Sumber: Viva.co.id /Hari Pertama/ Saya berada di sebuah ruangan pemeriksaan kesehatan tatkala seorang lelaki yang telebih dahulu be...


Sumber: Viva.co.id

/Hari Pertama/
Saya berada di sebuah ruangan pemeriksaan kesehatan tatkala seorang lelaki yang telebih dahulu berada di sana menawari bantuan untuk mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Sontak saya menolak, pasalnya dia meminta bayaran Rp 375.000,00. Sangat mahal. Padahal, untuk membuat SIM, biayanya jauh di bawah itu. Untuk SIM A, SIM yang mau saya urus,itu misalnya, biaya untuk buat baru hanya Rp 120.000,00 dan kalau perpajangan, biayanya lebih murah lagi, yakni Rp 80.000,00. Sangat jauh berbeda dari tawaran lelaki tadi. Dari gelagatnya, saya cukup yakin kalau lelaki itulah yang disebut calo.
Siang itu, setelah membayar Rp 25.000,00 untuk biaya pemeriksaan dan mendapat surat keterangan berbadan sehat, saya segera meninggalkan ruangan pemerikasaan kesehatan itu untuk mempersiapkan kelengkapan berkas lainnya, yakni foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Persyaratan untuk memohon SIM baru memang cukup mudah, hanya foto copy KTP dan Surat keterangan berbadan sehat plus formulir registrasi tentunya. Formulir registrasinya sendiri, disediakan oleh petugas di Satuan Lalu Lintas (Satlantas) yang bersangkutan.
Setelah semuanya lengkap, saya menyerahkan semua kelengkapan berkas dalam sebuah map kepada seorang petugas yang bertugas di loket pendaftaran. Saya kemudian menunggu nama disebut untuk dapat melanjutkan ke proses selanjutnya. Di ruangan pelayanan itu telah banyak juga orang yang mengantre, baik yang duduk di kursi yang disediakan maupun yang berdiri karena tidak dapat tempat. Gambaran ruang pelayanannya sendiri, terdiri dari beberapa loket. Selain loket pendaftaran, juga terdapat loket pengambilan formulir registrasi, loket pembayaran untuk membayar biaya pembuatan SIM, dan loket penyerahan SIM kalau SIM-nya sudah dicetak. Semuanya berada dalam satu ruangan yang kalau misalnya dipakai untuk main bulutangkis, niscaya tidak akan muat.
Sialnya, baru beberapa saat menunggu, pelayanan tiba-tiba dihentikan. Katanya Presiden Jokowi telah tiba di (kotanya disensor saja yah) dan seluruh aparat harus menyambut kedatangan beliau. Saat-saat seperti ini, saya jadi benci pak Jokowi. Kenapa sih pakde ini datang saat saya sedang mengurus SIM? Uhh syebel dah ….

/Hari Kedua/
Ruang pelayanan itu sudah agak sepi saat saya datang kembali keesokan harinya. Petugas yang berada di loket pendaftaran memberikan map saya yang kemarin dan mempersilakan masuk ke sebuah ruangan lain untuk proses selanjutnya. Di sana data saya diinput menggunakan kemputer oleh seorang petugas lainnya. Kalau tidak salah ingat, katanya hal ini dilakukan untuk mengintegrasikan data SIM dengan data KTP. Entahlah, saya ngikut saja prosedurnya. Setelah itu, saya dipersilakan ke ruangan lainnya untuk proses pemotretan. Di sini, tak hanya potret wajah yang diambil, tapi sidik jari dan tanda tangan juga. Sampai di sini, data-data untuk pembuatan SIM sebetulnya sudah lengkap. Hanya saja, pemohon harus melewati dua prosedur penting lainnya: ujian teori dan praktik (katanya, untuk pengurusan perpanjangan SIM, tidak melewati dua ujian ini).
Sialnya lagi, saat saya hendak masuk ke ruangan ujian teori, kata petugasnya pelayanan sudah tutup. Apa yang salah? Hari itu saya tiba pukul sekitar 14.30 dan saya pikir, satu setengah jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan seluruh prosedur pembuatan SIM. Tapi ternyata, pelayanan tutup pada pukul 15.00 dan tidak ada pilihan lain bagi saya selain balik badan, simpan map di petugas loket pendaftaran dan segera pulang. SIM masih belum selesai. Syebel ….

/Hari Ketiga/
Sembilan hari berikutnya saya datang lebih awal. Sesampainya di ruangan ujian teori, seorang petugas meminta berkas saya. Dia kemudian memberikan semacam nomor registrasi. Di ruangan itu, telah tersedia banyak komputer yang berjejer rapi, mengigatkan saya pada laboratorium komputer sewaktu SMP dulu. Saya mengambil tempat dan memasukkan nomor registrasi tadi ke komputer agar dapat mengakses soal. Ujiannya memang menggunakan komputer dan serba otomatis. Hari itu ujian, hari itu juga diperoleh hasilnya.
Sebelum masuk ke soal-soal inti, ada 7 buah pertanyaan survei yang mesti dijawab. Pertanyaan ini tidak akan berpengaruh pada hasil ujian nantinya. Ujian kemudian dimulai ketika soal-soal berikutnya muncul. Sebanyak 30 soal harus dijawab dalam waktu 15 menit. Jika tidak mencapai batasan nilai yang dipersyaratkan, akan dinyatakan tidak lulus atau kalau kehabisan waktu dan juga tidak mencapai batasan nilai, juga dinyatakan tidak lulus. Saya tidak tahu berapa passing grade-nya, yang jelas, saya menjawab semua soal dan meskipun tak benar semua, saya akhirnya dinyatakan lulus.
Selepas dari sana, lanjut ke ujian praktik. Awalnya saya mengira ujian praktinya akan menggunakan simulator, tapi ternyata tidak. Saya diarahkan ke sebuah ruangan terbuka yang di sana ada beberapa mobil dan motor yang terparkir. Itulah tempat ujian praktik SIM ini. Setelah melapor dan menyetor berkas kepada petugas di sana, saya akhirnya dipersilakan memulai ujian ini. Ujian praktiknya terlihat cukup gampang, hanya memajukan mobil dari parkiran sambil berbelok ke kiri, kemudian mundur dan memarkirnya lagi. Yang bikin sulit sebab harus dilakukan dengan satu kali putaran setir. Kalau lebih, ya gagal. Tak hanya itu, sebelum saya memulai ujian, di kanan-kiri mobil diletakkan dua pipa pendek sebagai pembatas. Kalau mengenainya, ya sudah pasti gagal. Untungnya saya berhasil melwati ujian ini. Sudah selesai? Belum. Setelah itu, saya pun harus mengartikan isyarat aba-aba dari polisi lalu lintas. Untungnya lagi, beberapa gerakan bisa saya jawab tapi kebanyakan tidak.
Sampai pada tahap ujian praktik, saya merasa pengurusan SIM ini lancar-lancar saja. Kalau sebelumnya ada yang bilang ujian-ujiannya sulit, nyatanya tidak demikian. Ujian teorinya setidak-tidaknya tidak sesulit ujian nasional dan ujian praktiknya bahkan lebih mudah dari berkendara di tengah kemacetan kota. Sampai di sini, saya merasa sudah pantas lulus dan akan segera mendapat SIM. Namun akhirnya pikiran itu kemudian berubah karena sebuah percakapan dengan salah seorang petugas ujian praktik. Kira-kira seperti ini.
“Kau bawa berapa uang?”
“150,” jawab saya berbohong, sebab di dompet saya sebetulnya ada 190 ribu.
“Datang lagi hari senin, tambah lagi 50, atau kapan-kapanlah kalau sudah ada uangnya,” kata petugas itu sambil menyerahkan sebuah kertas kecil yang telah ditulis nama saya di satu sisinya dan juga terdapat nama salah seorang lagi di sisi lainnya.
Berkas saya disimpan di sana dan saya pulang dengan perasaan bingung antara lulus atau tidak. Tapi terlepas dari itu, satu hal yang pasti: urusan SIM ini masih belum selesai. Syebel ….

/Hari Keempat/
 Saya kembali 12 hari berikutnya dengan membawa Rp 200.000,00 di dompet. Tapi untungnya uang itu tidak pernah diminta. Entah karena lupa atau mungkin karena banyak orang waktu itu. Yang jelas, ketika saya perlihatan kertas kecil yang diberikan petugas itu, saya hanya diminta menuju ke sebuah ruangan lain untuk melakukan semacam verifikasi berkas. Setelahnya, saya diarahkan untuk membayar biaya pembuatan SIM di loket pembayaran. Itu saja.  
 Setelah membayar sebesar Rp 120.000,00 saya beralih ke ruang cetak SIM. Sialnya lagi, SIM belum bisa dicetak. Blangko kosong. Saya hanya diberi dua buah kertas: tanda bukti SIM sementara dan data verifikasi. Untungnya, kedua kertas itu setara SIM. Itu artinya saya telah mendapat izin untuk mengemudikan mobil. Tapi dengan itu pula, artinya saya masih harus kembali lagi kalau SIM sudah dicetak. Urusan SIM ini masih belum selesai-selesai juga. Syebel ….

/Hari Kelima/
Setelah menghubungi call centre beberapa kali untuk menanyakan perihal SIM, tepat 63 hari berikutnya saya datang lagi. Katanya SIM sudah dicetak dan sudah bisa diambil. Di ruang pelayanan itu, saya meyerahkan dua buah kertas tanda bukti SIM sementara dan data verifikasi kepada petugas loket penyerahan SIM. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, nama saya dipanggil dan kemudian SIM diserahkan. Urusan SIM ini akhirnya selesai.

***

Begitulah kura-kura perihal urus-mengurus SIM ini. Terlihat lama memang. Tapi kalau saya kira-kira, pengurusan SIM ini sebetulnya bisa selesai dalam waktu dua jam saja atau bahkan kurang dari itu. Tetapi, pengurusan yang cepat dan tentunya juga murah itu, dapat terjadi hanya dengan syarat dan ketetentuan berlaku. Cepat apabila misalnya tidak ada penghentian pelayanan yang tiba-tiba dan juga blangko SIM tersedia saat SIM mau dicetak. Pengurusan SIM juga akan murah apabila misalnya tidak pakai calo, atau tidak ada oknum yang sedang rese yang bisa menguras uang. Sepertinya memang, dibutuhkan sebuah keberuntungan agar terhindar dari  beberapa kondisi-kondisi seperti itu. Untuk itu, bagi kalian yang sedang dan ingin mengurus SIM, semoga beruntung.

Sudah, itu saja.

Saya memiliki sebuah laptop, yang pada sebuah tulisan saya pernah berkata  bahwa ia adalah salah satu benda berkesan yang saya punya. Saya ...

Saya memiliki sebuah laptop, yang pada sebuah tulisan saya pernah berkata  bahwa ia adalah salah satu benda berkesan yang saya punya. Saya membelinya atau tepatnya dibelikan orang tua pada tahun 2009. Itu artinya, kurang lebih sudah delapan tahun ia menemani saya, dari SMA hingga tamat kuliah pada tahun 2017 ini. Saya bilang berkesan, sebab memang memiliki banyak kenangan, mulai dari digunakan untuk bermain game hingga sukses menemani saya menyelesaikan skripsi. Pernah suatu ketika saya dan teman SMA bolos dari satu mata pelajaran di sekolah dan menghabiskan waktu hanya untuk bermain game bola di laptop itu. Sungguh perbuatan yang tak patut ditiru. Tapi, terlepas dari itu, kesan yang paling saya suka, laptop itulah yang menemani saya berproses dalam dunia tulis-menulis sampai saat ini, termasuk juga ngeblog.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa performanya terus menurun. Kemungkinan penyebabnya ada dua, pertama karena  faktor umur dan kedua karena pernah terjatuh. Saya sangat yakin penyebab kedualah yang lebih berpengaruh, terutama sewaktu terjatuh untuk yang kedua kalinya. Saat itu tiba-tiba baterainya tidak bisa menyimpan daya. Alhasil, saya musti terhubung terus dengan listrik jika menggunakannya lagi. Tak hanya itu, processor dan kawan-kawannya juga bermasalah. Kinerjanya lemot dan sering ngelag. Kerja-kerja multitasking seakan tak sanggup lagi dilakukannya. Yang paling menjengkelkan adalah, ketika sedang mengetik, menonton, browsing, ataupun bekerja dengan aplikasi-aplikasi lain, sering muncul pemberitahuan not responding atau kadang-kadang juga kursornya loading terus-menerus. Kalau sudah seperti itu, saya sering mematikan paksa.
Saat-saat menjengkelkan seperti itulah saya sering berpikir untuk mengganti laptop itu dengan yang baru. Saya merasa kinerjanya sudah tidak memungkinkan dengan kebutuhan saya, utamanya dalam kerja-kerja kepenulisan termasuk juga blogging. Kalau hanya sekadar buat tulisan dan mem-posting-nya di blog, sebetulnya  masih sanggup. Hanya saja, jika ingin mengahadirkan gambar ilustrasi ataupun video dalam konten blog saya misalnya, ia sudah terseok-seok.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah review perihal salah satu laptop terbaru besutan Asus. Perusahaan yang berbasis di Taiwan ini menamai laptopnya dengan nama VivoBook S15 S510UQ. Kesan pertama setelah membaca tulisan itu: ngiler. Bagaimana tidak, jeroannya didukung oleh processor Intel Core i5 7200U, RAM 4GB, dan dua buah storage yang dikombinasikan antara HDD sebesar 1TB dan SSD sebesar 128GB. Saya membayangkan seandainya VivoBook ini menggantikan laptop saya tadi, sungguh segala yang lemot-lemot tak akan tejadi dan saat menulis ataupun ngeblog tentunya akan lancar jaya. Wusss wusss ….

Processor Intel yang disematkan pada VivoBook  tersebut, merupakan processor terbaru dari Intel yakni Intel Core generasi ketujuh atau Kaby Lake. Processor itu memiliki cache sebesar 3MB  dan punya kecepatan 2.5GHz yang bisa ditingkatkan hingga 3.GHz. Selain itu, dari segi grafis, Asus melengkapinya dengan Nvidia Geforce 940MX. Ini tentunya akan sangat menunjang jika kita butuh hiburan dengan bermain video game misalnya. Tampaknya dari segi performa dan grafis Asus VivoBook S15 S510UQ  tak perlu diragukan lagi kualitasnya.
Penampakan Asus VivoBook S15 S510UQ

Melihat dari kekuatan performa yang dihadirkan itu saja, saya sudah sangat yakin Asus VivoBook S15 S510UQ adalah  pengganti yang pas laptop saya yang sudah uzur. Terlebih saya adalah tipe pengguna yang tidak terlalu mementingkan tampilan. Performa yang baik sudah cukup dan hal-hal lain di luarnya, tak jadi masalah. Tapi melihat karena teknologi yang dipunya Asus VivoBook S15 S510U ini, saya sepertinya berubah pikiran. Saya berpikir bahwa performa laptop ternyata bukanlah satu-satunya yang membuat kita nyaman menulis. Terkadang terdapat laptop yang performanya bagus tapi cepat panas, atau baterainya tak tahan lama. Terkadang juga terdapat laptop yang performanya sangat baik tapi ukurannya lumayan besar. Hal-hal seperti itulah yang terkadang membuat kerja menulis dengan laptop menjadi repot dan tidak praktis.

Asus Vivobook S15 S510U, meskipun memiliki performa yang mumpuni, namun ia tetap mengedepankan aspek-aspek yang lain. Untuk itu, berikut saya ulas beberapa fitur-fitur Asus VivoBook S15 S510U, yang sebetulnya akan sangat membuat nyaman dalam kerja-kerja kepenulisan. Tentunya ini hanya berdasarkan pandangan saya sebagai seorang penulis pemula.

Teknologi NanoEdge
Selain dari kekuatan performa yang luar biasa, Asus VivoBook S15 S510UQ juga memiliki fitur-fitur yang menarik. Salah satunya adalah memiliki layar 15,6 inci tetapi bodinya hanya berukuran sebesar laptop 14 inci. Jika dicermati, kesannya mungkin agak tidak masuk akal. Saya pun dibuat bertanya-tanya, bagaimana mungkin layar lebih besar daripada bodi? Tapi ini terjawab dengan adanya teknologi NanoEdge Teknologi ini memungkinkan sebuah panel layar dapat masuk ke dalam bingkai laptop yang ukurannya lebih kecil. NanoEdge pada Asus VivoBook S15 S510UQ ini menggunakan bingkai yang sangat tipis, yakni 0,78 cm. Hal ini memberikan rasio 80% antara layar dan bodi sehingga bagian permukaan laptop bisa dimaksimalkan penggunaannya oleh layar. Dengan adanya teknologi NanoEdge ini, membuat layar menjadi lebih lebar. Hal inilah yang tentunya akan membuat nyaman menggunakannya ketika mengetik. Teknologi NanoEdge ini adalah keunikan Asus VivoBook S15 S510UQ dalam desainnya.

Bingkai layar Asus VivoBook S15 S510UQ yang Sangat Tipis



Tipis dan Ringan
Salah satu kendala penulis menurut saya adalah ketika bepergian jauh dan harus tetap membawa laptop. Laptop akan menambah beban tas yang dipakai bepergian tersebut. Tentunya ini pengecualian untuk laptop yang ukurannya kecil dan ringan. Tapi, untuk laptop yang berukuran besar dan berat, hal ini sedikit merepotkan. Selain cukup berat, laptop yang besar juga kurang praktis digunakan dalam perjalanan.

 Asus VivoBook S15 S510UQ memiliki ukuran yang lebih tipis dan lebih ringan. Beratnya hanya 1,5 kg dan ketebalannya hanya 1,79 cm. Sangat tipis. Dengan berat dan ketebalan seperti itu, tentunya akan  sangat memudahkan jika dibawa bepergian dan cukup nyaman digunakan untuk mengetik ketika dalam perjalanan.
Sangat Tipis dan Ringan Sehingga Mudah Dibawa Ke Mana Saja



Keyboard yang Nyaman untuk Menulis
Kenyamanan mengetik di laptop tak terlepas dari keyboard yang tersemat di laptop tersebut. Tombol yang tidak empuk dan tidak membal memungkinkan ketidaknyamanan dalam mengetik. Bahkan ada juga beberapa laptop yang ukuran tombol keyboard-nya kecil dan terlalu rapat. Itu sedikit menyulitkan ketika melakukan pengetikan.

Asus VivoBook S15 S510UQ tentunya menghindari hal-hal semacam itu. Meskipun saya tidak pernah merasakan langsung sensasi mengetik di Asus VivoBook S15 S510UQ, tapi jika dilihat sekilas dari penampakan keyboard-nya, jarak antar tombol cukup lega Hal itu membuat proses pengetikan akan menjadi nyaman dan lebih akurat.

Tombol Keyboard yang Lega 



Sistem IceCool
Salah-satu ketidaknyamanan saya selama ini dalam mengetik menggunakan laptop adalah panas yang terjadi pada bodinya. Laptop saya sendiri juga mengalami hal itu, bahkan tetap panas walaupun menggunakan kipas eksternal. Mengetahui bahwa Asus VivoBook S15 S510UQ dilengkapi sistem pendingin yang disebut IceCool,saya  jadi membayangkan sensasi mengetik dengan meletakkan laptop di atas paha. Sudah sangat lama saya tidak melakukan hal itu disebabkan laptop saya yang sangat tidak memungkinkan.

Teknologi Asus IceCool sendiri hadir sebagai sistem pendingin yang akan membuat laptop tetap dingin walaupun telah digunakan berjam-jam lamanya. Sungguh luar biasa. Saya dalam proses menulis sangat sering menggunakan laptop sampai berjam-jam tanpa dimatikan dan itu membuat bodi laptop terkadang menjadi sangat panas. Dengan adanya teknologi IceCool, tampaknya Asus VivoBook S15 S510UQ berusaha mengahadirkan kenyamanan penggunaan–termasuk juga mengetik–dalam waktu yang lama.


Sistem IceCool yang Membuat Laptop Tetap Dingin Walau Digunakan Berjam-Jam



Baterai Tahan Lama dan Pengisian yang Cepat
Daya tahan penggunaan baterai merupakan salah satu aspek penting dalam penggunaan laptop. Kenapa laptop disebut komputer jinjing, sebab ia  dapat digunakan di mana saja dan kapan saja. Kalau baterainya soak, tentunya dalam penggunaannya sudah tidak fleksibel lagi. Saya memiliki laptop yang baterainya tidak lagi mampu menyimpan daya. Kalau listrik mati, mati jugalah ia. Akan sangat menjengkelkan lagi ketika sedang mengetik tulisan kemudian listrik mati dan tulisan belum tersimpan. Mungkin saya termasuk golongan orang-orang yang bersabar pada saaat-saat seperti itu. Maka dari itu, berkaitan dengan daya tahan baterai ini Asus juga mencoba menunjukkan varian teknologinya.

Ada dua teknologi yang membuat baterai Asus VivoBook S15 S510UQ tahan lama, yakni Super Battery dan Asus Battery Health Charging App. Super Battery membuat baterai tahan lama hingga tiga kali lipat lebih panjang. Teknologi ini juga memungkinkan pengisisan hingga 900 kali sebelum daya tahan baterainya menurun. Selain itu, dengan Super Battery, membuat baterai dapat diisi ulang dengan cepat. Pengisian dari kondisi 0% hingga 60% hanya membutuhkan waktu 49 menit saja. Sementara itu, teknologi Asus Battery Health Charging App memungkinkan membatasi tingkat pengisian baterai oleh charger. Teknologi ini dapat memperpanjang masa pakai baterai dan memastikan baterai dalam kondisi baik. Dua teknologi ini sangat membantu mobilitas untuk menulis di mana pun dan kapan pun.
Super Battery Membuat Baterai Menjadi Tahan Lama



Sensor Sidik Jari
Sensor sidik jari adalah salah satu fitur yang saya sukai dari Asus VivoBook S15 S510UQ. Dengan didukung fitur aman dari Windows Hello, penggunanya dapat masuk ke sistem operasi hanya dengan sentuhan jari. Fitur ini tentunya bertujuan untuk memastikan keamanan data.


Sensor Sidik Jari Berad di Pojok Kanan Atas Touchpad

Fitur ini tak terlalu berkaitan dengan kerja menulis. Akan tetapi saya sudah sangat sering mendengar cerita tentang naskah tulisan yang hilang dan tentunya itu sangat menyakitkan bagi seorang penulis. Untuk menghindari kejahatan orang yang tidak bertanggung jawab, fitur ini sangat berguna untuk menjaga keamanan tulisan sebab untuk masuk sistem operasi membutuhkan sidik jari si empunya laptop.

***

Melihat performa luar biasa dan fitur menarik yang dihadirkan tadi, saya sangat yakin laptop inilah yang sangat pantas menggantikan laptop saya yang reyot itu. Asus VivoBook S15 S510UQ adalah perangakat sempurna yang bisa membantu saya mengarungi dunia kepenulisan. Dengan harga yang Rp 9.799.000, laptop ini terbilang cukup murah ketimbang laptop middle-end lainnya. Oleh karena itu, saya sudah membulatkan tekad untuk memiliki laptop ini, tetapi dengan satu syarat: kalau sudah ada rejeki. Hahaha. Semoga saja. Amin.

Sekian. 




Mamuju adalah ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Kota itu diapit oleh kawasan pantai dan perbukitan. Dari pantai, terlihat sebuah pulau yang ...

