Masih aku terdampar dipucuk sang waktu kala mata warna serupa  merah digaris cakrawala. Diambang pintu, cahaya menjelma rupa masuk dia...

Mereka Warna

Masih aku terdampar dipucuk sang waktu kala mata warna serupa  merah digaris cakrawala.
Diambang pintu, cahaya menjelma rupa masuk diantara kaca jendela.
Siluet wajah menampakkan diri dilantai putih yang mengambang ditemaram remang-remang
dan kata yang lewat dicelah  bibir menampar menerawang. Aku terkenang!
***
Aku menabur bunga-bunga dimata warna menjelang gelap membuka ruang,
ketika harapan menggantung diujung tenggorokan yang termakan panggilan Tuhan.
Kemana jadi aku membawa warna yang mengikat hati dengan tali?
Kutebar aroma manis dijalan warna yang tak terlepas dan tak pergi. Aku menanti!
***
Sang waktu, berpendar hitam menghilang menyingkap liang.
Warna datang mengetuk, menarik terbang ke awang-awang.
Suara dan rona berjumpa puspa yang bercampur diperapian.
Impian memukul pundak menghilang menghangatkan. Aku menahan!
***
Bunga api tersulut, membakar kertas perjalanan.
Apa sebab? Warna tak kunjung bersuara. Warna terdiam.
Api membakar kenang, api membakar kelam bak raksasa dengan mata tajam.
Apa sebab? Warna tak kunjung ada, warna tak jua kata. Aku termenung!
***
Kemudian warna menghilang selepas gelap semakin kelam dihening malam.
Kegelapan diujung jalan memakan warna dengan jubah hitam kelam.
Warna lenyap semakin gelap semakin dalam tapi tak jua menghilang.
Kemudian warna menyapa diujung ingatan yang tak kunjung padam.
Sebuah kenang-kenangan dihampar warna diujung mata lesung pipi.
Warna terang semakin  terang tak jua sembunyi dikedinginan.
Kemudian warna bertolak, kemudian warna menyibak.
Disni, aku masih menghasrat!
***

~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: