Apa yang tersisa dari perhelatan pesta demokrasi seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, atau pemilihan presiden...




Apa yang tersisa dari perhelatan pesta demokrasi seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan umum legislatif, atau pemilihan presiden? Kalender? Baju kampanye? Bendera partai?  Sangat bisa. Barang seperti itu memang sering digunakan sebagai alat kampanye. Tapi untungnya, ketiga-tiganya tidak memberikan dampak buruk apa-apa setelah pemilihan usai sebab yang pertama, sangat besar kemungkinannya berakhir sebagai pengganjal lemari, sementara dua yang terakhir sangat mungkin beralih fungsi menjadi keset yang sering diinjak-injak di depan pintu kamar mandi.

Sayangnya, yang sulit lenyap setelah kontestasi politik semacam itu adalah kebencian, atau lebih tepatnya kebencian akibat perbedaan pilihan. Kita mungkin acapkali menemukan situasi semacam ini: Saling caci-maki karena perbedaan pilihan politik, saling intimidasi karena perbedaan pilihan politik, atau bahkan  ujaran membunuh karena perbedaan pilihan politik. Parahnya lagi, kebencian seperti itu terus terpelihara bahkan jauh setelah kontestasi politik selesai. Jika terus terjadi, hal ini tentunya tidak baik bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita.

Syafri Arifuddin Masser membaca persoalan tersebut dalam buku puisinya, Unjuk Rasa: Kumpulan Sajak-Sajak Politik. Lihat saja misalnya dalam puisi berjudul Sebuah Ikatan yang Bisa Putus Kapan Saja. Puisi itu berusaha menyindir kelakuan sebagian mayarakat yang kerap bersitegang karena mati-matian mempertahankan sesuatu yang dianggapnya paling benar. Ketegangan tersebut pada akhirnya dapat memutus hubungan kekerabatan, dan pilkada–sebagaimana disebut dalam puisi itu–adalah salah satu pemicunya.

Suara yang lebih menohok dapat dilihat dalam Gara-Gara Pemilu. Puisi itu bahkan menggambarkan hubungan ayah dan anak yang renggang hanya karena berbeda pilihan politik. Mungkin saja ini tidak benar-benar terjadi, tapi mengingat dalam praktik politik kita cenderung mengandung unsur-unsur kebencian, maka bukan tidak mungkin keretakan hubungan keluarga–seperti ayah dan anak tadi–bisa saja terjadi atau bahkan sudah terjadi di suatu tempat di manapun di negeri ini.

Tema yang menyinggung langsung politik praktis seperti di atas memang beberapa kali Syafri angkat dalam kumpulan puisinya ini. Sebut saja misalnya Dalam Bilik Suara, Setelah Pesta Demokrasi Selesai, Tidak Memilih Golongan Putih, Tahun-Tahun Politik, dan Mahar Politik. Tentu saja semua puisi itu mengungkapkan persoalan yang berbeda, tapi tetap saja mengerucut pada satu hal yang sama, yakni praktik kehidupan demokrasi kita. Puisi-puisi seperti yang disebut di atas sedikit bisa mewakili persoalan politik seperti apa yang hendak disampaikan penulisnya.

Tak melulu soal politik, Syafri juga berusaha mengangkat isu-isu lain dalam beberapa puisinya. Lihatlah ke Bawah Sekali Saja, Tuan adalah upayanya untuk menyuarakan keadilan sosial. Lain pula dalam Anti Tabayun, ia menangkap  fenomena di mana sebagian orang dengan gampangnya menghakimi orang lain tanpa melihat inti permasalahan secara keseluruhan. Tema-tema seperti itu, meskipun tak menyangkut politik secara langsung, tapi tetap saja persoalan-persoalannya kadangkala dipengaruhi oleh gejolak-gejolak politik yang terjadi.

Dalam kata pengantarnya, Syafri mengatakan bahwa puisi-puisinya dalam Unjuk Rasa adalah hasil pembacaannya terhadap keadaan. Cara tersebut membuat kita sebagai pembaca merasakan bahwa fenomena yang dibicarakan Syafri dalam puisinya adalah fenomena yang yang pernah kita dengar atau bahkan pernah kita rasakan sebelumnya. Kalau cara tersebut adalah tolok ukur keberhasilan sebuah puisi, maka beberapa puisi dalam Unjuk Rasa bisa dikata cukup sukses menyampaikan maksudnya.

Selain itu, puisi-puisi Syafri adalah puisi yang juga lahir dari pembacaannya terhadap teks. Jejak bacaannya dapat dilihat misalnya dalam Sebuah Ramalan yang Barangkali Benar-Benar Terjadi. Sejak awal, puisi itu sudah menyebut bahwa 1984 karya George Orwell adalah penyebabnya. Dalam puisi yang berbeda, yakni Percakapan Imajiner Dengan Niccolo Machiavelli, Syafri membicarakam relevansi pemikiran Machiavelli di era sekarang. Dalam konteks penciptaan, ini menunjukkan bahwa karya dapat menghasilkan karya, bahwa tulisan dapat menghasilkan tulisan lainnya. Syafri melahirkan puisinya bahkan dari bacaannya sekalipun.

Pada akhirnya Unjuk Rasa adalah bentuk keresahan Syafri atas apa yang terjadi di sekitarnya. Ia resah atas kepentingan politik yang merugikan sebagian orang, ia resah atas perilaku sosial di dunia nyata dan maya yang cenderung terpecah, ia  pun resah atas masyarakat yang apolitis. Jikalau keresahan seperti itu penting untuk disuarakan, lantas sampai di mana puisi memiliki daya untuk memperbaiki keadaan yang diresahkan penulisnya? Bisa jadi tidak mampu sama sekali. Tapi jika kita merujuk Wawan Kurniawan yang menuliskan bahwa dengan sastra yang baik, empati kita dapat tumbuh dan berkembang, maka sastra–termasuk juga puisi–paling tidak mampu melakukan hal itu. Semoga puisi Syafri dalam Unjuk Rasa adalah puisi-puisi yang setidaknya mampu menumbuhkan empati kita sebagai seorang manusia.

Masih di buku terbitan Penguin Reader level easystarts . Buku ini berjudul The Last Photo tulisan Bernard Smith. Terjemahan yang ...





Masih di buku terbitan Penguin Reader level easystarts. Buku ini berjudul The Last Photo tulisan Bernard Smith. Terjemahan yang saya lakukan seperti di bawah ini. Sekali lagi, ini mungkin agak sulit dipahami sebab terjemahan ini tidak dilengkapi gambar seperti yang ada pada bukunya. Selain itu, hasil terjemahan ini memang masih sangat buruk dan jauh dari kata baik.

***

Judul: Foto Terakhir

Penulis: Bernard Smith

Sabtu sore. Martin dan saudara perempuannya, Pam berada di Universitas Cambridge seharian.  Mereka sedang melihat-lihat keindahan bangunan tua dari Universitas itu. Pam mempunyai kamera. Dia senang mengambil gambar dan kadang-kadang sangat bagus. Tapi terkadang juga sangat jelek dan Martin menertawakannya.

Pukul 5 sore. Pam dan Martin menuju rumah. Mereka lelah setelah hari yang teramat panjang. Mereka berada di taman dekat terminal bis. “Ayo ambil foto terakhirmu,” kata Pam.

“Oh jangan, jangan lagi,” kata Martin.

“Ayolah,” kata Pam. “Ini yang terakhir. Saya mau menghabiskan film terkhir di kamera saya.”

“Baiklah kalau begitu,” kata Martin.

Dia berdiri di depan bunga-bunga.

“Lihat saya,” kata Pam dan menjepret.

Seorang lelaki dengan ransel di punggungnya berjalan diantara Pam dan Martin.

“Oh tidak,” kata Pam. “Saya mengambil gambar laki-laki itu, bukan kamu, Martin.”

Lelaki itu melihat Pam. Dia marah. Dia menyeberang jalan tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Lelaki itu terlihat tidak baik, bukan?” kata Martin.

“Tidak,” kata Pam. “Dan itu menjadi juga gambar terakhir dari film kamera saya.”

Lelaki dengan ransel itu menuju terminal bis. Dia memakai kacamata dan topi berwarna biru.

“Ayo,” kata Martin. “Ayo cari ibis kita.”

Mereka menuju teminal bis.

“Lihat,” kata Martin. “Ada lelaki yang tadi. Dia masuk ke bis itu. Dia akan ke Aberdeen. Itu di Skotlandia.”

“Bagus,” kata Pam. “Jauh dari sini dan jauh dari saya!” Dia marah kepada lelaki itu.

Tiga hari setelahnya, pada hari selasa, Pam sudah mencetak foto-fotonya.

“Lihat, ini,” katanya ke Martin. “Ini foto-foto kita di Cambridge.”

“Oh, semuanya sangat bagus,” kata Martin.

“Tapi tidak untuk foto terakhir ini,” kata Pam. “Lihat lelaki dengan tas punggung itu.”

Di foto tersebut, lelaki itu berada di depan Martin. Kamu tidak dapat melihat Martin yang berada di belakang lelaki yang memakai ransel itu.

“Tunggu sebentar,” kata Martin. “Saya kenal wajahnya. Itu ada di koran. Kamu sudah melihatnya?”

“Koran hari ini?” kata Pam. “Ya. Kenapa?”

“Ya, Ini dia. Lihat gambar ini,” kata Martin.

Pam melihat gambar yang ada di surat kabar itu.

“Siapa itu?” tanyanya

“Di Koran, namanya Alan Rook,” kata Martin. “Dan dia bekerja di sebuah bank di London. Tapi pada senin  pagi–kemarin pagi–Alan tidak ada! Orang-orang di bank tidak mengetahui keberadaanya. Dan mereka bilang, Alan Rook membawa ratusan ribu pound. Polisi sedang mencarinya juga.”

“Tapi apakah itu lelaki yang di foto saya?” tanya Pam. “Dia tidak punya janggut dan dia tidak punya rambut.”

“Perhatikan telinganya. Perhatikan hidungnya,” kata Martin. “Itu dia. Saya tahu.”

Martin mendapatkan ide. Dia mengambil pensil dan mulai menggambar di surat kabar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Pam.

“Perhatikan,” kata Martin. “Saya menggambar kacamata hitam dan janggut ke lelaki yang di foto ini. Sekarang saya menggambar topi di kepalanya. Lihat? Sekarang perhatikan dua gambar ini.”

“Kamu benar,” kata Pam. “Itu dia. Si Alan Rook.”

“Ayo,” kata Martin. “Bawa foto ini ke polisi.”

Di kantor polisi, Martin dan Pam berbicara dengan seorang polisi. Mereka meletakkan fotonya Pam dan gambar di surat kabar itu di atas meja dan mereka mencertikan kejadiannya.

“Itu Alan Rook,” kata polisi. “Di Cambridge pada pukul 5 sore hari sabtu. Pertanyaan besarnya–di mana dia sekarang?”

“Kami pikir kami tahu. Dia di Skotlandia, di Aberdeen,” kata Pam. “Atau dekat dari sana.” Mereka menceritakan kepada polisi tentang lelaki itu dan bis ke Aberdeen.

“Dia memakai ransel dan sebuah tenda di punggungnya seperti pada foto itu,” kata polisi. “Dia tidak menginap di hotel. Dia berkemah. Jika kita beruntung, dia tetap di Skotlandia. Saya harus menelepon.”

Polisi itu menelepon kantor polisi di Aberdeen.

“Alan Rook di Skotlandia,” katanya. “Kami pikir dia sedang kemping di dekat Aberdeen. Sekarang dia  sedikit berjanggut.”

Keesokan harinya, polisi di Aberdeen menemukan Alan Rook di sebuah tenda di gunung dekat Aberdeen. Uang dari bank ada di ranselnya.

Pagi berikutnya, cerita Pam dan Martin ada di semua surat kabar. Ada foto Alan Rook yang dipotret oleh Pam di terminal bis. Ada gambar Martin dan Pam juga.

Surat kabar itu memuat:

SEORANG WANITA MEMOTRET ALAN
POLISI DI ABERDEEN MENEMUKAN UANG BANK

Orang-orang di bank sangat senang. Mereka memberi Pam dan Martin ribuan pound.

“Foto terakhir saya adalah salah satu yang terbaik setelah semua yang terjadi,” Pam tertawa. “Sekarang saya bisa memberi kamera baru yang lebih bagus.

Siang itu saya berada di salah satu toko buku yang ada di Makassar. Saya hendak membayar dua buah “harta karun” yang baru saja saya ...




Siang itu saya berada di salah satu toko buku yang ada di Makassar. Saya hendak membayar dua buah “harta karun” yang baru saja saya temukan, yakni Ibunda karya Maxim Gorky hasil terjemahan Pramoedya Ananta Toer dan Love in the Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez yang diterjemahkan oleh Rosemary Kesauly. Melihat buku yang saya bawa ke meja kasir, seorang lelaki–entah pembeli atau bukan–yang juga berada di sana berkata kira-kira seperti ini: Kalau suka Gabo, seharusnya suka juga Eka Kurniawan. Tentu saja Gabo yang ia maksud adalah Gabriel Garcia Marquez sebab memang itulah panggilan akrabnya. Saya mengiyakan, dan setelah itu, keluarlah kalimat-kalimat dari mulutnya yang hanya mengerucut pada dua nama: Gabo dan Eka.

Bagi saya–dan mungkin juga lelaki tadi–sulit untuk memisahkan Eka Kurniawan dari Gabo. Saya mulai mengenal nama Gabriel Garcia Marquez berkat tulisan-tulisan Eka dan tulisan-tulisan mengenai Eka. Di blog pribadi Eka misalnya, saya menemukan beberapa tulisan mengenai penulis kelahiran Aratacata, Kolombia, 6 Maret 1927 itu. Bahkan saat kematiannya 17 April 2014 silam, Eka menulis sebuah obituari yang di dalamnya dengan tegas menyebut bahwa Gabriel Garcia Marquez adalah raksasa tunggal kesusastraan abad 20. Dengan pengakuan seperti itu, sulit rasanya untuk tidak tertarik dengan karya-karya Gabo.

Pertemuan pertama saya dengan karya Gabo adalah ketika tak sengaja melihat bukunya terpajang di salah satu rak perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, kampus tempat saya kuliah dulu. Andaikata saat itu saya belum pernah mendengar nama besar seorang Gabriel Garcia Marquez, kemungkinan saya tidak akan menyentuh buku yang berjudul Klandestin di Chile itu. Buku itu sendiri, tidak seperti bayangan saya tentang karya Gabo–seperti misalnya One Hundred Years of Solitude–yang kerap disebut di beberapa tulisan. Klandestin di Chile adalah non-fiksi hasil wawancara Gabo dengan Miguel Littin, seorang warga negara Chile.

Miguel Littin sendiri dilarang pulang ke negaranya oleh pemerintahan Chile yang dipimpin oleh Pinochet saat itu. Ia kemudian menyamar dan masuk ke Chile secara diam-diam. Dari penyamarannya, ia membuat film yang menyerang pemerintahan diktator Pinochet. Gabo kemudian menulis kisah petualangan Miguel Littin itu setelah mewawancarainya selama 18 jam. Kabarnya, setelah tiba di pelabuhan Chile, pemerintahan Pinochet membakar 12.000 eksemplar buku tersebut. Dari hasil pembacaan buku itu saja, saya meyakini bahwa Gabriel Garcia Marquez memang memiliki salah satu elemen penting untuk disebut sebagai penulis hebat. Ia berani, benari menulis kebenaran, yang meskipun hal itu membahayakan nyawanya sendiri.

Pertemuan lainnya adalah ketika saya menemukan terjemahan tulisan-tulisan Gabo di beberapa media daring. Salah satu tulisan yang paling saya ingat adalah cerpen berjudul Sleeping Beauty and the Airplane yang diterjemahkan oleh A.S. Laksana ke dalam bahasa Indonesia menjadi Putri Tidur dan Pesawat Terbang. Cerpen itu berkisah tentang seorang lelaki yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita di atas sebuah pesawat. Sayangnya, dalam penerbangan dari Paris menuju New York itu, si wanita hanya tertidur pulas selama 8 jam nonstop tanpa jeda tanpa henti, tanpa menyadari bahwa seorang lelaki yang sangat mengagumi kecantikannya duduk disampingnya.

Cerpen tersebut terus tertinggal di kepala saya bukan karena ceritanya, melainkan dari mana ide cerita itu bermula. Wanita yang menjadi inspirasi Gabo pada cerpen itu terungkap dalam tulisan Nicholas Shakespeare berjudul Gabriel Garcia Marquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya mengungkapkan Dirinya oleh Marlina Sopiana. Dalam tulisan itu, seorang wanita bernama Silvana de Faria menceritakan pengalamannya bertemu pengarang Kolombia itu. Ia yakin  bahwa obrolannya dengan Gabriel Garcia Marquez di ruang tunggu bandara Charles de Gaulle, Paris pada tahun 1990 adalah obrolan yang akhirnya mengilhami terciptanya cerpen Putri Tidur dan Pesawat Terbang. Pengakuan itu sedikit menjelaskan proses kreatif Gabo sebagai pengarang: bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita bisa diolah menjadi tulisan yang menarik selama mampu disajikan dengan cara yang baik.

Terakhir, saya berhasil menamatkan Love in the Time of Cholera. Seperti judulnya, novel itu merupakan sebuah kisah cinta. Singkatnya mungkin seperti ini: Seorang perempuan bernama Fermina Daza tanpa alasan yang jelas tiba-tiba memutuskan hubungan asmaranya dengan lelaki bernama Florentino Ariza. Fermina Daza kemudian menikah dengan lelaki lain yang lebih terpandang yakni Dr. Juvenal Urbino. Florentino Ariza menunggu selama lima puluh tiga tahun, tujuh bulan, dan sebelas hari untuk bisa kembali mengungkapkan perasaannya kepada Fermina Daza.

Kisah cinta tersebut terdengar sangat luar biasa sebab sangat sulit membayangkan bahwa ada manusia yang sanggup menunggu cintanya selama itu. Meskipun sebenarnya banyak yang beranggapan bahwa kesetiaan Florentino Ariza hanya omong kosong sebab dalam penantiannya, ia berdalih mengobati sakit hatinya dengan meniduri–tanpa menikah–dengan kurang lebih 600 wanita. Apakah menanti wanita pujaan dengan tetap berhubungan bersama banyak wanita lain bisa dianggap sebuah kesetiaan? Mungkin pertanyaan seperti itulah yang kerap digugat oleh beberapa pembaca lain novel ini.

Terlepas dari hal itu, Love in the Time of Cholera bisa dibilang adalah kisah cinta yang complete. Sebuah novel dengan berbagai bentuk kisah percintaan. Tentang kesetiaan, tentang perselingkuhan, tentang cinta masa muda, tentang cinta yang pendek, tentang cinta yang tak terbalas hingga mengarah pada takdir sebuah cinta.

Gabriel Garcia Marquez menyajikan ceritanya dengan sangat menarik, dan saya yakin, hal tersebut juga hadir di karya-karyanya yang lain. Setelah Love in the Time of Cholera, saya bertekad membaca One Hundred Years of Solitude yang tersohor itu. Setelah Love in the Time of Cholera, saya juga bertekad membaca seluruh karya Gabo. Tapi setelah Love in the Time of Cholera, sialnya saya kerap dihantui pertanyaan seperti ini: Apa tidak sebaiknya saya mengikuti kelakuan Florentino Ariza? Ha-ha-ha. Doakan saja yang terbaik. 

Sumber: Penguin Reader  Saya sedang mencoba salah satu metode dalam mempelajari bahasa Inggris yakni dengan menerjemahkan. Saya meng...


Sumber: Penguin Reader 

Saya sedang mencoba salah satu metode dalam mempelajari bahasa Inggris yakni dengan menerjemahkan. Saya mengumpulkan banyak bahan bacaan untuk diterjemahkan. Salah satunya adalah buku-buku terbitan Penguin Reader. Sekadar informasi, Penguin Reader adalah salah satu penerbit buku-buku edukasi yang mengadopsi cerita dari novel terkenal atau kisah populer. Cerita-cerita tersebut kemudian disederhanakan dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan jumlah kata.

Berikut adalah level-level bacaan yang ada pada buku terbitan Penguin Reader:

1.      Level 0: easystarts (200 kata)
2.      Level 1: Beginner (300 kata)
3.      Level 2: Elementary (600 kata)
4.      Level 3: Pre-Intermediate (1200 kata)
5.      Level 4: Intermediate (1700 kata)
6.      Level 5: Upper Intermediate (2300 kata)
7.      Level 6: Advanced (3000 kata)

Saya mengambil bahan bacaan tersebut untuk kemudian diterjemahkan. Sebagai awalan saya memulai dari tingkatan terbawah, yakni easystarts. Buku pertama yang saya terjemahkan dari level ini berjudul April in Moscow karya Stephen Rabley. Buku cerita ini dilengkapi dengan gambar sehingga memudahkan kita untuk memahami maksud cerita. Di bawah ini adalah hasil terjemahan yang saya lakukan. Mengingat saya adalah seorang pemula, semoga terjemahan ini  bisa dipahami.

***

Judul: April di Moscow

Penulis: Stephen Rabley

April Fox adalah seorang penari. Dia bekerja untuk British Dance Company di Leeds. Pimpinannya  adalah Maria Grant. Pada suatu senin pagi, April datang lebih cepat. Dia bertemu Maria di mesin kopi. “Saya punya beberapa berita baik,” kata Maria. Ada sebuah amplop di tangannya.

“Sungguh? Apa itu?” tanya April.

Maria tersenyum. “Tunggu dan lihat saja,” katanya.

Pada pukul sepuluh para penari sedang menyelesaikan kelas pertamanya. Tiba-tiba, Maria berjalan masuk ke ruangan.“Bisakah saya bicara dengan kalian semua?” katanya.

“Ada apa ini?” tanya teman April, Laura.

“Saya tidak tahu,” jawab April. Musik berhenti.

“Saya mendapatkan surat dari Moscow,” kata Maria. “Orang-orang Rusia menginginkan kita untuk menari di sana bulan depan.”

***

Enam minggu kemudian, April berada di bandar udara Heathrow di London.

“Kamu akan mendapatkan waktu yang menyenangkan,” kata ayahnya.

“Tentu saja dia akan mendapatkannya, George,” kata Nyonya Fox. “Sekarang April, apakah kamu sudah membawa semuanya? Tiket, paspor, uang … ?”

April tersenyum, “Iya, bu.”

Dia pamit kepada kedua orangtuanya. Kemudian dia melihat Laura dan Maria.

“Ayo!” kata Laura. “Waktunya berangkat.”

Di atas pesawat April dan Laura membicarakan tentang Moscow. Keduanya sangat bahagia.

“Saya ingin melihat semuanya,” kata Laura. “Benteng Kremlin, lapangan Merah, Teater Bolshoi …”

“Aku juga,” kata April, “dan saya ingin bertemu banyak orang.”

“Jangan lupa kita ke sana untuk bekerja,” kata Maria sambil tersenyum.

Di Moscow sebuah bus membawa penari itu ke hotel mereka. Kamar hotel April dan Laura berada di lantai dua. Laura  masuk ke kamar dan meletakkan tasnya.

“Bagus! Ada TV, “ katanya dan menyalakan TV tersebut. Seorang lelaki sedang membaca berita. Dia menekan tombol lainnya. Sekarang menampilkan sebuah video klip. “Lihat April,” katanya. “Rock and Roll Rusia.”

Tetapi April tidak mendengar. Dia sedang melihat keluar jendela. “Moscow,” pikirnya. “Saya di Moscow.”

***

Hari berikutnya para penari itu bekerja sangat keras. Tarian mereka untuk festival Green Ocean, adalah tarian baru dan sangat sulit. Mereka mulai pada pukul delapan pagi dan selesai pada pukul enam sore. Kemudian, setelah makan malam, mereka pergi ke Teater Bolshoi.

“Ini indah,” kata April. Laura duduk di sampingnya. “Ini sangat indah,” katanya. Kemudian mereka menyaksikan penari-penari Rusia. Mereka semua tinggi, kuat, dan sangat, sangat cakap.

Hari setelahnya, April dan Laura selesai pada pukul tiga sore. Mereka pergi ke sebuah kafe dan meminum teh Rusia. Kemudian Laura melihat ke peta Moscow miliknya. “Ke mana kamu mau pergi? Museum Pushkin dekat dari sini,” katanya.

“OK, ayo ke sana,” kata April. Kemudian dia melihat orang orang-orang di kafe. “Saya ingin berbicara kepada mereka,” pikirnya. “Tapi bagaimana caranya? Saya tidak bisa bahasa Rusia.”

Di jalan dekat museum ada sebuah pasar kecil. “Oh Laura, lihat,” kata April. Dia melihat beberapa kotak berwarna kuning dan merah di atas sebuah meja. “Kotak-kotak itu cantik.”

“Itu kotak musik,” kata seorang lelaki muda berkacamata.

“Kamu bicara bahasa Inggris!” kata April.

Lelaki itu tesenyum, “Saya mempelajarinya di Universitas.  Teman saya Nikolai dan saya hanya bekerja di sini saat akhir pekan.

April dan Laura berbincang cukup lama dengan mereka. Sasha–lelaki yang berkacamata–berbicara bahasa Inggris cukup baik. Nikolai hanya berbicara sedikit.

Setelah dua puluh menit, Sasha mendapatkan sebuah ide. “Dengar,” katanya. “Kami akan pergi ke pedesaan besok untuk liburan. Beberapa teman kami akan ikut. Apakah kalian ingin ikut? Desa itu tidak terlalu jauh.”

Pagi harinya, Sasha dan Nikolai tiba di hotel para gadis itu menggunakan mobil ayah mereka. Tiga orang ikut bersama mereka–Lara, Igor, dan  Sonya.  Mereka berkendara menuju sebuah danau dekat dari Moscow. Setiap orang tertawa dan mengobrol. Saat berada di danau mereka makan siang. Setelah itu Nikolai memainkan gitar dan bernyanyi lagu-lagu Rusia. April mendengarkannya.

Terdapat sebuah perahu di pinggir danau itu. Sore harinya, April dan Nikolai berkeliling menggunakan perahu tersebut. Nikolai menatap April dan tersenyum. April membalas senyumannya. “Di sini sangat indah,” kata April.

Nikolai menatap matanya. “Ya” katanya. “Indah, dan kamu … juga… indah. Saya …”

“April!” teriak Laura. “Ayo, waktunya pulang!”

***

Kembali ke Moscow.di mana banyak hal yang harus dilakukan. Semua penari bekerja sangat keras dan mereka tidak memiliki waktu kosong. April lelah, juga sedih. Dia ingin bertemu Nikolai lagi.  “Tapi bagaimana?” pikirnya. “Di mana? Kapan? Dia berada di desa dan saya di sini di Moscow.”

Kemudian malam besar British dance Company itu tiba.

“Semoga sukses semuanya,” kata Maria.

Sore berlalu sangat cepat. April hanya memikirkan tentang satu hal–Green Oceans. Tapi kemudian, dua jam setelahnya, musik berhenti. Dia berdiri di bawah cahaya lampu berwarna putih. Laura dan semua penari yang lain berada di sampingnya. Setiap orang yang berada di dalam gedung teater melempar bunga ke atas panggung.

“Saya pikir, mereka menyukai kita,” kata Laura. Nampak senyum pilu di wajah April. “Ya,” katanya. “Saya pikir juga seperti itu.”

Dua puluh empat jam setelahnya, semua penari British berada di bandara Moscow. “Sekarang saya tidak akan pernah bertemu  Nikolai lagi,” pikir April. “Dan saya tidak dapat menulis surat untuknya. Saya tidak tahu alama …”

Kemudian seseorang memanggil namanya. Dia berbalik. Itu Nikolai!

“Pesawat berangkat,” kata Maria Grant.

April  melihat Nikolai. Dia memberinya sebuah bingkisan dan berjalan pergi.

Di atas pesawat, April duduk di samping Laura. Matanya sembab. Dia membuka bingkisan tersebut. “Oh, lihat,” kata Laura. “Itu kotak musik yang ada di pasar waktu itu. Dan ada surat juga. Apa isinya?”

Tetapi April tak mampu berkata sebab sangat bahagia. Dia membaca surat itu.

“Bolehkah saya datang dan bertemu denganmu di Inggris?”

“Oh, Nikolai, ya,” pikirnya. “Ya, kamu bisa!”

Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pa...




Dulunya, Jakarta hanyalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Ciliwung. Ia merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Pajajaran. Meski kecil, Sunda Kelapa dikenal sebagai pelabuhan yang sibuk. Pelabuhan ini menjadi salah satu tempat barter dengan komoditas dagang saat itu, rempah-rempah. Selama berabad-abad, kota ini menjadi pusat perdagangan yang selalu ramai dikunjungi. Tak heran jika sekarang, Jakarta menjelma menjadi daerah dengan kepadatan penduduk yang luar biasa.

Usia Jakarta 491 tahun. Sebagai sebuah kota yang terbilang tidak muda, Jakarta tentunya memiliki segudang cerita. Salah satunya, ia kerap bergonta-ganti nama. Mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta seperti sekarang.


Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia

Sebelum dinamakan Jakarta, kota ini sendiri beberapa kali mengalami perubahan nama. Pertama, saat penaklukan oleh Fatahillah. Pada 22 Juni 1527 M Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah atau Falatehan bersama mertuanya Sjarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati berhasil menduduki Sunda Kelapa.1 Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian dijadikan dasar ulang tahun kota Jakarta.

Selanjutnya, nama Jayakarta kembali berubah saat zaman penjajahan Belanda. Tahun 1619 M, melalui lembaga dagangnya, Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), Belanda berhasil merebut Jayakarta. Belanda mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Di tangan Belanda wilayah Batavia menjadi semakin luas. 2

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Saat pendudukan Jepang ini, nama Batavia kembali diganti menjadi Djakarta.3 Hal ini dilakukan Jepang untuk menarik simpati penduduk Indonesia saat itu. Jakarta kemudian tetap digunakan hingga saat ini dan menjadi nama salah-satu kota metropolitan terbesar di dunia. Pada dasarnya, Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia dan Jakarta adalah  sama namun di bawah kekuasaan yang berbeda.


Jakarta  adalah Kemenangan Paripurna

Jakarta adalah kependekan dari Jayakarta. Ia berasal dari dua kata, jaya dan karta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jaya memiliki arti selalu berhasil, sukses, hebat. Sedangkan karta sendiri memiliki arti makmur, maju, ulung, sedang berkembang, sempurna.4 Bisa dibilang Jayakarta adalah keberhasilan yang ulung. Tapi, menurut Hoesein Djajadiningrat Jayakarta artinya kemenangan yang diraih.5 Melihat pengertian-pengertian itu, tak heran jika Jakarta juga sering disebut sebagai kota kemenangan.

Jayakarta atau Jakarta memang diraih dengan sebuah kemenangan. Seperti yang disebut di atas, Fatahillah melancarkan serangan ke Sunda Kelapa yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Setelah berhasil memukul mundur pasukan Pajajaran dari Sunda kelapa, datanglah bangsa Portugis. Kerajaan Pajajaran sebelumnya telah melakukan kerja sama dengan Portugis. Pasukan Portugis di bawah pimpinan Fransisco de Sa berhasil dipukul mundur oleh pasukan Fatahillah. Setelah ditaklukkan, Fatahillah mengumumkan pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.6

Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan proses penggantian nama tersebut dalam sebuah paragraf di epos Arus Balik.

Di tengah-tengah pasukannya sendiri Fathillah (Fatahillah) mengugumkan: “Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Pengasih, pada hari ini dengan kekuatan yang dilimpahkan-Nya pada kita, kita telah halau Peranggi (Portugis) dari laut. Insya Allah mereka takkan menginjakkan kaki lagi di bumi kita ini. Sebagai peringatan atas peristiwa ini, aku nyatakan bandar ini berganti nama, dan menjadilah Jayakarta. Jaya pada awal dan kemudiannya, karta untuk selama-lamanya.” 7

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku Api Sejarah, Jayakarta yang diucapkan Fatahillah diangkat dari Al-Quran Surah Al-Fath ayat pertama, Inna Fatahna laka Fathan Mubina. Ayat itu memiliki arti sesungguhnya telah datang kepadamu kemenangan yang nyata. Sunda Kelapa yang ditaklukkan Fatahillah merupakan hasil kemenangan umat islam waktu itu. Dengan begitu, Jakarta tak lain dan tak bukan  adalah Jayakarta adalah Fathan Mubina adalah kemenangan yang paripurna.8


 Catatan:
1 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. 159.
6, 7 Lihat, Pramoedya Ananta Toer. 2002. Arus Balik. Hasta Mitra. Yogyakarta. Hlm 639-652.
8 Lihat Ahmad Mansyur Suryanegara, 2013. Api Sejarah. Salamadani. Jakarta. Hlm. Viii.