Mamuju adalah ibukota Provinsi Sulawesi Barat. Kota itu diapit oleh kawasan pantai dan perbukitan. Dari pantai, terlihat sebuah pulau yang dinamai Karampuang. Pulau itu seolah melindungi pesisir Mamuju dari hantaman ombak. Sementara itu, pada kawasan perbukitan, terlihat jelas pemandangan kota, laut lepas dan pulau Karampuang tadi dari atas sana. Penduduk di sana menyebut kawasan perbukitan itu dengan nama Anjoro Pitu. Anjoro itu berarti kelapa, sementara Pitu berarti tujuh. Jadi Anjoro Pitu itu artinya kelapa tujuh, sebab konon katanya, dulu terdapat tujuh pohon kelapa di sana.

Bukit memang seakan identik dengan Mamuju. Bila kita datang dari arah Makassar, maka medan berbukit dengan jalan berkelok terlebih dahulu dilalui sebelum tiba di gerbang kota. Di sepanjang jalan juga, akan banyak kita jumpai jurang dan tebing yang hanya dibatasi oleh aspal jalan, Jurang di satu sisi sementara tebing yang terkadang rawan longsor di sisi lainnya. Dengan kondisi seperti itu, tak heran jika ada anekdot yang mengatakan bahwa Mamuju adalah kependekan dari Maju Mundur Jurang.

Saya lahir dan besar di kota Mamuju. Dulu, di kawasan pantai terdapat dua pelabuhan; pelabuhan batu dan pelabuhan kayu. Disebut batu, karena memang dermaganya dibangun dari kombinasi semen dan batu. Sementara yang satunya disebut kayu, tentunya karena terbuat dari kayu. Saya kerap kali ke sana untuk bermain atau hanya sekadar melihat orang-orang memancing. Di kawasan pantai itu juga, dulunya terdapat sebuah restoran yang cukup terkenal bernama Pantai Indah. Bangunannya terbuat dari kayu dan menjorok ke laut. Saya ingat pernah dibawa orangtua ke sana pada sebuah acara pernikahan.

Namun banyak perubahan Mamuju setelah menjadi ibukota. Pelabuhan Batu dan restoran Pantai Indah lenyap di telan proyek reklamasi. Sebuah hotel berbintang telah hadir di sana. Kemudian sebuah anjungan menyerupai anjungan Pantai Losari bertuliskan Pantai Manakarra, telah menjadi landmark baru yang menjadi primadona. Tak hanya itu, sebuah bagunan besar yang katanya Mall sedang dalam tahap pengerjaan ketika terkahir saya pulang ke Mamuju. Hanya kawasan pelabuhan kayu yang tersisa, dan itupun telah dipermak sedemikian rupa yang tentunya terlihat sangat berbeda.

Dari Anjoro Pitu, tulisan raksasa bertuliskan Mamuju City telah ditempatkan di sana. Tulisan itu menghadap ke kota sehingga sangat jelas terlihat walaupun dari jauh. Tulisan itu mengingatkan saya pada tulisan Hollywod di Amerika. Adapun bangunan lainnya yang berubah adalah masjid. Dulunya ada sebuah masjid yang cukup besar di pusat kota dengan pekarangan yang luas. Masjid itu adalah tempat saya mengaji dulu. Namanya Masjid Agung. Setelah direnovasi, masjid itu telah berubah menjadi masjid yang lebih besar lagi. Dua tingkat dengan empat menara dan sebuah kubah raksasa, menjadikannya masjid terbesar di kota Mamuju. Namanya pun berubah menjadi masjid raya As-syuhada.

Jika ada momen yang paling ingin saya kembalikan dari Mamuju, momen itu adalah masa kecil. Ada dua tempat yang menyisakan kenangan masa kecil yang begitu kuat di kepala saya. Pertama adalah rumah pertama saya (sebelum pindah). Di rumah ini saya merasakan betapa nikmatnya menjadi anak-anak. Tiap hari hanya bermain bersama teman-teman. Main bom, main hadang, main kelereng, main petak umpet, dan masih banyak permainan lainnya. Bahkan kadang-kadang bermain sampai malam. Kalau sudah begitu, hanya panggilan orangtualah yang mampu mengakhiri cerita hari itu. Saking seringnya bermain, kadang-kadang orangtua melarang dan mengurung saya di rumah. Terkadang juga Andaeng (bapak) menyuruh saya mencabuti rambut putihnya sebelum saya diizinkan bermain. Sebetulnya aktivitas itu adalah paling saya benci dulunya, tapi entah kenapa saya selalu terkenang dengan momen itu.

Kemudian tempat kedua adalah masjid Agung. Setelah pindah rumah, saya tidak mendapatkan teman baru di tempat yang baru. Tempat bermain saya berpindah tempat di masjid Agung, tempat mengaji saya tiap siang. Setiap selesai mengaji, saya dan kawan-kawan pasti bermain bola di pekarangan masjid. Kami juga kadang-kadang menggunakan bola tenis, atau tutup botol sebagai bola. Masjid itu, sudah berubah, dan tiap saya ke sana lagi, kenangan masa kecil ini selalu saja hadir.

Sebagai ibukota, perubahan-perubahan yang terjadi pada kota Mamuju memang sebuah keniscayaan. Tiap perubahan menyajikan cerita baru dan tentunya berbeda. Hanya saja, perubahan itu terkadang begitu “menyakitkan” sebab harus menyikirkan artefak bagi cerita-cerita yang lama.


#15HariMenulis

“Bang, saya mau jadi penulis, caranya gimana yah?” Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang pernah saya tulis dengan menyebut akun medi...

“Bang, saya mau jadi penulis, caranya gimana yah?”

Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang pernah saya tulis dengan menyebut akun media sosial salah seorang penulis ternama Indonesia. Hasilnya sangat apes, dia tak pernah menjawab sampai hari ini. Kemungkinan besar hal itu disebabkan karena dua alasan, Pertama, karena memang pertanyaan jenis itu tak cukup bisa dijelaskan hanya dengan 140 karakter, atau kemungkinan kedua, karena pertanyaan jenis itu adalah pertanyaan bodoh, sebab belakangan saya akhirnya paham bahwa untuk jadi penulis, tipsnya sangat gampang: menulis. Hanya itu, dan saya menduga, kemungkinan kedua inilah yang lebih tepat.

Kemudian lama setelah itu, saya membuat blog (bukan blog ini) dan memposting tulisan di sana. Itu adalah tulisan pertama saya, dan tulisan tipe itu, mungkin tak akan pernah saya baca kembali. Alasannya sederhana: isinya minta ampun, bikin malu-malu sendiri. Akhirnya, nasib tulisan itu hanya sampai pada postingan pertama sekaligus terakhir, sebab setelahnya blog itu tak terawat, berlumut, dan mati.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menulis kembali. Selain karena malas, juga karena tak tahu mau menulis apa. Saya mulai menulis kembali sejak mengenal puisi. Beberapa kali curhatan saya menjelma menjadi puisi di media sosial sendiri. Mengingat-ingat fase itu, saya jadi teringat percakapan Gusdur dengan seorang da’i. Ia menjelaskan sebab karya sastra yang ditulis sang da’i tidak bagus. “Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita makanya tulisan kamu tidak bagus”, terang Gusdur kepada si da’i. Meski puisi saya masih jauh dari kata bagus, namun seperti kata Gusdur tadi, patah hati ternyata juga membantu saya, setidak-tidaknya untuk mulai menulis lagi. Selain itu, perkenalan saya dengan karya sastra lain seperti cerpen dan novel, akhirnya mengembalikan semangat saya untuk menulis kembali.

Saya kemudian berfikir untuk menyelamatkan secuil puisi saya yang tercecer di media sosial itu. Yang pertama kali terlintas adalah mencoba mulai belajar menulis lewat ngeblog lagi sebab sepertinya, mengelola website pribadi memang betul-betul terlihat keren, pikir saya waktu itu. Saya akhirnya benar-benar membuat blog baru dan puisi-puisi saya di-publish di sana. Kemudian fase setelahnya adalah fase di mana saya mulai mencoba menuliskan berbagai macam hal di blog itu. Meski sangat tidak produktif, namun Alhamdulillah blog itu masih sehat-sehat saja sampai hari ini. Blog tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah yang anda baca saat ini.

***
Begitulah kira-kira sedikit gambaran bagaimana saya ngeblog hingga sekarang. Belajar menulis adalah motivasi terbesar saya. Kemewahan apa yang dimiliki blog adalah ia milik penulisnya, dan itu sangat membebaskan. Menulis dalam dalam berbagai genre tidak jadi masalah. Sebuah media yang sangat membantu dalam proses peningkatan kemampuan menulis.

Saya juga seringkali mendengar berbagai cerita mengenai para blogger yang mampu menghasilkan uang lewat aktivitas menulisnya di blog. Hal itu terkadang membuat saya berfikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi untuk sekarang sepertinya tidak dulu. Saya hanya ingin fokus untuk belajar menulis, menulis dan menulis. Soal sesuatu-sesuatu di luarnya itu urusan belakangan.

Ada kenikmatan tersendiri ketika mampu menghasilkan tulisan dan di publish di blog. Itu seperti etalase bagi orang lain untuk melihat kehidupan pemilik blog itu. Saya ingat sebuah Lembaga Seni Kampus bernama Kissa. Ia memiliki motto: nama akan mati tanpa karya, dan saya yakin, ngeblog membuat pemiliknya akan terus hidup.

#15HariMenulis

Jika ada makanan instan yang paling sering saya konsumsi, jawabannya tak  lain dan tak bukan adalah mi instan. Bagaimana tidak, sudah ...




Jika ada makanan instan yang paling sering saya konsumsi, jawabannya tak  lain dan tak bukan adalah mi instan. Bagaimana tidak, sudah tak terhitung berapa kali saya membeli makanan itu. Mulai dari zaman Indomie seharga Rp 750, hingga seharga Rp 2.500 seperti sekarang. Sepertinya, mi instan bersaing ketat dengan nasi putih sebagai makanan teratas penghias dunia kuliner saya. Paling tidak, ya karena iklannya sering muncul di tipi-tipi.

Mi instan memang memiliki keunggulan seperti julukan yang disematkan kepadanya: instan. Cukup membelinya di warung samping rumah, kemudian masak dengan air panas, dan tak sampai beberapa menit, mi instan sudah bisa dikonsumsi. Makanya makanan ini begitu populer karena sungguh, kita tak perlu repot meracik bumbu.

Mi instan dapat dikombinasikan dengan berbagai makanan lainnya. Dicampur bakso enak, dicampur sosis lezat,di campur bakwan pun nikmat. Bahkan tidak dicampur apa-apa pun tetap mampu mengoyang lidah.

Mi instan dapat dikomsumsi kapan saja dan di mana saja. Pagi, siang, sore, maupun malam, terserah. Di rumah, di sekolah, di kampus, ataupun di kosan teman, juga terserah. Saya terkadang mengonsumsinya tengah malam. Itu adalah ajaran andaeng (bapak) saya waktu SMA. Tapi sejak itu, saya jadi tahu, tengah malam adalah waktu ternikmat mengonsumsi mi instan (yang berkuah tapi yah, kalau yang goreng, saya belum tahu).

Sejak SD, saya pun sering mengonsumsi mi instan di kantin-kantin sekolah. Tapi karena itu juga, akhirnya menyisakan tanda tanya di kepala saya: kenapa mi instan selalu lebih nikmat disantap di kantin sekolah ketimbang masak sendiri di rumah? Sungguh pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya.

Selain itu, mi instan dapat menjelma ke berbagai jenis makanan. Kalau ada nasi tapi tak ada lauk, mi instan bisa jadi lauk. Kalau ada nasi, ada lauk, tapi tak ada sayur, mi instan pun bisa jadi sayur. Bahkan ia bisa jadi camilan. Tidak dimasak. Saya menyebutnya dimakan mentah, dan sungguh rasanya kriuk-kriuk pedas gimana gitu.

Sayangnya, mi instan menyimpan bahaya bagi kesehatan. Sudah banyak artikel-artikel yang mengulas masalah ini. Misalnya saja disehat.com, yang menjelaskan bahaya keseringan mengonsumsi mi instan, yakni dapat menyebabkan kanker, usus bocor, menghambat penyerapan nutrisi, dan menganggu metabolisme tubuh. Dari artikel yang dimuat rubrikita.com, juga menjelaskan bahwa salah satu bahaya yang ada dalam mi instan adalah adanya lapisan lilin yang membuat mi itu tidak lengket dan menggumpal. Lilin inilah yang sulit diolah oleh tubuh. Setidaknya membutuhkan waktu 3 hari agar tubuh mampu mencerna dan membuangnya. Selain itu, kandungan Monosodium Glutamat (MSG) yang ada pada bumbu mi instan, juga sangat berbahaya. Kandungan lilin dan MSG inilah yang disinyalir dapat memicu timbulnya kanker. So, jangan terlalu sering mengonsumsi mi instan gaess. Bahaya ternyata.

Tapi apa mau dikata, pada kondisi-kondisi tertentu, mi instan tetap menjadi opsi teratas. Jika sedang buru-buru misalnya, ya mau tidak mau makan mi instan. Atau untuk menghemat pegeluaran, ya mau tidak mau makan mi instan lagi.

Sebagai mahasiswa yang setara dengan anak kos, kondisi kedua paling sering saya alami. Dan memang betul, mi instan dapat menjadi penyelamat pada kondisi-kondisi seperti itu. Bahkan seorang pembicara pada sebuah seminar pernah mengaitkan mi instan terhadap mahasiswa yang keadaan dompetnya sendang menipis itu. Ia dengan lantang berkata: pagi makan Indomie, malamnya minum Promag. Sindiran yang sukses memecah tawa peserta dan sukses juga memyisakan tanya di kepala saya lagi: apa betul ada mahasiswa yang melakukan hal semacam itu? Entahlah. Tapi mengingat kelakar itu, saya selalu senyum-senyum sendiri.


#15HariMenulis

Namaku Maran, dan aku telah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang wanita tentunya. Aku sangat yakin, sebab tak ada wanita ...



Namaku Maran, dan aku telah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seorang wanita tentunya. Aku sangat yakin, sebab tak ada wanita yang membuatku begitu tak waras selain dirinya. Suaranya sering mendengung seperti ia benar-benar tepat berada di sampingku. Juga tatapannya yang malu-malu, pengantar tidur yang buatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Dan di pagi hari, tak ada candu yang lebih kuat selain harapan pesannya tiba-tiba muncul di ponsel menyapaku. Kata orang, yang kualami ini adalah cinta. Aku tak percaya awalnya. Tapi semakin aku mengelak, semakin aku meyakini apa yang orang-orang itu katakan. Namaku memang Maran, dan aku betul-betul telah jatuh cinta.

Namanya Kiran, dan aku  jatuh cinta kepadanya. Ia temanku, teman kuliahku tepatnya. Aku memanggilnya Ran, tapi sejak kutahu ia menyukai warna putih, aku sering mengganti panggilannya dengan warna itu. Ia melarangku sebetulnya. Katanya, panggilan itu justru mengejek dirinya yang hanya sawo matang. Tapi aku percaya ia tak serius, sebab tiap kali kupanggil dengan sebutan itu, tiap itu juga mukanya tiba-tiba memerah. Pun ketika camilan kesukaannya–cokelat–kuganti dengan yang putih, ia tak pernah betul-betul tersindir. Mukanya justru memerah lagi sambil tetap melahap cokelat putihnya. Dari dia, aku tahu bahwa terdapat kecacatan pada dirinya yang begitu indah, yang dititipkan Tuhan di wajahnya: lesung pipi. Namanya memang Kiran dan aku betul-betul jatuh cinta kepadanya.

Aku dan Kiran menjalin hubungan yang entah apa namanya. Hari ini adalah tepat 3 tahun setelah aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Waktu itu aku katakan bahwa aku berharap ia mau menjalin hubungan denganku, dan entah kenapa aku merasa sangat yakin juga bahwa ia adalah tulang rusukku yang hilang. Sayangnya, ia tak memberikan jawaban yang membuatku benar-benar yakin soal itu. “kita jalani saja,” katanya. Jawaban yang menggantung dan begitu membingungkan. Perihal perasaanya saja, aku ingat betul apa yang ia katakan. Katanya, aku berada di angka 7. Itu saja, dan itu perumpamaan yang amat menggelikan menurutku.

Tapi sejak itu, aku dan Kiran justru semakin dekat. Percakapanku dengannya lewat ponsel selalu hingga larut malam dan terkadang intim. Aku tak pernah mau menelepon sebab aku takut suatu waktu ponsel itu bisa meledak di telingaku karena kepanasan. Dari komunikasi seperti itu, aku banyak mengenalnya. Mulai dari makanan kesukaannya, lagu kesukaannya, hingga apa yang tidak ia suka. Aku bahkan semakin sering mengunjungi kontrakannya dan membawakan makanan kesukaannya. Jika aku datang dengan tangan kosong, ia sering menyuguhkan makanan dan minuman yang rasanya tak bisa kudeskripsikan. Aku pun sering membawakannya cokelat yang lebih senang kuberikan dengan cara kusembunyikan di suatu tempat di kamarnya. Sangat menyenangkan rasanya ketika tahu ia begitu bahagia setelah menemukan cokelat itu.  

Aku ingat betul wangi farfumnya. Aku ingat betul letak ranjang, lemari dan meja belajar di kamarnya Aku ingat betul bagaimana ia menyeterika kemejaku. Aku ingat betul ia minta tangannya ditiup ketika kepanasan kena seterika. Aku ingat hadiah ulang tahun yang diberikannya padaku, dan hadiah ulang tahun yang aku berikan kepadanya.  Dan aku pun ingat betul bagaimana tawa dan tepukan yang lembut di pundakku saat mendengar lelucon dariku. Aku juga ingat ketika suatu waktu aku mengajaknya menonton di sebuah bioskop di kota ini. Tangannya berada di kursi tepat di sampingku. Ingin rasanya aku memegannya erat dan berkata bahwa aku akan selalu ada untuknya. Hanya saja itu tak pernah terjadi, aku selalu merasa bukan siapa-siapa.

Kiran sedari awal membawaku pada posisi yang dilematis. Aku pernah berkesimpulan bahwa ia memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi ketika itu aku lakukan, ia selalu hadir dengan membawa perasaan yang membuatku ragu. Dan ketika aku berkesimpulan bahwa ia tak benar-benar memiliki perasaan yang sama denganku, ia justru hadir dengan membawa perasaan yang begitu membuatku yakin. Aku tak pernah tahu bagaimana persisnya perasannya kepadaku. Ia tak pernah mau mengatakan itu. Yang kulakukan hanya menebak dan itu terkadang sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Hari ini aku mendapat kabar bahwa ia dekat dengan seseorang. Aku memberanikan diri mengirim pesan untuk meminta penjelasan perihal itu kepadanya Tepat setelah 5 jam berlalu ia menjawab: dulu aku memang menyukaimu, tapi tidak lagi. Aku bersama orang lain sekarang. Seketika itu aku merenungi setiap detik-detik perjalanan bersama seorang wanita yang begitu aku cintai. Hari ini, cinta pertama itu berakhir. Dan di suatu tempat bersama kekasih barunya, Kiran akan tetap bahagia, sementara di tempat lain yang tak pernah di ketahuinya, Maran akan terpanggang tinggal rangka.

#15HariMenulis

Baiklah, kita mulai saja tulisan yang tidak berfaedah ini. Dulu waktu masa SD, saya sering diajar berenang oleh Andaeng (panggilan s...



Baiklah, kita mulai saja tulisan yang tidak berfaedah ini. Dulu waktu masa SD, saya sering diajar berenang oleh Andaeng (panggilan saya ke bapak) di pantai dekat rumah. Sejak itu, saya selalu merasa telah mahir berenang padahal tidak mahir-mahir amat. Paling cuma bisa gaya bebas. Itupun hanya beberapa meter di air yang dangkal. Alhasil, pas SMA, ketika saya dan teman-teman berkunjung ke sebuah air terjun, saya hampir tenggelam sebab airnya yang cukup dalam. Sejak itu saya pun perlahan menyadari bahwa saya bisa terlihat seperti perenang profesional hanya di ketinggian air sedada atau paling tinggi seleher. Lebih dari itu, mana berani saya.

Cerita selanjutnya, meskipun tidak semengerikan yang sebelumnya, namun tetap bisa dikata cukup suram. Ketika masa-masa kuliah, beberapa kali saya dan teman-teman berkunjung ke tempat-tempat wisata air, tak terkecuali air terjun tentunya. Dengan kemampuan berenang yang pas-pasan itu, saya harus rela menyaksikan teman-teman berenang di tempat-tempat dalam sementara saya hanya bisa berenang di pinggir yang berbatu. Sungguh menyedihkan juga rasanya melihat orang lain mampu menikmati loncat dari batu-batu yang tinggi ke dalam air sedangkan saya hanya mampu senyum-senyum menyaksikan mereka. Rasa-rasanya saya bisa juga melakukan itu, hanya saja saya tak mahir berenang.

Cerita suram lain misalnya datang ketika saya ber-KKN di sebuah desa bernama Moncongloe yang ada di Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Suatu kali saya dan teman-teman posko berkunjung ke sebuah sungai yang cukup besar di sana bersama beberapa anak-anak desa. Sungai itu memang sering dikunjungi anak-anak untuk mandi sekaligus bermain. Jadi ceritanya, ketika yang lainnya berenang di sungai itu, saya justru masih pikir-pikir untuk turun berenang. Seorang anak kemudian bertanya kemampuan berenang saya. Mendengar itu, saya cuma bisa menjawab kalau sebetulnya saya bisa hanya saja tidak terlalu mahir. Yang terjadi selanjutnya sebetulnya tidak terlalu buruk. Saya tetap ikut menikmati bersenang-senang bersama mereka di air. Akan tetapi, menyaksikan anak-anak itu menikmati berenang di tempat dalam dengan arus yang cukup deras sementara saya hanya bermain di pinggir dan tempat dangkal membuat cemburu juga.

Lain air terjun dan sungai, lain pula di kolam renang. Beberapa kali saya dan teman-teman mengisi waktu kosong dengan mengunjungi kolam-kolam pemandian. Hasilnya sama saja, lagi-lagi saya cuma bisa  main di tempat dangkal atau yang paling buruk, ya tidak turun berenang. Di kolam renang seperti  itulah saya paling sering kena umpatan, dibilang cemen atau berbagai ejekan lainnya. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya harus membela diri dengan terjun juga ke kolam. Tapi apa mau dikata, kolam dangkal lagi kolam dangkal lagi tentunya. Sungguh pembelaan diri yang memalukan.

Belakangan ini saya jadi sering menolak ajakan teman-teman ketika mereka ingin berenang lagi di kolam pemandian. Bukan apa-apa, saya tak sanggup menyaksikan kesenangan mereka di atas penderitaan saya sendiri. Makanya, salah satu tempat hiburan yang saya hindari, ya kolam-kolam pemandian dan kawan-kawannya itu. Kalaupun seumpama kalian melihat saya berada di sana, itu bisa terjadi hanya karena dua alasan: pertama karena saya memang terpaksa, kedua karena saya dapat yang gratisan. Sepertinya itu saja.


Sudah, saya akhiri saja tulisan yang dari awal saya katakan tidak berfaedah ini. Ehh, tapi tunggu dulu, apa betul tulisan ini tidak memiliki manfaat? Bisa jadi ada meski hanya satu: paling tidak belajarlah berenang agar hidupmu tak menyedihkan, setidak-tidaknya itu bisa terjadi di tempat-tempat pemandian. Begitu anak muda.

#15HariMenulis