“Sabtu 4 April 2015 menjadi hari yang pilu bagi Fira, salah seorang mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin...

UIN ALAUDDIN MAKASSAR, POTRET KAMPUS PERADABAN YANG TIDAK BERADAB


“Sabtu 4 April 2015 menjadi hari yang pilu bagi Fira, salah seorang mahasiswi jurusan Akuntansi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Dia baru saja kehilangan sepeda motor kesayangannya. Motor yang terparkir rapi di belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) itu raib digasak kawanan pencuri. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 10 pagi saat pergantian mata kuliah. Bersama teman-teman kelasnya, berbagai usaha pun dilakukan. Dengan segera mereka menyisir daerah sekitaran kampus. Namun hasilnya nihil tak membuahkan hasil. Tak adanya pihak keamanan kampus membuat kebingungan mereka semakin menjadi-jadi. Tampak kesedihan diraut wajah Fira dan juga rekan-rekannya. Usaha mereka untuk mencari hanya sebuah kesia-siaan. Pagi itu seakan menjadi hari berkabung bagi mereka dan harus memasrahkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian”.

Kasus diatas adalah sebuah kisah nyata yang merefleksikan bagaimana kondisi keamanan kampus kita tercinta UIN Alauddin Makassar. Mahasiswa masih terus terbayang-bayang kekhawatiran terhadap kondisi keamanan kendaraannya. Berbagai kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang pernah terjadi sebelumnya seakan tak menjadi bahan pembelajaran bagi pihak keamanan kampus untuk menghilangkan tindak kejahatan ini. Entah mengapa, pelaku curanmor itu dengan gampanganya megambil satu persatu kendaraan para mahasiswa.  Melihat kondisi yang seperti ini, sudah sepatutnyalah pihak kampus harus segera mengambil tindakan tegas untuk menanggulanginya. Ini guna memberikan rasa kenyamanan dan keamanan kepada para mahasiswa untuk menuntut ilmu di kampus yang katanya berperadaban ini.
Berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, biasanya pihak keamanan kampus baru akan melakukan pemeriksaan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) apabila telah terjadi kecurian. Pemeriksaan tersebut ditujukan sebagai respon agar tindak kejahatan curanmor tak tejadi lagi. Namun apalah arti tindakan proteksi tersebut jika tidak dibarengi dengan konsistensi. “Panas-panas tai ayam”, mungkin kalimat itulah yang patut disematkan kepada pihak keamanan kampus. Pemeriksaan hanya berlangsung satu-dua hari kemudian setelah itu, kembali seperti sedia kala. Kembali membuka pintu lebar-lebar untuk para pencuri itu beraksi lagi. Hanya sebuah bentuk kamuflase pertanggungjawaban pihak kampus kepada mahasiswa. Tak memberikan efek apapun, dan hanya menjadi biang kemacetan di gerbang keluar-masuk kampus.
Setali tiga uang dengan kasus pencurian motor, pencurian laptop pun juga sering terjadi. Di masjid kampus misalanya, sudah banyak mahasiswa yang kehilangan Laptop (Komputer Jinjing). Mereka harus pasrah tak tau harus kemana mencari laptop mereka. Masjid kampus memang menjadi tempat yang rawan terjadi pencurian. Masjid menjadi salah satu sarang pencurian Dengan modus melaksanakan shalat, para pelaku itu akan dengan mudahnya mengambil tas-tas mahasiswa yang menjadi korbannya.
Entah apa yang salah dengan kampus ini. Mengapa para pelaku kejahatan itu bebas melenggang dengan santainya? Mengapa tak ada efek jera bagi mereka? Mengapa pihak kampus seakan-akan membiarkan ini terus terjadi dan seakan-akan menelantarkan mahasiswanya? Mungkin inilah potret kampus peradaban yang sesungguhnya, dimana “binatang” dan manusia hidup berdampingan. Dimana “anjing-anjing” dengan liarnya bebas berjalan diantara mahasiswa.
Longgarnya keamanan kampus menjadi salah satu penyebab berbagai kasus pencurian tersebut bisa terjadi. Tak adanya bentuk pengamanan yang efektif, membuat para pelaku kejahatan itu dengan bebasnya merajalela di lingkungan kampus. Seakan menjadi lahan tambang emas bagi mereka untuk melancarakan aksi-aksinya. Tak adanya tindakan yang kongkrit, membuat mereka melenggang dengan santainya.
Apakah ini buah dari kekisruhan Pemilhan Rektor (Pilrek) UIN? Ini bisa jadi adalah impilkasi dari tak adanya rektor definitif dari UIN Alaudin Makassar. Yang berdampak pada tak adanya program kerja yang berjalan maksimal dan berdampak pula terhadap kondisi keamanan kampus. Namun melihat dari sejarah rektor sebelumnya, memang tak pernah memberikan perhatian yang maksimal terhadap aspek keamanan.
Ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Setidaknya dibutuhkan pengendalian jangka panjang dalam menanggulangi hal ini. Pemanfaatan maksimal teknologi adalah menjadi opsi terbaik. Penggunaan Closed Circuit Television (CCTV) adalah salah satu jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Dengan memasang CCTV pada setiap sudut kampus, fakultas, dan juga di Masjid, tentunya akan mudah untuk menangkap para pelaku pencurian tersebut. Meskipun akan menelan banyak biaya, namun apalah arti uang-uang itu jika memang digunakan untuk tujuan yang baik. Demi kepentingan mahasiswanya.
Tak hanya itu, pengetatatn keamanan juga diperlukan. Pihak keamanan kampus sudah semestinya bekerja maksimal. Bentuk pengamanan seharusnya dilakukan secara konsisten. Tak menunggu ada kejadian baru mengambil tindakan. Harus ada langkah pasti dan dilakukan secara terus-menerus agar dapat meminimalkan atau bahkan  menghilangkan pencurian-pencurian yang selama ini terjadi. Hal ini seharusnya menjadi bahan pembelajaran, agar pihak otoritas kampus juga memerhatikan aspek-aspek seperti ini. Keamanan tercipta, kenyamanan terjaga adalah salah satu jalan untuk mewujudakan kondisi perdaban yang hakiki. 

(Opini yang dikirim dibeberapa redaksi namun tak pernah terbit. :-D)

~hym~
*Penulis yang ingin belajar, pelajar yang ingin menulis




3 komentar: