View dari atas Kelapa Tujuh Tak banyak yang berubah dari kota Mamuju sejak saya tinggalkan untuk  kuliah beberapa tahun yang lalu. Sem...

Mamujuku Kini : Catatanku Tentang Kota Mamuju Hari Ini

View dari atas Kelapa Tujuh
Tak banyak yang berubah dari kota Mamuju sejak saya tinggalkan untuk  kuliah beberapa tahun yang lalu. Semasa SMA, kota kelahiran saya ini, memang telah nampak perubahan disana-sini. Semenjak menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat, memang pembangunannya semakin pesat. Kantor-kantor, ruang-ruang publik, landmark (tanda kota) dan beberapa infrastrktur dibangun dibeberapa tempat. Kemarin, saya berkeliling untuk melihat-lihat kota ini lagi. Mengunjungi spot-spot yang untuk saat ini, menurut saya, menjadi indikator perkembangan kota ini.  
Yang pertama adalah, Kelapa Tujuh. Bukit ini berada di sebelah timur dan langsung menghadap ke kota. Saya agak lupa tentang mitos penamaannya, namun seingatku ada kaitannya dengan kelapa yang berjumlah tujuh - entah kelapanya ataukah buahnya. Disini, bisa dengan sangat jelas melihat kota yang nampak kecil dari ketinggian, nampak jelas biru laut dan biru langit membentuk garis cakrawala. Pulau Karampuang pun nampak sangat jelas bentuknya dari atas bukit ini. Sangat indah.
Sekarang kelapa tujuh telah “berevolusi”. Sejak beberapa tahun yang lalu, tulisan besar “MAMUJU CITY” terpajang disini. Jika kita melihat dari kota, tulisan ini nampak jelas. Melihatnya, saya berfikir ini hanya meniru “Hollywood” yang ada di Amerika sana. Tak hanya itu, kelapa tujuh juga menjadi tempat tinggal Bupati Mamuju. Rumah jabatannya dibagun disini. Alasan yang paling masuk akal mungkin untuk menjauhkan hiruk-pikuk dunia politik. Namun terlepas dari itu semua, kelapa tujuh sekarang menjadi salah satu landamark yang patut dibanggakan dari kota ini.
Rumah Jabatan Bupati Mamuju

Pulau Karampuang dikejauhan
Ini nih yang namanya Hotel Maleo
Selanjutnya saya bergerak kearah barat, menuju daerah pantai. Jalanannya sudah sangat lebar. Pantai ditimbun untuk membangun. Truk-truk lalu-lalang membawa semen. Disini paling terasa perkembangannya. Bagaimana tidak, saya ingat dulunya disini terdapat dua  pelabuhan. Pelabuhan batu yang dermaganya batu dan pelabuhan kayu yang dermaganya kayu. Ada juga restoran Pantai Indah, restoran ini menjorok kelaut dan menjadi salah satu rumah makan primadona dikota Mamuju ini. Namun sekarang, nama-nama itu telah hilang seiring timbunan tanah gunung. Sepanjang pantai telah bermunculan bangunan-bangunan baru. Yang pertama terbangun disini adalah sebuah hotel. Namanya Hotel Maleo, hotel berbintang yang pertama di Mamuju. Kemudian, masih disekitar pantai, sedang dalam pembangunan juga, bangunan yang nantinya menjadi sebuah Mall (pusat perbelanjaan) katanya. Hal menarik lainnya disini adalah, ada sebuah landmark baru yang sedang dibangun. Tulisan besar “PANTAI MANAKARRA” terpajang jelas, bangunan seperti jari yang mengadap keatas juga terbangun didepannya, serta atap-atap seperti  yang ada di Masjid Nabawi berjejer. Tampak beberapa pekerja berpanasan dalam melanjutkan kerjaannya disana. Agaknya anjungan pantai ala Pantai Losari sedang dibangun disini.

Pantai Manakarra dalam proses pengerjaan

Bergerak ke barat sedikit, para pekerja jalan sedang asik dengan kerjaannya. Memang sepanjang pesisir pantai di Mamuju telah ditimbun. Ini adalah proyek membangun jalan besar yang nantinya mungkin akan menjadi jalan Provinsi. Sebelum lepas dari sana, dari kejauhan dapat saya lihat rumah adat yang berdiri kokoh. Ingatanku terkenang masalampau. Dulunya ditanah tempat rumah adat itu adalah pantai, tempat dimana saya sering memancing. Sekarang dan telah lama, kaki-kaki rumah adat Mamuju menancap disana.

