Sumber: Penguin Reader  Saya sedang mencoba salah satu metode dalam mempelajari bahasa Inggris yakni dengan menerjemahkan. Saya meng...


Sumber: Penguin Reader 

Saya sedang mencoba salah satu metode dalam mempelajari bahasa Inggris yakni dengan menerjemahkan. Saya mengumpulkan banyak bahan bacaan untuk diterjemahkan. Salah satunya adalah buku-buku terbitan Penguin Reader. Sekadar informasi, Penguin Reader adalah salah satu penerbit buku-buku edukasi yang mengadopsi cerita dari novel terkenal atau kisah populer. Cerita-cerita tersebut kemudian disederhanakan dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan jumlah kata.

Berikut adalah level-level bacaan yang ada pada buku terbitan Penguin Reader:

1.      Level 0: easystarts (200 kata)
2.      Level 1: Beginner (300 kata)
3.      Level 2: Elementary (600 kata)
4.      Level 3: Pre-Intermediate (1200 kata)
5.      Level 4: Intermediate (1700 kata)
6.      Level 5: Upper Intermediate (2300 kata)
7.      Level 6: Advanced (3000 kata)

Saya mengambil bahan bacaan tersebut untuk kemudian diterjemahkan. Sebagai awalan saya memulai dari tingkatan terbawah, yakni easystarts. Buku pertama yang saya terjemahkan dari level ini berjudul April in Moscow karya Stephen Rabley. Buku cerita ini dilengkapi dengan gambar sehingga memudahkan kita untuk memahami maksud cerita. Di bawah ini adalah hasil terjemahan yang saya lakukan. Mengingat saya adalah seorang pemula, semoga terjemahan ini  bisa dipahami.

***

Judul: April di Moscow

Penulis: Stephen Rabley

April Fox adalah seorang penari. Dia bekerja untuk British Dance Company di Leeds. Pimpinannya  adalah Maria Grant. Pada suatu senin pagi, April datang lebih cepat. Dia bertemu Maria di mesin kopi. “Saya punya beberapa berita baik,” kata Maria. Ada sebuah amplop di tangannya.

“Sungguh? Apa itu?” tanya April.

Maria tersenyum. “Tunggu dan lihat saja,” katanya.

Pada pukul sepuluh para penari sedang menyelesaikan kelas pertamanya. Tiba-tiba, Maria berjalan masuk ke ruangan.“Bisakah saya bicara dengan kalian semua?” katanya.

“Ada apa ini?” tanya teman April, Laura.

“Saya tidak tahu,” jawab April. Musik berhenti.

“Saya mendapatkan surat dari Moscow,” kata Maria. “Orang-orang Rusia menginginkan kita untuk menari di sana bulan depan.”

***

Enam minggu kemudian, April berada di bandar udara Heathrow di London.

“Kamu akan mendapatkan waktu yang menyenangkan,” kata ayahnya.

“Tentu saja dia akan mendapatkannya, George,” kata Nyonya Fox. “Sekarang April, apakah kamu sudah membawa semuanya? Tiket, paspor, uang … ?”

April tersenyum, “Iya, bu.”

Dia pamit kepada kedua orangtuanya. Kemudian dia melihat Laura dan Maria.

“Ayo!” kata Laura. “Waktunya berangkat.”

Di atas pesawat April dan Laura membicarakan tentang Moscow. Keduanya sangat bahagia.

“Saya ingin melihat semuanya,” kata Laura. “Benteng Kremlin, lapangan Merah, Teater Bolshoi …”

“Aku juga,” kata April, “dan saya ingin bertemu banyak orang.”

“Jangan lupa kita ke sana untuk bekerja,” kata Maria sambil tersenyum.

Di Moscow sebuah bus membawa penari itu ke hotel mereka. Kamar hotel April dan Laura berada di lantai dua. Laura  masuk ke kamar dan meletakkan tasnya.

“Bagus! Ada TV, “ katanya dan menyalakan TV tersebut. Seorang lelaki sedang membaca berita. Dia menekan tombol lainnya. Sekarang menampilkan sebuah video klip. “Lihat April,” katanya. “Rock and Roll Rusia.”

Tetapi April tidak mendengar. Dia sedang melihat keluar jendela. “Moscow,” pikirnya. “Saya di Moscow.”

***

Hari berikutnya para penari itu bekerja sangat keras. Tarian mereka untuk festival Green Ocean, adalah tarian baru dan sangat sulit. Mereka mulai pada pukul delapan pagi dan selesai pada pukul enam sore. Kemudian, setelah makan malam, mereka pergi ke Teater Bolshoi.

“Ini indah,” kata April. Laura duduk di sampingnya. “Ini sangat indah,” katanya. Kemudian mereka menyaksikan penari-penari Rusia. Mereka semua tinggi, kuat, dan sangat, sangat cakap.

Hari setelahnya, April dan Laura selesai pada pukul tiga sore. Mereka pergi ke sebuah kafe dan meminum teh Rusia. Kemudian Laura melihat ke peta Moscow miliknya. “Ke mana kamu mau pergi? Museum Pushkin dekat dari sini,” katanya.

“OK, ayo ke sana,” kata April. Kemudian dia melihat orang orang-orang di kafe. “Saya ingin berbicara kepada mereka,” pikirnya. “Tapi bagaimana caranya? Saya tidak bisa bahasa Rusia.”

Di jalan dekat museum ada sebuah pasar kecil. “Oh Laura, lihat,” kata April. Dia melihat beberapa kotak berwarna kuning dan merah di atas sebuah meja. “Kotak-kotak itu cantik.”

“Itu kotak musik,” kata seorang lelaki muda berkacamata.

“Kamu bicara bahasa Inggris!” kata April.

Lelaki itu tesenyum, “Saya mempelajarinya di Universitas.  Teman saya Nikolai dan saya hanya bekerja di sini saat akhir pekan.

April dan Laura berbincang cukup lama dengan mereka. Sasha–lelaki yang berkacamata–berbicara bahasa Inggris cukup baik. Nikolai hanya berbicara sedikit.

Setelah dua puluh menit, Sasha mendapatkan sebuah ide. “Dengar,” katanya. “Kami akan pergi ke pedesaan besok untuk liburan. Beberapa teman kami akan ikut. Apakah kalian ingin ikut? Desa itu tidak terlalu jauh.”

Pagi harinya, Sasha dan Nikolai tiba di hotel para gadis itu menggunakan mobil ayah mereka. Tiga orang ikut bersama mereka–Lara, Igor, dan  Sonya.  Mereka berkendara menuju sebuah danau dekat dari Moscow. Setiap orang tertawa dan mengobrol. Saat berada di danau mereka makan siang. Setelah itu Nikolai memainkan gitar dan bernyanyi lagu-lagu Rusia. April mendengarkannya.

Terdapat sebuah perahu di pinggir danau itu. Sore harinya, April dan Nikolai berkeliling menggunakan perahu tersebut. Nikolai menatap April dan tersenyum. April membalas senyumannya. “Di sini sangat indah,” kata April.

Nikolai menatap matanya. “Ya” katanya. “Indah, dan kamu … juga… indah. Saya …”

“April!” teriak Laura. “Ayo, waktunya pulang!”

***

Kembali ke Moscow.di mana banyak hal yang harus dilakukan. Semua penari bekerja sangat keras dan mereka tidak memiliki waktu kosong. April lelah, juga sedih. Dia ingin bertemu Nikolai lagi.  “Tapi bagaimana?” pikirnya. “Di mana? Kapan? Dia berada di desa dan saya di sini di Moscow.”

Kemudian malam besar British dance Company itu tiba.

“Semoga sukses semuanya,” kata Maria.

Sore berlalu sangat cepat. April hanya memikirkan tentang satu hal–Green Oceans. Tapi kemudian, dua jam setelahnya, musik berhenti. Dia berdiri di bawah cahaya lampu berwarna putih. Laura dan semua penari yang lain berada di sampingnya. Setiap orang yang berada di dalam gedung teater melempar bunga ke atas panggung.

“Saya pikir, mereka menyukai kita,” kata Laura. Nampak senyum pilu di wajah April. “Ya,” katanya. “Saya pikir juga seperti itu.”

Dua puluh empat jam setelahnya, semua penari British berada di bandara Moscow. “Sekarang saya tidak akan pernah bertemu  Nikolai lagi,” pikir April. “Dan saya tidak dapat menulis surat untuknya. Saya tidak tahu alama …”

Kemudian seseorang memanggil namanya. Dia berbalik. Itu Nikolai!

“Pesawat berangkat,” kata Maria Grant.

April  melihat Nikolai. Dia memberinya sebuah bingkisan dan berjalan pergi.

Di atas pesawat, April duduk di samping Laura. Matanya sembab. Dia membuka bingkisan tersebut. “Oh, lihat,” kata Laura. “Itu kotak musik yang ada di pasar waktu itu. Dan ada surat juga. Apa isinya?”

Tetapi April tak mampu berkata sebab sangat bahagia. Dia membaca surat itu.

“Bolehkah saya datang dan bertemu denganmu di Inggris?”

“Oh, Nikolai, ya,” pikirnya. “Ya, kamu bisa!”

Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pa...




Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pajajaran. Meski kecil, Sunda Kelapa dikenal sebagai pelabuhan yang sibuk. Pelabuhan ini menjadi salah satu tempat barter dengan komoditas dagang saat itu, rempah-rempah. Selama berabad-abad, kota ini menjadi pusat perdagangan yang selalu ramai dikunjungi. Tak heran jika sekarang, Jakarta menjelma menjadi daerah dengan kepadatan penduduk yang luar biasa.

Usia Jakarta 491 tahun. Sebagai sebuah kota yang terbilang tidak muda, Jakarta tentunya memiliki segudang cerita. Salah satunya, ia kerap bergonta-ganti nama. Mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta seperti sekarang.


Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia

Sebelum dinamakan Jakarta, kota ini sendiri beberapa kali mengalami perubahan nama. Pertama, saat penaklukan oleh Fatahillah. Pada 22 Juni 1527 M Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah atau Falatehan bersama mertuanya Sjarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasil menduduki Sunda Kelapa.1 Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian dijadikan dasar ulang tahun kota Jakarta.

Selanjutnya, nama Jayakarta kembali berubah saat zaman penjajahan Belanda. Tahun 1619 M, melalui lembaga dagangnya, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), Belanda berhasil merebut Jayakarta. Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Di tangan Belanda wilayah Batavia menjadi semakin luas. 2

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Saat pendudukan Jepang ini, nama Batavia kembali diganti menjadi Djakarta.3 Hal ini dilakukan Jepang untuk menarik simpati penduduk Indonesia saat itu. Jakarta kemudian tetap digunakan hingga saat ini dan menjadi nama salah-satu kota metropolitan terbesar di dunia. Pada dasarnya, Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia dan Jakarta adalah  sama namun di bawah kekuasaan yang berbeda.


Jakarta  adalah Kemenangan Paripurna

Jakarta adalah kependekan dari Jayakarta. Ia berasal dari dua kata, jaya dan karta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jaya memiliki arti selalu berhasil, sukses, hebat. Sedangkan karta sendiri memiliki arti makmur, maju, ulung, sedang berkembang, sempurna.4 Bisa dibilang Jayakarta adalah keberhasilan yang ulung. Tapi, menurut Hoesein Djajadiningrat Jayakarta artinya kemenangan yang diraih.5 Melihat pengertian-pengertian itu, tak heran jika Jakarta juga sering disebut sebagai kota kemenangan.

Jayakarta atau Jakarta memang diraih dengan sebuah kemenangan. Seperti yang disebut di atas, Fatahillah melancarkan serangan ke Sunda Kelapa yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Setelah berhasil memukul mundur pasukan Pajajaran dari Sunda kelapa, datanglah bangsa Portugis. Kerajaan Pajajaran sebelumnya telah melakukan kerja sama dengan Portugis. Pasukan Portugis di bawah pimpinan Fransisco de Sa berhasil dipukul mundur oleh pasukan Fatahillah. Setelah ditaklukkan, Fatahillah mengumumkan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.6

Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan proses penggantian nama tersebut dalam sebuah paragraf di epos Arus Balik.

Di tengah-tengah pasukannya sendiri Fathillah (Fatahillah) mengugumkan: “Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Pengasih, pada hari ini dengan kekuatan yang dilimpahkan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi (Portugis) dari laut. Insya Allah mereka takkan menginjakkan kaki lagi di bumi kita ini. Sebagai peringatan atas peristiwa ini, aku nyatakan bandar ini berganti nama, dan menjadilah Jayakarta. Jaya pada awal dan kemudiannya, karta untuk selama-lamanya.” 7

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, Jayakarta yang diucapkan Fatahillah diangkat dari Al-Quran Surah Al-Fath ayat pertama, Inna Fatahna laka Fathan Mubina. Ayat itu memiliki arti sesungguhnya telah datang kepadamu kemenangan yang nyata. Sunda Kelapa yang ditaklukkan Fatahillah merupakan hasil kemenangan umat islam waktu itu. Dengan begitu, Jakarta tak lain dan tak bukan  adalah Jayakarta adalah Fathan Mubina adalah kemenangan yang paripurna.8


 Catatan:
1 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. 159.
6, 7 Lihat, Pramoedya Ananta Toer. 2002. Arus Balik. Hasta Mitra. Yogyakarta. Hlm 639-652.
8 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. Viii.

Erelah adalah anaknya Mehrad yang kawin dengan Someroh anaknya Hakil anaknya Wajra anaknya Nakhnu anaknya Tibsah anaknya Milak an...




Erelah adalah anaknya Mehrad yang kawin dengan Someroh anaknya Hakil anaknya Wajra anaknya Nakhnu anaknya Tibsah anaknya Milak anaknya Sikwa anaknya Zerkah anaknya Yahmur anaknya Lekhta anaknya Wasmed anaknya Lokat anaknya Keliat anaknya Riwama anaknya Nabasy anaknya Lehti anaknya Hujut anaknya Sittah anaknya Husah anaknya Filom anaknya Baikya anaknya Sibda yang kawin dengan Sana yang lahir dari rahim Esinar anaknya Dama dan Waha.

Itulah silsilah Erelah sang utusan yang tergambar jelas dalam kitab suci Alkudus pada halaman sembilan. Selain Erelah, terdapat nama-nama lain–yang meskipun tidak semua–menjadi tokoh-tokoh yang diceritakan Tuhan dalam Alkudus. Dari silsilah keturunan rasul agama Kaib itu, dapat disimpulkan bahwa semua umat manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yakni dua manusia pertama di dunia: Dama dan Waha.

Erelah sendiri adalah perempuan yang menjadi rasul terakhir agama Kaib. Erelah diutus untuk menyampaikan firman Tuhan agar umat manusia dapat memetik pelajaran untuk dapat hidup dalam iman dan tekun berbuat kebaikan (2: 202). Firman-firman Tuhan tersebut kemudian disusun menjadi kitab Alkudus, kitab suci agama Kaib.

Alkudus berisi banyak cerita–baik rasul maupun bukan–yang memberikan pelajaran bagi pemeluk agama Kaib. Selain cerita tentang Dama dan Waha sebagai manusia pertama, ada Nabasy yang menyeru untuk tidak memikirkan pikiran orang lain. Ada Diris yang diuji dengan tidak memiliki keturunan. Ada Samis–anak Diris–yang menyeru kepada kaum Uasar agar tidak menyekutukan Tuhan dengan udara. Ada Yahmur yang membangun balai ibadat. Ada Bitua yang mengajarkan tentang jual beli. Ada Sajwan yang mengajarkan memelihara hewan. Dan masih banyak kisah-kisah lainnya yang menjadi pedoman bagi penganut  agama Kaib.

Meski begitu, Alkudus bukanlah kitab sebagaimana kitab. Ia hanyalah sebuah novel yang menyerupai kitab. Pada sampul buku karya Asef Saeful Anwar ini, tertulis bahwa buku ini adalah sebuah novel. Tapi sensasi membaca kitab akan didapat saat membaca halaman demi halaman. Bab per babnya diberi nomor  yang mencerminkan surah. Kalimat per kalimat juga diberi nomor yang mencerminkan ayat. Setahu saya bentuk seperti itu hanya pada kitab suci saja.

Dalam sebuah tulisan, Asef bahkan dituduh ingin menjadi Tuhan. Ia menciptakan manusia, menciptakan alam semesta, menciptakan surga dan neraka, mengutus rasul dll. Kuasa seperti itu memang hanya Tuhan yang punya. Coba tengok ayat-ayat di  bawah ini.

”Dan di surga pernah aku ciptakan manusia pertama agar keturunannya kembali ke tempat semula.” (3:17)

“Manusia adalah manusia, demikianlah ketetapan-Ku.” (4:132)

“Dan apakah yang mustahil bagi-Ku bila segala sesuatu dan setiap peristiwa dapat terjadi hanya dalam satu perkataan: deden.” (5:209)

“Demikianlah kami uji keduanya hingga mereka senantiasa mendoakan anaknya.” (7:70)

Kalimat-kalimat seperti itu mudah ditemukan dalam banyak bagian. Asef menghadirkan bahasa Tuhan dan cara-cara Tuhan sehingga untuk orang awam, buku ini sangat meyakinkan sebagai sebuah kitab. Kalau seumpama buku ini dijilid seperti kitab-kitab pada umumnya dan ada seseorang yang mendakwahkannya, maka sungguh agama Kaib ini berpotensi menghasilkan banyak pengikut sekaligus menghasilkan banyak kontorversi. Alangkah baiknya bacalah buku ini sebelum dilarang sebab membaca Alkudus memperlihatkan bahwa terdapat obsesi lain seorang hamba selain menjadi Tuhan, yakni menciptakan Tuhan.

Tapi Alkudus bukan soal ingin menjadi Tuhan ataupun melampaui Tuhan. Buku ini hanya ingin menyampaikan kisah-kisah yang bisa menjadi teladan bagi pembacanya. Cerita-cerita yang ada dalam Alkudus pun banyak yang sama dengan cerita keagamaan lainnya yang mungkin sangat sering kita dengar. Kisah Dama dan Waha sama seperti kisah nabi Adam dan Hawa. Kisah Ianat yang membunuh Manat sama seperti kisah Qabil dan Habil. Kisah Yahmur yang mendirikan balai ibadat sama seperti kisah nabi Ibrahim.  Bahkan Erelah sang utusan yang disebut dalam Alkudus, sama seperti kisah nabi Muhammad SAW. Dan masih banyak kisah lainnya yang sepertinya dicomot dari cerita yang sudah ada.

Keunikan buku ini hanya ada pada cara penyajiannya. Saya tidak tahu, apakah Asef adalah orang pertama yang melakukan cara penyajian seperti kitab atau bukan, tapi ini cara baru becerita yang tidak saya dapat dari novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Dalam sebuah cuitan, saya  mengatakan bahwa Alkudus adalah novel paling eksperimental (bentuk) yang pernah saya baca.

Alkudus, Erelah dan agama Kaib hanyalah fiktif belaka. Tapi jika kita berandai-andai, seandainya itu didakwahkan, lantas bagaimanakah wajah agama Kaib itu? Mungkin ayat-ayat di bawah ini sedikit bisa menggambarkan.

“Dan cerita akan lebih menyentuh bagian-bagian itu (akal dan perasaan) daripada sekadar perintah dan larangan.” (2: 32)

“Maka Tuhan memilih cerita sebagai jalan firman. Di sisi-sisinya Tuhan sertakan perintah dan larangan sebagai petunjuk jalanmu menjadi lurus dan lempang. Mereka yang menempuh jalan itu pasti akan sampai pada kebaikan yang sempurna. Dan sungguh dia yang tahu jalan di langit tidak akan tersesat di bumi. Mereka akan sampai pada kebahagiaan yang berharga. Sebaik-baik kebahagiaan adalah yang dibagi, termasuk dengan bercerita (2: 36-40).


Dari ayat-ayat itu saja, saya percaya bahwa agama Kaib ini bisa menjadi agama yang mengasyikkan. Akan banyak kedamaian dan akan banyak kebahagiaan, sebab akan ada banyak dakwah dengan bercerita dan tentunya, itu tidak dengan marah-marah.  

Ilustrasi: Pixabay.com Tak baik duduk di depan pintu. Pamali . Itulah satu-satunya alasan–yang meskipun sebuah larangan–aku men...

Ilustrasi: Pixabay.com

Tak baik duduk di depan pintu. Pamali.

Itulah satu-satunya alasan–yang meskipun sebuah larangan–aku mengagumi sekaligus mengasihani perempuan itu. Tak ada sebab yang pasti kenapa aku menyebutnya perempuan. Kalaupun ada yang bilang perempuan memiliki derajat yang lebih tinggi dari wanita– sebab yang pertama dari kata empu sedangkan yang belakangan dari kata wani ditoto–aku tak mau terlalu ambil pusing. Setahuku, keduanya sama saja: sama-sama punya lubang tempat keluarnya umat manusia.
Dari cerita yang kudengar, kutahu kalau perempuan itu–karena rasa penasaran–sering dengan sengaja melanggar pamali. Ibunya sudah berulang kali melarangnya tapi tiap kali dilarang tiap itu juga ia selalu melawan. Dari cerita itu saja, aku jadi paham kalau ia sejenis perempuan yang kepalanya seperti batu.
Pamali itu larangan yang tidak masuk akal. Aku tak mempercayainya dan akan kubuktikan kalau pamali itu tidak benar,“ katanya pada ibu suatu waktu
Sungguh, itu terdengar lebih daripada sekadar rasa penasaran. Kalau kutimbang-timbang ungkapan yang pas, mungkin itu lebih layak disebut perlawanan atau pemberontakan. Aku yakin gen-gen seperti itu hanya dimiliki oleh satu dua orang generasi yang lahir di muka bumi.
Rasa penasaran perempuan itu terhadap pamali bermula ketika waktu kecil sering dilarang menggunting kuku. Kata ibunya, tidak baik menggunting kuku pada malam hari. Pamali. Nanti pencuri masuk ke rumah. Pada awalnya ia menurut saja. Tapi mau bagaimana lagi, kepala bocah selalu penuh dengan pertanyaan yang memaksa untuk dijawab. Pada suatu malam tatkala ibunya sudah tidur, ia diam-diam ke dapur menggunting kuku dan menaruh potongan kuku di kantong celana tidurnya. Pada akhirnya ia lega sebab malam itu tak terjadi apa-apa meskipun sebuah parang telah ia siapkan di kolong ranjang.
Peristiwa lain yang masih ia ingat betul adalah ketika ibu menarik telinganya pada suatu petang. Ia memang sengaja tidak pulang ke rumah sejak sore waktu itu. Ibu kemudian menemukannya duduk di teras masjid dan saat itu juga menjewer telinganya keras-keras. Sewaktu ditanya kenapa tidak pulang, ia malah balik bertanya sambil meringis kesakitan: “Katanya kalau keluar maghrib akan diculik setan, tapi kok setannya tidak datang-datang?” Ibunya tak tahu harus menjawab apa. Sambil terus mengomel ia menarik telinga anak gadisnya seperti sapi yang dipaksa ke kandang.
Hingga perempuan itu dewasa, kelakuan sejenis itu beberapa kali ia lakukan. Hasilnya pun sama saja: tak terjadi apa-apa. Sebetulnya ia tidak berharap hal buruk itu akan betul-betul terjadi pada dirinya. Tidak. Hanya saja, ia ingin buktikan kepada ibunya kalau semua yang pamali-pamali itu tidak betul. Pada akhirnya memang ia menang dari ibunya walaupun kebanyakan hanya dengan argumen saja.
Saking berhasratnya perempuan itu melawan pamali, kebiasaan itu terbawa ke kehidupannya di luar rumah. Waktu itu, ia masih kelas satu SMA saat berita duka meninggalnya seorang siswa menyebar di sekolahnya. Dari sekian banyak cerita yang beredar perihal kematian tersebut, ia tertarik hanya pada satu hal: kematian siswa itu karena sehari sebelumnya berada di posisi tengah ketika foto bertiga. Ia mendengarnya dari teman sebangkunya sendiri dan tak ada yang membuatnya begitu penasaran selain cerita macam itu. Saat itu juga ia minta foto bertiga dan mengambil posisi di tengah. Keesokan harinya ia dengan begitu telak membantah seluruh perkataan temannya sebab ia mampu membuktikan dirinya baik-baik saja. “Kematian itu datangnya dari Tuhan. Apa hubungannya sama foto?” Tutup perempuan itu.
Perempuan itu bahkan pernah menceramahi teman kantornya sendiri. Waktu itu teman kantornya bercerita kalau menyapu pada malam hari bisa menyebabkan sulitnya rejeki. Setelah mendengar itu, tiap malam perempuan itu justru menyapu di rumah. Beberapa bulan kemudian ia mendapat promosi jabatan sedangkan temannya itu di situ-situ saja. Waktu temannya itu tahu, ia mengutarakan ingin melakukan hal yang sama. Tapi perempuan itu justru menampar dengan pernyataan yang membuat temannnya itu tak mampu berkata-kata: “Rejeki itu datang karena doa dan usaha. Tidak ada hubungannya sama sapu-menyapu.”
Ya, begitulah cara perempuan itu melawan semua kepamali-pamalian. Aku kira, semua orang yang percaya pamali akan mati kutu kalau berdebat dengannya. Gaya bicaranya juga mengagumkan, bak orator yang sedang berpidato di atas mimbar. Pernah sekali waktu, aku mengobrol dengannya. Dari pembicaraan itu, aku jadi tahu kalau perempuan itu sebenarnya paham kalau ada maksud baik dibalik pamali. Hanya saja, ia tak habis pikir kalau di zaman sekarang masih banyak orang percaya pada hal yang tak pernah masuk diakalnya. Memotong kuku di malam hari dilarang, ya karena dulu belum ada penerangan memadai, keluar saat maghrib dilarang, ya karena saat itu waktu shalat, berpindah-pindah tempat saat makan dialarang, ya karena memang tidak sopan. Begitulah ia membangun pembenaran-pembenaran dalam kepalanya. Rentetan jawaban seperti itu, membawa keyakinan dalam dirinya bahwa pamali itu hanya ketakutan-ketakutan yang diciptakan orangtua agar anaknya patuh. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa cara-cara seperti itu tak akan pernah ia lakukan pada anak-anaknya kelak.
Mendengar semua itu, rasa-rasanya aku telah menjadi penggemar rahasianya hari itu juga. Tapi aku mengagumi perempuan itu sama seperti aku mengasihaninya. Belakangan ini, ada yang membuatku bertanya-tanya. Wajah perempuan itu didera semacam kemurungan yang entah apa sebabnya. Aku yakin, ia sedang tidak baik-baik saja. Dari raut mukanya, seperti ada sebuah persoalan besar yang bahkan tak bisa dihadapi oleh kepalanya sendiri. Kukira, kalau ia terus-menerus bungkam, situasi macam itu akan terus mendekam dalam dirinya. Menjadi beban yang tak hanya dibawa tidur tapi juga dibawa berak.
***

Tak baik duduk di depan pintu. Pamali.

Itu kata ibu dan aku tanya alasannya. Ibuku bilang nanti sulit mendapatkan jodoh. Keesokan harinya ibuku heran ketika tiba-tiba aku duduk di depan pintu rumah sepulang kerja. Hari-hari berikutnya juga, setiap hari, setiap sore. Sudah tak terhitung berapa kali Ibuku melarang. Tapi dari nada suaranya akhir-akhir ini, itu lebih pantas disebut ekspresi kecapaian ketimbang larangan. Sebetulnya aku tak mau membantah perintah ibu. Tapi perihal yang satu ini, menjadi pengecualian. Aku yakin ibu mengerti meskipun aku yakin juga kalau ia hanya terpaksa.

Tak baik duduk di depan pintu. Pamali.

Itu kata ibu dan aku tak percaya. Aku duduk di depan pintu rumah hanya untuk membuktikan kalau itu salah. Setap hari, setiap sore. Kalau ada yang tak sependapat denganku, aku persilakan datang ke rumah dan akan kujelaskan duduk perkaranya. Tapi sayangnya tak pernah ada yang datang. Tidak untuk menentang, tidak juga untuk meminang padahal aku masih perawan.

Tak baik duduk di depan pintu. Pamali.

Itu kata ibu dan aku sudah empat puluh. Aku tak tahu apakah akan tetap duduk di depan pintu ataukah harus bersimpuh di kaki ibu?

Ilustrasi: Pexels.com Salah satu persoalan pelik bangsa Indonesia yang tak kunjung usai adalah korupsi. Sudah tak terhitung berapa ba...

Ilustrasi: Pexels.com

Salah satu persoalan pelik bangsa Indonesia yang tak kunjung usai adalah korupsi. Sudah tak terhitung berapa banyak pejabat dengan posisi penting terjerat kasus korupsi. Mulai dari bupati atau wali kota, gubernur, anggota dewan, bahkan hakim yang notabene adalah pengadil itu sendiri. Tak hanya itu, praktik pencurian uang rakyat ini juga tejadi di desa-desa. Berdasarkan data dari Indonesia Corruption Watch (ICW), pada tahun 2016 terdapat 62 kasus korupsi di desa yang menyebabkan negara rugi sebesar Rp 18 miliar1. Untuk itu, komitnen memerangi korupsi terus digalakkan. Lembaga penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus bekerja untuk memberantas atau paling tidak mengurangi praktik korupsi di Indonesia.

Akan tetapi, para koruptor sepertinya belum juga mendapatkan efek jera. Berdasarakan data dari ICW selama tahun 2016, sebanyak 482 kasus korupsi terjadi di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 1.101 tersangka dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 1,45 triliun2. Melihat itu, tak heran jika pada tahun 2016, Indonesia berada pada pringkat ke-90 dari 176 negara dalam persoalan korupsi3. Data yang dirilis oleh Tranparansi Internasional (TI) tersebut menujukkan bahwa korupsi di Indonesia dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Maraknya kasus korupsi ini sebetulmya tidak datang begitu saja. Praktiknya sudah berlangsung turun-temurun, menjadi kebiasaan, dan mendarah daging di tubuh sebagian manusia Indonesia. Praktik korupsi ini sepertinya benar-benar telah membudaya atau kalau meminjam istilah mantan ketua Komisi Yudisial (KY) Suparman Marzuki, korupsi di Indonesia sudah menjadi hukum adat4. Kalau hal ini terus terjadi, yakin dan percaya negara ini tak akan pernah maju.

Sumber: Katadata.co.id

Ada banyak faktor mengapa praktik ini terus-menerus terjadi hingga hari ini. Tapi, jika kita menganalisanya melalui konsep segitiga kecurangan5, bisa jadi penyebabnya hanya ada tiga. Pertama adalah tekanan (pressure). Adanya tekanan, misalnya karena kebutuhan yang mendesak, membuat seseorang terdorong untuk berbuat korupsi. Kedua adalah peluang (opportunity). Faktor kedua ini berkaitan dengan pengendalian internal. Orang-orang melakukan korupsi karena negara tak dapat mencegah atau bahkan mendeteksinya. Ketiga adalah pembenaran (rationalization). Para koruptor selalu mendapatkan dalih pembenaran atas korupsi yang mereka lakukan.

Dari ketiga kondisi tersebut, yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah rationalization sebab kondisi ini sangat terkait dengan kebiasaan yang telah ada. Orang akan dengan entengnya melakukan pembenaran dengan mengatatakan “saya korupsi sebab semua orang juga korupsi” jika ada kebiasaan yang telah terbentuk sebelumnya. Bayangkan, misalnya dalam sebuah organisasi terdapat kebiasaan berbuat curang yang telah mendarah daging. Kemudian, pada suatu waktu, organisasi itu merekrut anggota baru. Si pendatang baru ini kemungkinan besar akan terjerumus dalam pusaran kecurangan yang dilakukan organisasinya. Tidak semua individu akan melakukan seperti itu memang, tapi dalam hal-hal tertentu idealisme kadang-kadang dipinggirkan. Pada titik itulah pembenaran-pembenaran itu akan muncul. Pembenaran itu akan terus berulang dari generasi ke generasi. Hal seperti inilah yang terjadi di Indonesia. Praktik korupsi akan terus hadir jika pembenaran-pembenaran masih ada dalam kepala para pelakunya.

Menyingkirkan kebiasaan korupsi ini memang tidak mudah. Salah satu yang dapat dilakukan adalah membentuk kebiasaan baru yang bertentangan dengan perilaku korupsi itu sendiri. Kebiasaan diperhadapkan dengan kebiasaan, atau dalam hal ini adalah membentuk lingkungan yang jujur, bersih, dan bebas korupsi. Kebiasaan ini dapat dimulai dari diri sendiri. Akan tetapi, ini terdengar sangat klise. Lagi pula, sudah bertahun-tahun pendidikan karakter diajarkan di sekolah-sekolah,, tapi faktanya korupsi masih tetap terjadi juga. Mengenai pendidikan karakter, ada gagasan dari Wawan Kurniawan untuk Melawan Korupsi Dengan Sastra6. Menurutnya, sastra dapat menumbuhkan dan mengembangkan empati. Gagasan ini cukup menarik. Hanya saja, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menanamkannya kepada generasi muda. Cara ini bisa menjadi solusi jangka panjang terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

Sepertinya tidak ada jalan lain selain dengan melawan. Diam bukanlah pilihan untuk melawan korupsi. Seluruh masyarakat harus melibatkan diri untuk memberantas praktik ini. Jika melihat praktik atau niat melakukan korupsi, laporkan. Ketakutan-ketakutan akan intimidasi atau semacamnya harus disingkirkan. Lagi pula, Lembaga PerlindunganSaksi dan Korban (LPSK) hadir untuk memberikan perlindungan dan bantuan baik kepada saksi maupun korban. Kata Kasino, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur. Untuk itu, ketidakjujuran-ketidakjujuran itu harus dilawan agar Indonesia terbebas dari jeratan para koruptor. Dengan begitu, bangsa ini akan menjadi lebih baik ke depannya. Amin.  







Catatan:






Sumber: Viva.co.id /Hari Pertama/ Saya berada di sebuah ruangan pemeriksaan kesehatan tatkala seorang lelaki yang telebih dahulu be...


Sumber: Viva.co.id

/Hari Pertama/
Saya berada di sebuah ruangan pemeriksaan kesehatan tatkala seorang lelaki yang telebih dahulu berada di sana menawari bantuan untuk mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Sontak saya menolak, pasalnya dia meminta bayaran Rp 375.000,00. Sangat mahal. Padahal, untuk membuat SIM, biayanya jauh di bawah itu. Untuk SIM A, SIM yang mau saya urus,itu misalnya, biaya untuk buat baru hanya Rp 120.000,00 dan kalau perpajangan, biayanya lebih murah lagi, yakni Rp 80.000,00. Sangat jauh berbeda dari tawaran lelaki tadi. Dari gelagatnya, saya cukup yakin kalau lelaki itulah yang disebut calo.
Siang itu, setelah membayar Rp 25.000,00 untuk biaya pemeriksaan dan mendapat surat keterangan berbadan sehat, saya segera meninggalkan ruangan pemerikasaan kesehatan itu untuk mempersiapkan kelengkapan berkas lainnya, yakni foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Persyaratan untuk memohon SIM baru memang cukup mudah, hanya foto copy KTP dan Surat keterangan berbadan sehat plus formulir registrasi tentunya. Formulir registrasinya sendiri, disediakan oleh petugas di Satuan Lalu Lintas (Satlantas) yang bersangkutan.
Setelah semuanya lengkap, saya menyerahkan semua kelengkapan berkas dalam sebuah map kepada seorang petugas yang bertugas di loket pendaftaran. Saya kemudian menunggu nama disebut untuk dapat melanjutkan ke proses selanjutnya. Di ruangan pelayanan itu telah banyak juga orang yang mengantre, baik yang duduk di kursi yang disediakan maupun yang berdiri karena tidak dapat tempat. Gambaran ruang pelayanannya sendiri, terdiri dari beberapa loket. Selain loket pendaftaran, juga terdapat loket pengambilan formulir registrasi, loket pembayaran untuk membayar biaya pembuatan SIM, dan loket penyerahan SIM kalau SIM-nya sudah dicetak. Semuanya berada dalam satu ruangan yang kalau misalnya dipakai untuk main bulutangkis, niscaya tidak akan muat.
Sialnya, baru beberapa saat menunggu, pelayanan tiba-tiba dihentikan. Katanya Presiden Jokowi telah tiba di (kotanya disensor saja yah) dan seluruh aparat harus menyambut kedatangan beliau. Saat-saat seperti ini, saya jadi benci pak Jokowi. Kenapa sih pakde ini datang saat saya sedang mengurus SIM? Uhh syebel dah ….

/Hari Kedua/
Ruang pelayanan itu sudah agak sepi saat saya datang kembali keesokan harinya. Petugas yang berada di loket pendaftaran memberikan map saya yang kemarin dan mempersilakan masuk ke sebuah ruangan lain untuk proses selanjutnya. Di sana data saya diinput menggunakan kemputer oleh seorang petugas lainnya. Kalau tidak salah ingat, katanya hal ini dilakukan untuk mengintegrasikan data SIM dengan data KTP. Entahlah, saya ngikut saja prosedurnya. Setelah itu, saya dipersilakan ke ruangan lainnya untuk proses pemotretan. Di sini, tak hanya potret wajah yang diambil, tapi sidik jari dan tanda tangan juga. Sampai di sini, data-data untuk pembuatan SIM sebetulnya sudah lengkap. Hanya saja, pemohon harus melewati dua prosedur penting lainnya: ujian teori dan praktik (katanya, untuk pengurusan perpanjangan SIM, tidak melewati dua ujian ini).
Sialnya lagi, saat saya hendak masuk ke ruangan ujian teori, kata petugasnya pelayanan sudah tutup. Apa yang salah? Hari itu saya tiba pukul sekitar 14.30 dan saya pikir, satu setengah jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan seluruh prosedur pembuatan SIM. Tapi ternyata, pelayanan tutup pada pukul 15.00 dan tidak ada pilihan lain bagi saya selain balik badan, simpan map di petugas loket pendaftaran dan segera pulang. SIM masih belum selesai. Syebel ….

/Hari Ketiga/
Sembilan hari berikutnya saya datang lebih awal. Sesampainya di ruangan ujian teori, seorang petugas meminta berkas saya. Dia kemudian memberikan semacam nomor registrasi. Di ruangan itu, telah tersedia banyak komputer yang berjejer rapi, mengigatkan saya pada laboratorium komputer sewaktu SMP dulu. Saya mengambil tempat dan memasukkan nomor registrasi tadi ke komputer agar dapat mengakses soal. Ujiannya memang menggunakan komputer dan serba otomatis. Hari itu ujian, hari itu juga diperoleh hasilnya.
Sebelum masuk ke soal-soal inti, ada 7 buah pertanyaan survei yang mesti dijawab. Pertanyaan ini tidak akan berpengaruh pada hasil ujian nantinya. Ujian kemudian dimulai ketika soal-soal berikutnya muncul. Sebanyak 30 soal harus dijawab dalam waktu 15 menit. Jika tidak mencapai batasan nilai yang dipersyaratkan, akan dinyatakan tidak lulus atau kalau kehabisan waktu dan juga tidak mencapai batasan nilai, juga dinyatakan tidak lulus. Saya tidak tahu berapa passing grade-nya, yang jelas, saya menjawab semua soal dan meskipun tak benar semua, saya akhirnya dinyatakan lulus.
Selepas dari sana, lanjut ke ujian praktik. Awalnya saya mengira ujian praktinya akan menggunakan simulator, tapi ternyata tidak. Saya diarahkan ke sebuah ruangan terbuka yang di sana ada beberapa mobil dan motor yang terparkir. Itulah tempat ujian praktik SIM ini. Setelah melapor dan menyetor berkas kepada petugas di sana, saya akhirnya dipersilakan memulai ujian ini. Ujian praktiknya terlihat cukup gampang, hanya memajukan mobil dari parkiran sambil berbelok ke kiri, kemudian mundur dan memarkirnya lagi. Yang bikin sulit sebab harus dilakukan dengan satu kali putaran setir. Kalau lebih, ya gagal. Tak hanya itu, sebelum saya memulai ujian, di kanan-kiri mobil diletakkan dua pipa pendek sebagai pembatas. Kalau mengenainya, ya sudah pasti gagal. Untungnya saya berhasil melwati ujian ini. Sudah selesai? Belum. Setelah itu, saya pun harus mengartikan isyarat aba-aba dari polisi lalu lintas. Untungnya lagi, beberapa gerakan bisa saya jawab tapi kebanyakan tidak.
Sampai pada tahap ujian praktik, saya merasa pengurusan SIM ini lancar-lancar saja. Kalau sebelumnya ada yang bilang ujian-ujiannya sulit, nyatanya tidak demikian. Ujian teorinya setidak-tidaknya tidak sesulit ujian nasional dan ujian praktiknya bahkan lebih mudah dari berkendara di tengah kemacetan kota. Sampai di sini, saya merasa sudah pantas lulus dan akan segera mendapat SIM. Namun akhirnya pikiran itu kemudian berubah karena sebuah percakapan dengan salah seorang petugas ujian praktik. Kira-kira seperti ini.
“Kau bawa berapa uang?”
“150,” jawab saya berbohong, sebab di dompet saya sebetulnya ada 190 ribu.
“Datang lagi hari senin, tambah lagi 50, atau kapan-kapanlah kalau sudah ada uangnya,” kata petugas itu sambil menyerahkan sebuah kertas kecil yang telah ditulis nama saya di satu sisinya dan juga terdapat nama salah seorang lagi di sisi lainnya.
Berkas saya disimpan di sana dan saya pulang dengan perasaan bingung antara lulus atau tidak. Tapi terlepas dari itu, satu hal yang pasti: urusan SIM ini masih belum selesai. Syebel ….

/Hari Keempat/
 Saya kembali 12 hari berikutnya dengan membawa Rp 200.000,00 di dompet. Tapi untungnya uang itu tidak pernah diminta. Entah karena lupa atau mungkin karena banyak orang waktu itu. Yang jelas, ketika saya perlihatan kertas kecil yang diberikan petugas itu, saya hanya diminta menuju ke sebuah ruangan lain untuk melakukan semacam verifikasi berkas. Setelahnya, saya diarahkan untuk membayar biaya pembuatan SIM di loket pembayaran. Itu saja.  
 Setelah membayar sebesar Rp 120.000,00 saya beralih ke ruang cetak SIM. Sialnya lagi, SIM belum bisa dicetak. Blangko kosong. Saya hanya diberi dua buah kertas: tanda bukti SIM sementara dan data verifikasi. Untungnya, kedua kertas itu setara SIM. Itu artinya saya telah mendapat izin untuk mengemudikan mobil. Tapi dengan itu pula, artinya saya masih harus kembali lagi kalau SIM sudah dicetak. Urusan SIM ini masih belum selesai-selesai juga. Syebel ….

/Hari Kelima/
Setelah menghubungi call centre beberapa kali untuk menanyakan perihal SIM, tepat 63 hari berikutnya saya datang lagi. Katanya SIM sudah dicetak dan sudah bisa diambil. Di ruang pelayanan itu, saya meyerahkan dua buah kertas tanda bukti SIM sementara dan data verifikasi kepada petugas loket penyerahan SIM. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, nama saya dipanggil dan kemudian SIM diserahkan. Urusan SIM ini akhirnya selesai.

***

Begitulah kura-kura perihal urus-mengurus SIM ini. Terlihat lama memang. Tapi kalau saya kira-kira, pengurusan SIM ini sebetulnya bisa selesai dalam waktu dua jam saja atau bahkan kurang dari itu. Tetapi, pengurusan yang cepat dan tentunya juga murah itu, dapat terjadi hanya dengan syarat dan ketetentuan berlaku. Cepat apabila misalnya tidak ada penghentian pelayanan yang tiba-tiba dan juga blangko SIM tersedia saat SIM mau dicetak. Pengurusan SIM juga akan murah apabila misalnya tidak pakai calo, atau tidak ada oknum yang sedang rese yang bisa menguras uang. Sepertinya memang, dibutuhkan sebuah keberuntungan agar terhindar dari  beberapa kondisi-kondisi seperti itu. Untuk itu, bagi kalian yang sedang dan ingin mengurus SIM, semoga beruntung.

Sudah, itu saja.