurna. Setidaknya menurutku, ia cerdas, romantis, dan penuh perhatian. Ia selalu hadir setiap aku butuh. Dan kemarin, tak kusangka kak Nas sampai-sampai kepayahan teriak-teriak. Sabar yah kak Nas, tunggu saja, semua akan indah pada waktunya. Tapi kan aku sudah mati, kalau begitu, sabar lagi yah kak Nas, kalau kita tak bisa dipersatukan didunia, semoga saja kita bisa dipersatukan diakhirat.
Ini semua karena truk-truk maut itu. Ahhh kau truk-truk maut, enyah kau dari kawan-kawanku, enyah kau dari hidupku! Apa? Hidup? Oiya, aku lupa, aku kan sudah mati. Kalau begitu enyah kau dari kematianku! Sampai mati pun kau masih menghantuiku. Ahh! Karena aksi demonstrasi itu, aku jadi ikut-ikutan bilang truk-truk maut. Padahal kan aku tak suka kata itu. Tapi sebetulnya aku benci juga sama truk itu, ia  membuatku mati. Makanya aku jadi bilang truk-truk maut juga. Seandainya bukan karena truk maut itu, aku tak akan mati. Dan seandainya bukan karena aku yang teralu dekat ke truk maut itu, akupun tak akan mati. Dan seandainya jalanan itu tak diperbaiki, aku pun tak akan mati Dan seandainya aku berangkat lebih awal, aku pun tak akan mati. Dan seandainya aku beli gorengan terlebih dahulu aku tak akan mati. Dan seandainya. Dan seandainya. Dan seandainya. Ahh! Apa juga aku ini, kenapa aku berandai-andai. Ini semua sudah takdir Tuhan. Kalau aku mati begini, ya mati begini aja. Semua orang akan mati kok, dengan jalannya yang berbeda-beda. Dan takdirku mati dilindas truk maut. Aku masih bingung, masih merenung!
***
“Hai Rin” khayalanku berhanmburan tatkala aku terkejut dengan kedatangan seorang wanita yang menegurku lembut.
 “Hai juga” jawabku pelan melongok kemukanya. Dia Lupi. Ternyata dia disini juga. Tentulah, dia kan mati lebih dulu dari aku. Dia teman kampusku tapi beda fakultas. Dia mati terlindas juga. Bukan truk maut, tapi mobil keluarga. bukan sepuluh roda, hanya empat roda. Aku mndengar berita kematiannya dari temanku. Satu hari sebelum aku mati. Agak ngeri juga mendengarnya. Dia terlindas mobil dan Kejang-kejang ditempat. Yang aku dengar, dia tak langsung dibawa kerumah sakit. Orang-orang sibuk berdebat. Telepon ambulans lah, hubungi keluarganya lah, bertanya siapa namanya lah, siapa yang tanggung jawab lah. Ahh! Orang sudah mau mati, masih juga debat sana-sini. Bawalah dulu kerumah sakit, urusan itu-itunya nantilah belakangan. Begitulah gambaran orang-orang sekarang, kemanusiannya dipertanyakan. Banyak omong, tapi tak banyak tindakan. Ahh manusia! Untung aku sudah mati. Kemudian si Lupi tadi ini dibawa kerumah sakit. Entah bagaimana ceritanya yang bawa adalah pelaku penabrakan juga. Harusnya sih memang begitu. Tapi nasibnya malang, sama denganku. Dia  akhirnya mati. Nahas juga dia, tapi tak lebih nahas dariku.
“Ohh kau disini juga? Kapan kau mati?” tanyanya kemudian santai.
“Kemarin dulu” jawabku.
“Mati kenapa?”
“Dilindas mobil truk”
“Hah! Dilindas mobil? Aku juga mati terlindas mobil. Tapi bukan truk, mobil biasa. Aku mau dengar tentang kematianmu. Ceritakan padaku, ceritakan!” baru kulihat raut mukanya berubah. Dia begitu antusias ingin mendengar bagaimana aku mati. Dia mengoyang-goyangkan badanku.  Aku terganggu tentu. Ahh kenapa juga ia tertarik tentang cara mati? apa dia sedang meneliti tentang kematian? Apa ada kampus disini yang memberinya tugas meneliti? Ahh! Aku ada dimana sebenarnya? Aku bingung. Aku merenung!
Tapi memang, sebelum aku mati, orang-orang selalu tertarik tentang berita-berita duka. Orang-orang akan berbondong-bondong untuk mengetahui bagaimana si ini mati, si itu mati. Sementara anak yang baru lahir? Orang-orang tak pernah seantusias tentang kematian. Ohh aku tahu, karena memang pada hakikatnya, kematian adalah berita bahagia. Bahagia karena orang yang mati akan bertemu dengan Tuhan. Sang penciptanya. Makanya mereka datang untuk merayakan bertemunya orang yang mati itu dengan Tuhan? Entah. Banyak orang yang berduka setelah matinya keluarganya, matinya temannya, matinya kerabatnya, padahal kematian bukan sebuah kedukaan. Kematian adalah kesempurnaan. Setidaknya menurut mbah Tedjo, penulis yang aku kagumi dan aku setuju itu. Tapi Mbah, kok aku belum ketemu Tuhan yah? Mungkin besok kali yah mbah? Aku akan titip salammu untuk Tuhan mbah, tapi mbah harus janji, tanda tangan yah dibukuku. Ahh! Aku lupa lagi. Aku kan sudah mati. jadi percuma juga aku minta tanda tangan mbah Tedjo. Ahh sialan! Aku bingung. Aku merenung!
***
Setelah aku ceritakan panjang lebar ke Lupi tentang kematianku, dia langsung ngeri juga. Tak henti-hentinya dia membayangkan bagaimana truk-truk maut itu merenggut nyawaku. Dan dia tak henti-hentinya melontarkan kalimat-kalimat berapi-api dari mulutnya.
“Ini tak bisa dibiarkan! Tuntutan teman-teman harus segera terwujud. Aku tak mau ada korban-korban seperti kamu lagi nanti dan juga sepertiku. Truk-truk itu, tidak boleh beroperasi dijam sibuk perkuliahan. Birokrasi kampus harusnya mendukung, yang jadi korban kan mahasiswanya sendiri, seharusnya mereka memang mendukung. Mereka harus menuntut ke DPR, dan orang-orang DPR harus memperjuangkan itu. Paling tidak, kalau truk-truk itu mau lewat, harus malam hari saja. Kabar yang kudengar, di kota sebelah mobil-mobil raksasa hanya boleh lewat dimalam hari dan dijam tertentu. Nah disini, dikampus kita, harus seperti itu juga!” aroma tusukan-tusukan yang keluar dari mulutnya mengingatkan aku kepada aktivis-aktivis kampus yang sering berkoar-koar.
“Sudah, pihak rektorat sudah mendukung mereka” Aku diam-diam membaca ponsel pintar salah seorang mahasiswa yang asyik duduk dikafetaria pagi ini. Makanya aku tahu.
“Bagus-bagus. Terus DPR, bagaimana?” tanya Lupi sekali lagi.
“Mereka sedang menyuarakan tuntutannya kesana”
“Nahh! Harus itu! Anggota dewan yang terhormat itu harus membuka mata soal truk-truk maut ini. Bukan soal kepentingan ini, kepentingan itu. Ini persoalan kemanusaian!”
“Iya betul, memang betul. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita sudah mati, bicara dengan cara apapun itu, orang-orang tak akan pernah bisa mendegarkan kita” aku menyumpalnya dengan kalimat itu agar ia diam. Dan benar, dia seketika terdiam. Aku pun terdiam. Sebetulnya aku suka gayanya bicara, seandainya dia masih hidup, aku bayangkan dia akan berada dijajaran paling depan menyuarakan tuntutan tentang truk-truk maut ini. Yang tak kusuka, dia tak sadar bahwa dia sudah mati. Dia begitu lantang bersuara, tapi tak mampu dan tak akan mampu mengubah apapun. Percuma kalau hanya dimulut saja, kata orang, hanya omong doang. Nihil! Nol besar! Tapi dia masih terdiam, mungkin sudah sadar. Semoga!
Tapi tunggu dulu, apa dia bilang truk maut tadi? Hah! Darimana dia dapat istilah itu? Aku kan tak pernah bilang. Apa dia tahu isi hatiku? Apa dia bisa membaca pikiran.? Ahhh semakin aneh saja tempat ini. Aku ada dimana sebenarnya? Apakah ini yang dinamakan alam setelah kehidupan? kalau benar, aku tak akan bisa berinteraksi lagi dengan keluargaku, kawan-kawanku, juga Kak Nas sampai mereka mati juga. Sepertinya begitu. Ahh sudah! Aku pamit saja kepada mereka. Sampaikan salamku kepada mereka dari alam kematian ini. Dan kau keluargaku, ayah, ibu, aku minta maaf, anakmu banyak salah. Dan kau teman-temanku, aku nitip salam sama dosen-dosen yah, terima kasih atas ilmunya. Dan kau, dan kau para kawan-kawan demonstran, aku berharap kepadamu, Suarakan pesan-pesan kemanusiaan, aku tak mau ada aku-aku yang lainnya yang jadi korban lagi.  Dan Kau kak Nas, aku harus jujur aku, mencintaimu. Aku tunggu kamu disini yah. Dan kau Lupi, kenapa kau hanya diam? Apa kau sudah sadara bahwa kau telah mati? Ayo sadar cepat, aku kan butuh teman. Dan kau, dan kau, dan kau!. Ahh sudah! Aku mau tahu lebih dalam tempat ini. Karena aku semakin bingung, semakin merenung!

Note: Ini adalah cerpen gagal. Gagal juara dalam Festival Sastra Islam Nasional 2015. Hahaha. Ohh iya satu lagi, cerpen ini kudedikasikan untuk  dua orang mahasiswi UIN Alauddin Makassar yang menjadi korban kecelakaan disekitar kampus UINAM beberapa minggu yang lalu. Hanya ini yang bisa kupersembahkan. Selamat jalan kawan.

~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis







2 komentar:

  1. Terus berjuang dan menulis sapa tau nanti lolos...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Siipp sipp. Masih proses belajar ini.

      Hapus