Lepas dari sana, saya menuju Masjid Raya, masjid besar dengan empat menara tinggi yang mengelilinginya. Ingatanku kembali terkenang, disini dulunya adalah Masjid Agung. Masjid peninggalan era Soeharto dengan pekarangan yang sangat luas. Disinilah dulunya saya menghabiskan waktu kecil saya untuk belajar mengaji.  Sekarang Masjid agung telah menjadi Masjid As-Suhada. Bangunan megah kebanggaan warga kota Mamuju. Perjalanan hari itu saya akhiri di pelabuhan mamuju. Mobil-mobil truk menunggu kapal yang sebentar lagi berlabuh ke dermaga.


Masjid Raya Mamuju
Daerah sekitar pelabuhan
Itulah sepenggal perjalanan saya di kota Mamuju. Namun, selain dari landmark-landmark tersebut, pembangunan di Mamuju juga sangat terasa pada sektor infrastruktur dan perkantoran. Jalanan-jalan telah banyak diaspal membuat nyaman para pengguna jalan. Bantaran sungai juga diberi tanggul untuk mencegah banjir. Kemudian perkantoran dan sekolah-sekolah telah banyak diperbaharui. Rumah sakit sebagai sarana kesehatan juga semakin baik. Hal ini tentunya memberikan kenyamanan kepada masyarakat Mamuju.

Namun terlepas dari itu ada beberapa catatan saya terhadap pembangunan kota ini. Agaknya pemerintah Kota kurang memperhatikan beberapa titik jalan. Ada beberapa jalan yang masih berlubang. Bahkan dalam pengamatan saya, jembatan yang terdapat di daerah kali Mamuju, dari dulu tak nampak perubahan. Belum diperbaharui. Masih sangat berbahaya bagi pengguna jalan disana. Padahal jembatan ini sangat dekat dengan jalanan yang menuju kearah rumah jabatan bupati yang ada dikelapa tujuh. Seharusnya pemerintah memerhatikan hal-hal yang sekecil ini. Tak hanya berfokus membangun didaerah yang tampak oleh mata pendatang, tetapi juga memperbaiki dan mengembangkan di daerah-daerah pedalaman kota.

Mamuju saat ini, telah berkembang pesat. Yang saya banyangkan dimasa yang akan datang Mamuju akan semakin berubah. Mungkin akan seperti Makassar yang nantinya akan dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi. Tetapi muncul kekahwatiran dalam pikiran saya akan adanya persoalan-persoalan baru terkait pembangunan ini. Masalah saluran drainase misalnya. Ini juga harusnya diperhatikan oleh Pemkot (Pemerintah Kota) Mamuju. Masalah ini memang agak kecil namun bisa berdampak besar jika tak dihiraukan. Lima atau sepuluh tahun kedepan, ditengah proses pembangunan, akan sangat banyak timbun-menimbun. Daerah resapan air akan sangat berkurang atau bahkan tidak ada. Memperbaharui dari sekarang adalah salah satu langkah pencegahan timbulnya masalah seperti banjir dan genangan air. Yang saya baca dari Mamuju, pembangunannya diarahkan kedaerah pesisir pantai. Mengeruk tanah gunung dan menimbun laut. Hal ini tidak salah, namun harus tetap dipertimbangkan dampaknya nanti. Dampak ligkungan yang harus tetap ada antisipasi pencegahannya.

Saya teringat ayat dalam al-quran “…Bukankah Kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? (an-Naba 78: 6-7)”.

Gunung sebagai pasak. Itulah pointnya. Allah SWT telah menyebutkan bahwa gunung adalah pasaknya bumi dan kini di Mamuju pasak-pasaknya dikeruk, pasak-pasak Mamuju dicabut. untuk dijadikan penimbun di pantai.  Mamujuku kini telah berbeda, maju selangkah dari yang lampau. Namun kemajuan seharusnya tetap mempertahankan keseimbangan. Keseimbangan antara manusia alam dan Tuhan.

~hym~
Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis

0 komentar: